detikNews
Selasa 17 September 2019, 15:00 WIB

Belajar dari Cara Australia Atasi Kebakaran Hutan Tanpa Air

ABC Australia - detikNews
Belajar dari Cara Australia Atasi Kebakaran Hutan Tanpa Air
Canberra -

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI hari Senin (16/9/2019) menyatakan kebakaran hutan dan lahan di Australia kemungkinan ikut memicu kejadian serupa di Kalimantan saat ini. Bagaimana Australia mengatasi kebakaran itu dalam kondisi kemarau dan kekurangan air?

  • Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Ruandha Sugardiman menyebut kebakaran di Australia telah memperparah kondisi El Nino di Indonesia
  • Akibat masalah kekeringan dan kekurangan air, membuat petugas di Australia kini memikirkan alternatif untuk mengatasi kebakaran
  • Pakar ekologi Australia menilai kebakaran lahan di Queensland dan NSW karena faktor suhu kering dan kemarau saat ini

Seperti dilaporkan kantor berita Antara, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Ruandha Agung Sugardiman menyebut El Nino di Indonesia dalam kondisi normal, namun adanya kebakaran di Australia telah memperparah kondisi tersebut.

"Ini diperparah dengan adanya kebakaran di Australia yang arah anginnya sekarang itu dari tenggara menuju ke barat laut," kata Dirjen Ruandha kepada pers di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Selain itu, Dirjen Ruandha juga menuding kondisi udara kering dari Malaysia turut berkontribusi.

"Nah udara kering dari Malaysia itu menambah potensi terjadinya kebakaran (hutan di Kalimantan) ini," katanya.

Dia menjelaskan kondisi udara Indonesia yang sedang kering saat ini menyebabkan biomassa menjadi kering sehingga mudah terbakar.

"Yang jadi kendala kita adalah sebagian besar lokasi yang masih mempunyai biomassa tinggi itu berada di areal gambut. Itu yang menyebabkan asapnya semakin tebal," katanya.

"Partikel-partikel dalam asap dari gambut ini cukup mengganggu kesehatan," tambah Dirjen Ruandha.

Sejauh ini, upaya pemadaman telah dilakukan dengan mengandalkan puluhan helikopter untuk menjatuhkan bom air (water bombing).

Militer Indonesia juga turut mengirimkan pesawat Hercules yang ditugaskan menyebarkan garam di udara untuk hujan buatan.

Smog covers trees during a forest fire next to a palm plantation in Palangka Raya.

Asap membumbung tinggi akibat kebakaran hutan persis di dekat lahan sawit di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 14 September 2019. (ABC News: Carla Howarth)

Pakar ekologi Australia Prof David Bowman menilai peristiwa kebakaran lahan di Queensland dan NSW merupakan mimpi buruk karena faktor suhu kering dan kemarau saat ini.

"Kebakaran tak bisa dipadamkan dengan teknologi yang biasanya dipakai karena adanya faktor kekeringan ekstrim," jelasnya.

Teknik pemadaman dengan helikopter dan pesawat water bom yang semakin sering digunakan, menurut Prof Bowman, tidak sustainable dan mahal.

Situasi kebakaran saat ini, katanya, menjadi momentum untuk mengubah pendekatan dalam upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan.

Prof Bowman menambahkan, lahan untuk hunian penduduk serta cara membangun rumah kini sudah perlu ditinjau kembali.

"Lanskap tempat tinggal kita semakin berbahaya dengan datangnya perubahan iklim," jelasnya.

"Para petugas pemadam telah menyaksikan perilaku api yang di luar bayangan mereka. Dan ini tak hanya terjadi di Australia," kata Prof Bowman lagi.

"Inilah wujud perubahan iklim itu dan kita perlu memahami apa yang sedang terjadi," paparnya.

Simak berita lainnya dari ABC Indonesia.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com