detikNews
Kamis 12 September 2019, 12:34 WIB

Obituari: Wafatnya Sang Pejuang Demokrasi Bacharuddin Jusuf Habibie

ABC Australia - detikNews
Obituari: Wafatnya Sang Pejuang Demokrasi Bacharuddin Jusuf Habibie
Jakarta -

Bacharuddin Jusuf Habibie atau B.J. Habibie, Presiden Indonesia Ke-3, menghembuskan nafas terakhir pada hari Rabu, 11 September 2019, di usianya yang ke-83 tahun. Habibie adalah sosok pemimpin yang mengawal demokratisasi Indonesia di era transisi dua dekade lalu.

Habibie meninggal dunia sekitar pukul 18.05 Waktu Indonesia Barat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta.

Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai teknokrat berotak jenius. Tak hanya mengharumkan nama bangsanya di dunia internasional, ia juga merintis industri dirgantara Indonesia.

Sosok Habibie muncul di tampuk kepemimpinan Indonesia tatkala negeri ini dilanda reformasi besar-besaran. Ia adalah pemimpin era transisi yang menggawangi demokratisasi negara kepulauan berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ini.

"Saya kira salah satu peran penting Habibie itu adalah dalam memfasilitasi transisi demokrasi pasca Soeharto," kata Syamsuddin Haris, pengamat politik senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kepada ABC.

Syamsuddin mengenang figur Habibie sebagai sosok pemimpin yang berbuat banyak dalam waktu singkat.

"Selama beliau menjadi Presiden dalam jangka waktu yang pendek itu sampai Oktober 1999, itu banyak hal yang sebetulnya dilakukan."

"Misalnya mencabut Undang-Undang Politik yang membatasi partai politik, yang membatasi kebebasan berserikat, kemudian juga me-launching Undang-Undang Desentralisasi dan membebaskan tahanan politik, banyak hal-lah," jelas doktor lulusan Universitas Indonesia, Jakarta, ini.

Syamsuddin mengatakan Habibie layak disebut sebagai Bapak demokrasi Indonesia.

"Sebab bagaimanapun, Habibie kan memfasilitasi (demokrasi) itu ya, dalam pengertian transisi itu berlangsung relatif kondusif."

"Walaupun ada berbagai kerusuhan sosial di daerah setelah itu," paparnya ketika dihubungi melalui sambungan telepon.

Presiden BJ Habibie

Almarhum BJ Habibie dilantik menjadi Presiden RI ke-3 pada 21 Mei 1998 ditengah gejolak reformasi dan menjabat hingga 20 Oktober 1999. (Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Sang Presiden mengenang almarhum pendahulunya sebagai sosok yang sangat peduli terhadap bangsa.

"Setiap persoalan-persoalan yang ada di negara kita, baik yang berkaitan dengan persoalan ekonomi atau persoalan kebangsaan, beliau selalu langsung menyampaikan solusinya, jalan keluarnya. Kadang sering beliau datang ke Istana ataupun saya yang datang ke rumah Pak B.J. Habibie. Saya kira beliau adalah seorang negarawan yang patut kita jadikan contoh dan suri teladan dalam berkehidupan," sebut Jokowi usai melayat.

Sebelum wafat, B.J. Habibie dirawat di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta sejak 1 September 2019 lalu karena kondisi kesehatannya yang menurun.

Dalam keterangan persnya, anak bungsu almarhum, Thareq Kemal Habibie mengatakan ayahnya meninggal dunia karena faktor usia yang sudah lanjut dan memicu kegagalan fungsi organ tubuhnya.

"Alasan kenapa meninggal adalah karena sudah menua dan memakan usia. Kemarin saya katakan bahwa gagal jantung yang mengakibatkan penurunan itu, kalau memang organ-organ itu degenerasi melemah, menjadi tidak kuat lagi," jelas Thareq.

"Maka, tadi jam 18 lebih lima, jantungnya dengan sendiri menyerah. Sampai titik terakhir saya masih ada di situ. Hari ini 11 September 2019 jam 18 lebih lima, Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie, sudah meninggal," sambungnya.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Pratikno, mengatakan pemerintah menetapkan hari berkabung nasional atas meninggalnya mantan Presiden Habibie.

Masyarakat Indonesia di dalam dan di luar negeri diimbau mengibarkan bendera setengah tiang selama 3 hari.

"Kita akan menetapkan berkabung nasional selama tiga hari, jadi nanti sampai 14 September, kami imbau masyarakat dan kantor lembaga negara, lembaga pemerintah dalam dan luar negeri mengibarkan bendera setengah tiang," ujarnya.

Jenazah BJ Habibie akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, di samping makam isterinya, Hasri Ainun Besari.

Simak informasi terkait komunitas Indonesia di Australia lainnya hanya diABC Indonesiadan bergabunglah dengankomunitas kami di Facebook.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com