detikNews
Rabu 04 September 2019, 14:36 WIB

Cendikiawan Suryaatmadja dari Indonesia Jadi Mahasiswa Termuda di Kanada

ABC Australia - detikNews
Cendikiawan Suryaatmadja dari Indonesia Jadi Mahasiswa Termuda di Kanada
Ottawa -

Nama adalah doa. Ungkapan ini agaknya dihayati betul oleh orang tua Cendikiawan Suryaatmadja, remaja Indonesia yang mulai berkuliah di Kanada sejak umur 12 tahun.

Diki, panggilan akrab Cendikiawan, tak hanya cemerlang. Ia juga terampil membawa diri di lingkungan barunya yang sebagian besar dipenuhi rekan non-sebaya.

Sejak tiga tahun lalu, Diki resmi menyandang status mahasiswa jurusan Fisika di University of Waterloo Kanada.

University of Waterloo menurut peringkat terbaru merupakan universitas ketujuh terbaik di Kanada, dan peringkat dunianya adalah 173.

Diki adalah yang termuda di antara rekan-rekan sebayanya di kampus.

Hebatnya, menjadi yang termuda di kelas bukanlah hal baru bagi remaja 15 tahun ini.

Guna mengetahui keberadaan dan aktivitas Diki selama tiga tahun terakhir di Kanada, ABC Indonesia menghubungi Diki lewat email.

Dalam percakapan email dalam bahasa Inggris, Diki menceritakan kepada ABC bahwa sejak ia duduk di bangku sekolah dasar (SD), ia telah terbiasa lompat kelas dan hanya menghabiskan 6 tahun untuk menyelesaikan jenjang SD sampai SMA (sekolah menengah atas).

"Aku mulai lompat kelas ketika masih di SD. Aku cuma belajar 3 tahun di SD, 1 tahun di SMP, dan dua tahun SMA," tulisnya dari Kanada, yang berbeda waktu 11 jam di belakang Jakarta dalam percakapan dengan wartawan ABC Indonesia Nurina Savitri.

Ketika ia menginjak usia 9 tahun, Universitas Surya di Tangerang, Banten, menawarinya peluang untuk diajarkan fisika dengan level perguruan tinggi.

"Syaratnya aku harus belajar kalkulus dasar, kalkulus yang diajarkan di tahun pertama kuliah, dalam waktu dua bulan saja."

"Padahal aku enggak pernah belajar kalkulus sebelumnya. Jadi lumayan kerja keras waktu itu."

"Tapi akhirnya berhasil juga," ungkap remaja asal Jawa Barat ini.

Diki bersama Konsul Jenderal RI di Toronto, Leonard Hutabarat.

Diki bersama Konsul Jenderal RI di Toronto, Leonard Hutabarat. (Facebook; CendikiawanSuryaatmadja)

Ia juga mengaku tak ambil pusing dengan beberapa teman kuliah, yang menurutnya, memperlakukan dirinya dengan sedikit berbeda.

"Ya aku sadar kebanyakan mahasiswa enggak sering bergaul dengan anak 15 tahun."

"Tapi orang-orang di lingkaran pertemananku memperlakukanku layaknya mereka memperlakukan yang lain," ujar remaja yang berprinsip 'kebahagiaan harus diupayakan' ini.

Uniknya, mahasiswa muda ini mengatakan ia, kini, lebih banyak memiliki teman dibanding ketika masih bersekolah di Indonesia.

Ketika ditanya tentang rencana selepas kuliah sarjana, Diki menjawab ia berkeinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang master dan doktoral.

Diki mengatakan dia bertekeda untuk mempermudah hidup manusia dengan menggunakan fisika. Ia juga ingin membangun perusahaannya sendiri di kemudian hari.

Sukses melanglang buana, Diki tetap ingin kembali ke Indonesia. Ia berkeinginan agar lebih banyak pelajar Indonesia dihargai atas bakat dan usaha mereka.

"Karena aku yakin ada banyak pelajar yang luar biasa hebat di sana yang kesulitan, baik secara keuangan atau sistem, yang sebenarnya bisa berprestasi lebih tinggi kalau mereka menerima dukungan dari lingkungan atau pemerintah," katanya kepada ABC.

Simak informasi terkini lainnya dari Indonesia dan dunia diABC Indonesiadan bergabunglah dengankomunitas kami di Facebook.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com