detikNews
Rabu 16 Oktober 2019, 12:42 WIB

Tentara Australia Tembak Mati Pria Afghanistan dan Anaknya yang Sedang Tidur

ABC Australia - detikNews
Tentara Australia Tembak Mati Pria Afghanistan dan Anaknya yang Sedang Tidur
Canberra -

Pemberitaan ABC News mengenai tindakan pasukan Australia yang membunuh seorang petani Afghanistan dan anaknya di Propinsi Uruzgan kini didukung oleh laporan Komnas HAM negara itu.

Melalui serial pemberitaan bertajuk Afghan Files di tahun 2017, ABC melaporkan bahwa petani bernama Bismillah Jan Azadi dan anaknya Sadiqullah (6 tahun) tewas ditembak oleh pasukan Resimen SAS Australia pada bulan September 2013.

Menurut informasi yang diperoleh ABC, pada saat kejadian, Bismillah dan Sadiqullah sedang tidur di beranda rumah mereka di Ala Balogh, di pinggiran ibukota Uruzgan, Tarin Kot, ketika ada serangan pasukan SAS.

Para prajurit SAS belakangan dibebaskan dari penyelidikan militer, setelah prajurit yang menembak berdalih bahwa Bismillah mengacungkan pistol kepadanya.

Namun Ketua Komnas HAM Afghanistan Shaharzad Akbar menjelaskan bahwa penyelidikan lembaganya telah memastikan Bismillah hanyalah warga sipil yang tidak bersenjata.

ABC digeledah

Serial Afghan Files kini menjadi subyek investigasi Kepolisian Federal Australia (AFP). Bahkan pada Juni lalu, petugas AFP menggeledah kantor redaksi ABC di Sydney dan menyita sejumlah dokumen.

AFP bertindak berdasarkan surat perintah yang menyebut nama jurnalis Dan Oakes, produser Sam Clark dan Direktur Pemberitaan ABC Gaven Morris.

AFP officers sit with the ABC Legal team and an IT Specialist all looking at a laptop.

Petugas Kepolisian Federal Australia (AFP) menggeledah kantor redaksi dan memeriksa surat elektronik jurnalis ABC. (ABC News: Bilal Sarwary)

Seorang saksi yang melihat secara langsung akibat tragis kejadian ini adalah Gubernur Uruzgan saat itu, Amir Muhammed Akhundzada.

Menurut dia, dirinya membuat pengaduan resmi ke pihak Australia tentang serangan mematikan itu.

"Ada operasi Australia yang positif, tapi ada pula yang memiliki kekurangan. Kami sering bertengkar dengan mereka," kata Akhundzada yang ditemui di Kota Kabul.

"Penduduk membawa mayat korban serangan di Ala Balogh itu ke rumah gubernur. Banyak orang. Mereka menangis meraung-raung," jelasnya.

"Saya langsung menelepon komandan yang bertanggung jawab atas serangan itu. Aku menjelaskan situasi menyakitkan itu dan menyampaikan keberatan resmi dari kantor gubernur," ujar Akhundzada.

Sedang diselidiki

Informasi yang diperoleh ABC menyebutkan serangan Pasukan SAS di Desa Ala Balogh di tahun 2013 itu sedang diselidiki oleh pihak Inspektur Jenderal Angkatan Bersenjata Australia.

Penyelidikan yang telah berlangsung sejak Mei 2016 ini dimulai setelah beredar desas-desus dugaan kejahatan perang di kalangan pasukan khusus, didukung hasil penelitian sosiolog Dr Samantha Crompvoets di Canberra.

Asisten Irjen Angkatan Bersenjata Australia Paul Brereton ditunjuk untuk memimpin penyelidikan ini.

Puluhan prajurit yang pernah bertugas di sana telah dimintai keterangan. Awal tahun ini Hakim Brereton bahkan datang ke Afghanistan untuk penyelidikan lebih lanjut.

Pada bulan Juli 2019, ABC mengajukan permintaan dokumen penyelidikan kasus ini berdasar UU Kebebasan Informasi. Dokumen yang diminta mencakup 200 halaman tapi Angkatan Bersenjata menolaknya.

Dalam penolakannya itu disebutkan bahwa membuka dokumen dimaksud dapat merusak keamanan, pertahanan atau hubungan internasional negara ini.

Selain itu, Angkatan Bersenjata berdalih bahwa materi tersebut terdiri atas informasi "taktik, teknik dan prosedur" selama operasi perang.

Juru bicara Angkatan Bersenjata mengatakan tidak tepat jika pihaknya mengomentari insiden di Desa Ala Balogh itu.

Simak berita selengkapnya dalam Bahasa Inggris di sini.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com