detikNews
Jumat 28 Juni 2019, 12:17 WIB

Warga Kelahiran Indonesia Didatangi Polisi karena Kenakan Rompi Pemberat di Australia

ABC Australia - detikNews
Warga Kelahiran Indonesia Didatangi Polisi karena Kenakan Rompi Pemberat di Australia
Canberra -

Berhati-hatilah mengenakan pakaian yang bisa dianggap atau dicurigai bisa membahayakan orang lain.

Dicurigai Polisi Sedang Latihan
  • Setio Shanahan sedang berlatih olahraga di taman mengenakan rompi pemberat
  • Seorang warga melaporkan pria kelahiran Indonesia ini ke polisi
  • Polisi mengatakan warga pelapor sudah benar dengan memberitahu polisi atas tindakan yang dilihatnya mencurigakan

Seorang pria kelahiran Indonesia Setio Shanahan yang tinggal di Mount Gambier di negara bagian Australia Selatan sempat didatangi oleh polisi yang menindaklanjuti adanya laporan dari publik karena tindakan Setio yang dianggap mencurigakan.

Ternyata dalam usaha mengurangi berat badan, Setio sedang berlatih di sebuah taman Railways Lands pada hari Minggu pagi itu, mengenakan rompi dengan pemberat besi di seberat 50 kg.

Setelah berbicara dengan Setio, polisi menyimpulkan bahwa Setio tidaklah berniat berbuat jahat.

Namun polisi juga mengatakan bahwa publik memiliki hak untuk melaporkan hal-hal yang mereka anggap mencurigakan.

Dalam tanggapannya mengenai kejadian tersebut Setio mengatakan pelajaran yang didapatnya yaitu, "Janganlah menjadi warga kulit berwarna (di Australia) dan gunakan rompi pemberat itu ketika di dalam gym saja".

"Jadi polisi mendapat laporan karena adanya seorang warga kulit berwarna yang mengenakan rompi berisi bom ketika menggunakan HP. Pagi yang menarik," kata Shanahan di akun Facebooknya.

Superintendent Phil Hoff dari kepolisian setempat di Mount Gambier mengatakan publik berhak melaporkan "tindakan mencurigakan" sehingga petugas bisa melakukan pengecekan untuk memastikan tidak adanya ancaman terorisme.

"Polisi ingin memberi kepastian kepada warga Mount Gambier bahwa mereka tinggal di kota yang sangat aman, namun tidaklah berarti kita terbebas sepenuhnya dari ancaman terorisme," kata Superintendent Hoff.

Rail sculpture art in Mount Gambier
Setio Shanahan sedang latihan olahraga di tempat ini ketika didatangi oleh polisi. (ABC South East SA: Kate Hill)

"Coba saja perhatian kejadian serangan baru-baru ini di Christchurch (Selandia Baru), yang juga merupakan kawasan yang sangat aman."

"Warga diminta untuk waspada namun tidak curiga berlebihan."

"Kami ingin agar publik waspada dan melaporkan tindakan yang mencurigakan kepada polisi atau nomor telepon laporan darurat."

Diadopsi dari Indonesia

Setio Shanahan dilahirkan di Indonesia, dan diadopsi oleh sebuah keluarga di Mount Gambier ketika masih anak-anak 36 tahun lalu.

Mount Gambier adalah sebuah kota di dekat perbatasan antara Australia Selatan dan Victoria, berjarak 433 km dari ibukota Australia Selatan, Adelaide.

Ibu angkatnya Jan Shanahan mengatakan bahwa alasan adanya laporan ke polisi itu adalah sikap rasis.

"Kalau orangnya bukan warga 'kulit berwarna' apakah reaksinya sama? Ini seperti seseorang mengatakan 'saya tidak rasis tapi...'," tulisnya Jan di Facebook.

Setio akan ke Indonesia dalam waktu dekat, guna bertemu dengan keluarga kandungnya untuk pertama kali sejak dia diadopsi, setelah dia berhasil melacak siapa ayah kandungnya.

Apa yang dialami oleh Setio juga mirip dengan kejadian di stasiun kereta di Melbourne beberapa pekan lalu ketika seorang pengamen musik dicurigai membawa senjata.

Polisi mengatakan pengamen tersebut yang membawa alat musiknya dalam sebuah tas besar dan sedang berlatih pernapasan di dalam kereta.

Namun seorang penumpang lain merasa curiga dan kemudian melaporkan polisi menduga bahwa tas milik pengamen tersebut adalah tas senjata laras panjang.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed