detikNews
Senin 23 September 2019, 14:05 WIB

Sosok Cheng Ho, Pelaut Muslim yang Jadi Simbol Diplomasi China Modern

ABC Australia - detikNews
Sosok Cheng Ho, Pelaut Muslim yang Jadi Simbol Diplomasi China Modern
Beijing -

Cheng Ho, atau Zheng He dalam bahasa China, adalah seorang Muslim berperawakan tinggi yang pernah berlayar dari China hingga ke pantai Afrika.

KapitalisasiCheng Ho Dalam Diplomasi China
Cheng Ho dan diplomasi China:
  • Cheng Ho telah dipromosikan sebagai simbol kebangkitan China yang penuh kedamaian
  • Armadanya pernah berlayar dari China menyusuri Asia Tenggara, Timur Tengah dan Afrika
  • Sejumlah pihak menolak narasi 'penjelajah yang damai' dan menudingnya agresif

Di saat dunia mengecam pemerintah China atas tindakan mereka terhadap umat Muslim di negaranya, Partai Komunis China justru mengobarkan kembali mitos Cheng Ho, seorang laksamana angkatan laut yang memimpin pelayaran di awal abad ke-15.

Tak heran jika Presiden China, Xi Jinping, terus menerus menyebut sosok Cheng Ho sebagai simbol persahabatan dengan dunia saat ia mempromosikan inisiatif 'One Belt, One Road' dari Asia ke Eropa.

Cheng Ho telah digunakan oleh Presiden Jinping sebagai simbol persahabatan China dengan dunia, khususnya di Asia Tenggara dan kekuasaan China yang damai.

Sosok Cheng Ho diberi julukan sebagai 'Columbus dari China', namanya bahkan menginspirasi sebuah kedai kopi yang trendi di Melbourne, Australia.

Tapi apakah Cheng Ho telah dijadikan simbol agar kita percaya diplomasi China?

Upacara pembukaan Olimpiade Beijing

Upacara pembukaan Olimpiade Beijing 2008 memiliki segmen besar yang didedikasikan untuk pelayaran Cheng Ho. (Wikimedia Commons: Vmenkov)

"Pihak berwenang China telah mengeksploitasi sosok Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim, untuk keuntungan diplomatik dan komersial, di saat yang sama mengisolasi jutaan Muslim di wilayah Xinjiang, adalah puncak kemunafikan dan tidak tahu malu," kata Sharon Hom, direktur eksekutif Hak Asasi Manusia di China kepada ABC.

"Ini juga memaparkan tujuan sebenarnya dari pembangunan kekaisaran dan membentuk negara-negara pengikut di sepanjang rute 'Belt dan Road'."

"Indoktrinasi ideologis Partai Komunis China yang sedang berlangsung di semua sektor dengan 'pemikiran Xi Jinping' dan upaya-upaya untuk membuat agama 'sesuai keinginan China' telah mencederai pengakuan pemerintah China untuk menghormati pluralisme," kata Hom.

Artikel ini telah disunting dari laporan aslinya dalam bahasa Inggris, yang bisa dibaca di sini.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com