detikNews
Senin 12 Agustus 2019, 14:36 WIB

Dalam Sebulan 8 Ribu Senjata Diserahkan Kembali di Selandia Baru

ABC Australia - detikNews
Dalam Sebulan 8 Ribu Senjata Diserahkan Kembali di Selandia Baru
Christchurch -

Dalam masa sebulan terakhir, ribuan senjata api telah diserahkan kembali ke pemerintah Selandia Baru untuk dimusnahkan menyusul pembantaian di Christchurch.

Pengembalian Senjata di Selandia Baru
  • Sekitar delapan ribu senjata sudah dikembalikan di Selandia Baru
  • Selandia Baru melarang beberapa jenis senjata setelah kasus di Christchurch
  • Sekitar $17 juta kompensasi sudah diberikan kepada pemilik senjata

Dalam peristiwa penyerangan terhadap dua mesjid tersebut di bulan Maret, 51 orang tewas, dan 49 luka-luka ketika seorang pria bersenjata melepaskan tembakan dengan senjata semi otomatis.

Setelah kejadian itu, Parlemen Selandia Baru kemudian meloloskan UU Kepemilikan Senjata yang lebih ketat, termasuk pelarangan penggunaan senjata semi otomatis dan juga pembelian kembali senjata.

Sebulan lalu, lokasi pengumpulan senjata yang dilakukan terbuka untuk publik dilakukan di Christchurch hanya beberapa kilometer dari lokasi kejadian.

Lebih dari 70 pengumpulan sudah dilakukan di seluruh negeri tersebut.

A New Zealand police officer holds an assault rifle in front of parliamentarians.
Senjata seperti ini yang digunakan dalam pembantaian di dua mesjid di Christchurch bulan Maret lalu. (AP: Nick Perry)

Polisi Selandia Baru mengatakan kepada ABC bahwa dalam program pengembalian senjata dalam satu bulan terakhir, lebih dari 8 ribu senjata dan 33 ribu bagian dari senjata dikembalikan.

Atas pengembalian itu sekitar $NZD 17 juta (sekitar Rp 17 miliar) sudah dibayarkan.

Wakil Kepala Polisi Selandia Baru Mike Clement mengatakan dia puas dengan perkembangan sejauh ini.

"Kami memperkirakan, berdasarkan apa yang sudah terjadi dalam program yang sama di Australia di tahun 1990-an, akan terlihat adanya pengembalian besar di awal, kemudian menurun di tengah dan peningkatan lagi di bagian akhir." kata Clement.

"Pada awalnya, banyak orang tidak senang dan tidak melihat perlunya hukum diubah." katanya.

"Tetapi saya kira orang menyambut keputusan ini dan inilah arah yang sedang dituju oleh Selandia Baru."

Pemilik senjata mengatakan perlu untuk mencari nafkah

Pihak berwenang di Selandia Baru berharap skema ini sama suksesnya seperti yang pernah dilakukan di Australia menyusul peristiwa pembunuhan massal di Port Arthur 23 tahun lalu dimana kemudian sekitar 700 ribu senjata dikembalikan dan dihancurkan.

Total kompensasi keseluruhan adalah sekitar $NZD 207 juta.

Menjelang pengembalian pertama di Christchurch bulan lalu, Nicole McKee dari Dewan Pemilik Senjata Berlisensi (COLFO) mengatakan kepada ABC bahwa para pemilik senjata yang sah ini tidak diajak berkonsultasi mengenai perubahan hukum.

"Ada 250 ribu anggota kami di Selandia Baru, dan kalau ditambah dengan anggota keluarga mereka jumlahnya bisa mencapai 1 juta, jadi kami wajib didengarkan." kata McKee bulan Juli lalu.

"Kami kebanyakan tinggal di daerah pedesaan dan menggunakan senjata untuk mengusir hama dan banyak yang perlu menggunakan senjata untuk mencari nafkah."

COLFO sudah meluncurkan program pendanaan publik yang akan digunakan untuk mencari bantuan hukum dan akan membawa kasus ke pengadilan bila mereka tetap tidak diajak berkonsultasi.

"Kami tidak puas dengan tawaran kompensasi dari pemerintah. Tidak adil dan tidak masuk akal," kata McKee kepada ABC.

Masa pengembalian senjata ini masih lima bulan lagi, dimana mereka yang mengembalikan tidak akan dijatuhi hukuman selama masa tersebut.

Setelah masa pengampunan berakhir, kepemilikan senjata terlarang bisa dikenai hukuman maksimal lima tahun penjara.

Seluruh senjata yang dikembalikan ini akan dimusnahkan.

External Link: Why Australian gun laws can't work in the United States

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed