'Mereka Datang Bawa Banyak Uang', China Bangun Singapura Kecil di Pasifik

'Mereka Datang Bawa Banyak Uang', China Bangun Singapura Kecil di Pasifik

ABC Australia - detikNews
Kamis, 24 Okt 2019 12:54 WIB
Mereka Datang Bawa Banyak Uang, China Bangun Singapura Kecil di Pasifik
Jakarta - Rainbow City tadinya hanya berupa hamparan padang rumput di Pulau Efate, Vanuatu. Tapi kini kawasan itu disebut-sebut sebagai cikal-bakal "Singapura Kecil" di Pasifik.

Rumput perlahan diganti dengan jalanan, tanah pun ditimbun untuk fondasi apartemen, villa dan pusat perbelanjaan.

Sepetak "surga" di Efate, pulau yang juga jadi ibukota Vanuatu ini, nantinya akan berubah menjadi kota kecil bagi orang asing.

Dalam 10 tahun ke depan, bangunan-bangunan baru di lahan seluas 86 hektar itu akan mengerdilkan desa-desa sekitarnya.

Proyek ini didukung investasi swasta dari China, dan sejauh ini tercatat sebagai pembangunan kawasan perumahan terbesar di Vanuatu.

Di tengah kekhawatiran Australia dan Amerika Serikat terhadap pengaruh China di Vanuatu dan Pasifik, investasi seperti Rainbow City ini justru sedang booming di sana.

Warga setempat menganggapnya sebagai sumber kegelisahan dan ketidaknyamanan mengenai masa rumah mereka sendiri.


Singapura kecil di Pasifik

The front gates of Rainbow City. They are big and brown with the words

Pengembang kawasan Rainbow City berharap proyeknya bisa rampung dalam 10 tahun. (ABC News: Melissa Clarke)

Bakoa mengakui proyek tersebut berpotensi mendatangkan investasi dan infrastruktur di sana.

"Orang China datang dengan membawa banyak uang," katanya, tapi dia sendiri tidak melihat bagaimana uang tersebut membantu warga sekitarnya.

"Kondisi kerjanya tidak bagus, mereka sangat menekan kita namun imbalan yang kita terima sangat kecil," katanya.

Warga di sana merasakan perlunya pembangunan, namun pada saat bersamaan juga ingin mempertahankan kendali dan identitas nasionalnya.

Bakoa mengaku resah dengan perubahan yang terjadi di pulaunya itu.

"Saya dengar banyak orang akan terbantu dengan pembangunan. Saya tidak begitu yakin. Sebab ini orang China, mereka punya jalan pikirannya sendiri. Kami tak memahaminya," tutur Bakoa.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini. (ita/ita)



Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini