detikNews
Selasa 01 Oktober 2019, 09:23 WIB

Seperti Apa Rasanya Bekerja Jadi Penerjemah Bahasa Indonesia di Australia?

ABC Australia - detikNews
Seperti Apa Rasanya Bekerja Jadi Penerjemah Bahasa Indonesia di Australia?
Canberra -

"Awalnya kebetulan, lama-lama menjadi kesibukan", seperti itulah Nitipustoko Subagio alias Tomik mendeskripsikan pekerjaannya sebagai juru bahasa dan penerjemah Bahasa Indonesia dan Inggris di Australia.

Mengenal penerjemah Indonesia di Australia

Pria kelahiran Solo, 87 tahun yang lalu itu tinggal di Australia Selatan bersama dengan istrinya, seorang warga Australia bernama Janet.

Tomik, yang oleh teman-teman Australianya dipanggil "Subi", melihat profesi penerjemah sebagai sesuatu yang spesial.

"Sebagai penerjemah banyak pelajaran dalam bidang perikemanusiaan yang tidak didapati dalam pekerjaan sebagai insinyur," katanya yang pernah menjadi pegawai negeri di Australia Selatan.

"[Saat] menerjemahkan di Pengadilan Keluarga, saya selalu meneteskan air mata."

Tomik adalah satu dari banyaknya penerjemah yang layak mendapat apresiasi di Hari Penerjemahan Internasional, yang diperingati setiap tanggal 30 September.

Peringatan yang ditetapkan oleh PBB dua tahun lalu itu bertujuan untuk merayakan jasa para pekerja di bidang penerjemahan yang selama ini telah membantu bangsa-bangsa di dunia dalam menembus language barrier yang sering jadi penghalang.

Selama 49 tahun, Tomik mengaku sudah banyak menerjemahkan tulisan segala macam dokumen pribadi atau politik antar negara, juga secara lisan di rumah sakit, pengadilan, sekolah, dan arbitrase.

Di tahun '70-an, misalnya, ia sering diminta menerjemahkan untuk kepala negara bagian Australia Selatan (Premier) saat itu, Don Dunstan.

'Tidak banyak bakat penerjemah'

Tomik Subagio

Tomik Subagio sudah menjadi penerjemah sejak tahun 1970 dan dikenal baik dalam komunitas Indonesia di Australia Selatan. (Foto: supplied)

"Dukanya, bayarannya sering tidak memuaskan. Saya rasa ini terjadi di profesi sebagai pekerja lepas mana pun. Perlu waktu untuk membangun reputasi diri kita dan kepercayaan klien," katanya.

"Belum lagi pasar yang semakin kompetitif dan klien yang mencari-cari harga yang semakin murah. Para juru bahasa dan penerjemah semakin terdesak dan terpaksa menurunkan harga."

Namun ia berharap pada serikat pekerja penerjemah di Australia, yang menurutnya saat ini sedang giat melakukan kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat soal industri layanan bahasa.

Generasi muda kurang minat?

Sementara Tomik merasa prihatin melihat minat generasi masa kini terhadap profesi penerjemah, yang menurutnya menurun dibandingkan dulu.

"Sayangnya saya terpaksa mengatakan, tidak banyak harapan bagi penerjemah profesional muda," kata Tomik, lulusan Teknik Mesin dari University of Adelaide di tahun 1962.

"Saya tidak melihat adanya banyak minat, apalagi bakat antara golongan muda."

Sebaliknya, Yoeliana malah melihat adanya minat yang tinggi terhadap dunia penerjemahan dan penafsiran bahasa di kalangan anak muda.

"Saya rasa banyak anak muda yang tertarik. Malah banyak praktisi dan penggiat profesi ini yang lebih muda dari saya."

Sebagai seorang penerjemah muda, ia mengaku mendapatkan banyak pelajaran kehidupan selain pengetahuan teknis dari menerjemahkan.

"Ada pelajaran teknis yang berhubungan dengan teknik penerjemahan dan penjurubahasaan [yang saya dapat] tentunya," kata penyuka masakan Jawa Timur itu.

"Tapi saya lebih ingat pelajaran hidup daripada klien saya."

Berita-berita lain seputar studi, kerja, dan tinggal di Australia bisa Anda dapatkan di situsABC Indonesiadan bergabunglah bersama komunitas kami diFacebook/ABCIndonesia.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com