detikNews
Selasa 17 September 2019, 12:59 WIB

Studi Terbaru Ungkap Kapasitas Reproduksi Pria Punya Jam Biologis

ABC Australia - detikNews
Studi Terbaru Ungkap Kapasitas Reproduksi Pria Punya Jam Biologis
Melbourne -

Kapasitas reproduksi pria ternyata dipengaruhi oleh usia. Kini, beberapa dokter untuk program bayi tabung atau IVF menyarankan agar pada batas usia tertentu, para pria mempertimbangkan untuk membekukan sperma mereka, sama seperti para perempuan yang membekukan sel telur mereka.

Poin UtamaIVF
  • Studi baru mengonfirmasi adanya penurunan kesuburan terkait usia yang terjadi pada pria
  • Beberapa peneliti kesuburan mengatakan pria bisa mempertimbangkan membekukan sperma mereka jika mereka belum memiliki anak ketika mereka muda
  • Pakar lain di bidang ini mengatakan ilmuwan harus fokus pada bagaimana membuat laki-laki dan perempuan memiliki anak lebih awal

Pada konferensi Komunitas Kesuburan Australia hari Senin (16/9/2019), peneliti bernama Franca Agresta dari Melbourne IVF mempresentasikan temuan baru yang menyoroti penurunan kesuburan pria terkait dengan usia.

"Ada efek penuaan yang harus diwaspadai pria," katanya.

"Tidak mengherankan mengingat sebagian besar proses biologis dipengaruhi oleh penuaan."

Studi ini melihat keberhasilan pasangan IVF di mana sang pria berusia di bawah 40 tahun (dengan usia rata-rata 33) atau di atas 40 tahun (dengan usia rata-rata 44).

Setelah menganalisis lebih dari 1.400 siklus transfer embrio tunggal selama lima tahun, para peneliti menemukan bahwa ketika pria berusia di bawah 40 tahun, sperma mereka bisa mengarah pada setidaknya kehamilan awal dalam 39 persen kasus.

Untuk pria di atas 40 tahun, menurut penelitian -yang juga melibatkan Rumah Sakit Royal Women dan University of Melbourne -itu, angka ini turun menjadi 26 persen.

Agresta mengatakan penelitian itu mengesampingkan faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi kesuburan pria, seperti sperma yang jelas-jelas berkualitas rendah. Hal lain yang tak diperhitungkan dari penelitian ini adalah pasangan yang menggunakan injeksi sperma intracytoplasmic, bentuk khusus IVF yang bertujuan untuk mengobati kasus infertilitas pria yang parah.

Untuk mengontrol setiap kontribusi perempuan terhadap infertilitas, para peneliti membatasi pasangan yang berpartisipasi. Mereka adalah pasangan yang telah melakukan tidak lebih dari dua siklus IVF, dan pihak perempuan berusia di bawah 35 tahun.

Agresta mengatakan penelitian sebelumnya cenderung dikacaukan oleh salah satu dari faktor-faktor ini.

"Kami berusaha menjaga populasi sebersih mungkin sebanyak yang kami bisa, hanya untuk melihat efek usia ayah."

Masalah terkait usia pada sperma usia bisa sulit untuk dideteksi.

Masalah terkait usia pada sperma usia bisa sulit untuk dideteksi. (Getty: Science Photo Library)

Profesor Hart mengatakan, hal yang seringkali diabaikan bahwa ketika pasangan menunda memiliki keluarga, pasangan pria biasanya terlibat dalam keputusan itu.

"Kami cenderung fokus pada perempuan, yang ternyata tak benar," katanya.

"Perempuan selalu dibilang mereka menunda melahirkan anak, tetapi pria juga."

"Jadi segala sesuatu yang meningkatkan kesadaran publik tentang fakta bahwa menunda melahirkan anak adalah tidak baik, adalah penting."

Profesor McLachlan setuju.

"Lebih baik untuk mencoba dan merencanakan untuk melakukan hal-hal secara alami - itu jauh lebih murah dan jauh lebih menyenangkan daripada reproduksi yang dibantu menggunakan sperma beku," katanya.

"Saya berharap kita bisa menemukan cara di tengah masyarakat untuk mengedepankan konsepsi ketika secara biologis lebih mudah dan tidak terlalu banyak intervensi. Agak menyedihkan kita harus sampai pada hal ini."

Simak informasi terkait komunitas Indonesia di Australia lainnya hanya diABC Indonesiadan bergabunglah dengankomunitas kami di Facebook.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com