detikNews
Kamis 03 Oktober 2019, 11:05 WIB

Hak Hewan di Australia Diperbanyak, Ini Komentar Pemilik Hewan Asal Indonesia

ABC Australia - detikNews
Hak Hewan di Australia Diperbanyak, Ini Komentar Pemilik Hewan Asal Indonesia
Canberra -

Namanya adalah Pearl Jam, atau sering dipanggil 'PJ', seekor kucing berusia 11 tahun di Canberra yang pastinya tak tahu jika kini ia lebih dilindungi hukum.

Pemiliknya adalah Suprapti McLeod, perempuan asal Madiun yang sudah tinggal di Australia selama lebih dari 30 tahun dan mengaku selalu memiliki kucing selama tinggal di Australia.

"Ini sebenarnya adalah kucing tetangga yang pindah ke rumah dalam keadaan menyedihkan," kata Suprapti kepada ABC Indonesia.

Sebagai seorang pencinta binatang, Suprapti langsung menyambut baik perubahahan status hewan peliharaan di Kawasan Ibukota Australia (ACT), yang baru disahkan pekan lalu (26/09/2019).

Lewat undang-undang kesejahteraan hewan, status hukum hewan di Canberra dan sekitarnya sudah diubah, bukan lagi dianggap sebagai "kepemilikan" tapi sebagai makhluk hidup yang memiliki haknya sendiri.

Suprapti bersama kucingnya

Suprapti McLeod mengaku sebagai pencinta binatang dan ia selalu memiliki kucing di rumahnya. (ABC News: Tahlia Roy)

Pemerintah di ACT mengatakan penerapan hukum dari undang-undang kesejahteraan telah melewati pertimbangan yang "beralasan" dan "serius".

Hukuman denda, bahkan penjara, dijatuhkan kepada warga yang tidak bisa memenuhi kesejahteraan hewannya atau tak memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.

Jika kuku kucing atau anjing dibiarkan tidak dipotong, sampai menyebabkan kecacatan, atau membiarkan kulitnya terinfeksi karena kutu, maka pemilik terancam hukuman penjara satu tahun.

Seseorang juga bisa dikenai denda hingga $4.000, atau lebih dari Rp 38 juta, jika membiarkan anjingnya terus-terusan berada di rumah lebih dari seharian dan tidak mengajak jalan-jalan keluar.

Ada pula denda hingga $8.000, atau Rp 76 juta lebih, jika menghalang-halangi seseorang dan anjing pemandu untuk mengakses transportasi umum.

Di Australia, salah satu contoh anjing pemandu bagi manusia adalah anjing yang membantu menunjukkan arah kepada pemiliknya yang tunanetra.

"Denda mungkin terlalu tinggi ya," ujar Suprapti, "tapi bagus untuk diterapkan agar ada efek jeranya."

"Supaya orang tidak memperlakukan hewan-hewan dengan sembarangan."

Suprapti mengaku yang membuat mahal dari memiliki hewan di Australia adalah saat membawanya ke dokter hewan, bahkan "lebih mahal daripada membawa anak sendiri ke dokter."

"Kalau untuk makanan kering kucing, sebulan bisa mencapai $25-$30 [sekitar Rp 238 ribu - Rp 280 ribu lebih]."

Berita-berita lain seputar studi, kerja, dan tinggal di Australia bisa Anda dapatkan di situsABC Indonesiadan bergabunglah bersama komunitas kami diFacebook/ABCIndonesia.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com