detikNews
Selasa 04 Juni 2019, 16:50 WIB

Mahasiswa Indonesia di Melbourne Jadi Korban Perampokan

ABC Australia - detikNews
Mahasiswa Indonesia di Melbourne Jadi Korban Perampokan Ilustrasi orang menggunakan gawai
Jakarta -

Selama bulan Mei, sejumlah mahasiswa internasional di Melbourne yang rata-rata berasal dari China mengalami perampokan.

Perampokan terhadap mahasiswa internasional
  • Polisi menerima laporan kejadian perampokan mahasiswa internasional berturut-turut selama dua minggu
  • Penggunaan perangkat elektronik ketika berjalan sendiri di malam hari menjadi faktor penunjang terjadinya perampokan
  • Polisi menghimbau pejalan kaki untuk berhati-hati dan melapor bila pernah mengalami kejadian tersebut

Tapi benarkah hal ini karena faktor ras ataukah karena banyak pejalan kaki sekarang kadang kurang berhati-hati dengan gadget mereka?

Kepolisian Victoria memperingatkan masyarakat, khususnya yang tinggal di Melbourne, untuk lebih berhati-hati ketika berjalan sendiri di sore dan malam hari.

Peringatan ini polisi keluarkan setelah menerima laporan sejumlah peristiwa yang menimpa pejalan kaki di area Clayton, 25 km dari pusat kota Melbourne, sejak 18 hari lalu.

Polisi sebelumnya mengatakan ada 13 insiden yang terjadi selama 18 hari dengan korban mulai dari usia 19 sampai 55 tahun.

Polisi sudah menangkap beberapa pelaku dan sejauh ini dilaporkan tidak adanya insiden baru.

Detective Senior Sergeant Sean Audley yang sedang menangani kasus ini mengatakan rata-rata korban memang berasal dari Asia.

"Kebanyakan korbannya adalah orang Asia, beberapa adalah mahasiswa dan beberapa di antaranya bukan mahasiswa."

Ia menekankan bahwa peristiwa yang menimpa banyak mahasiswa dari China ini tidak ada kaitannya dengan ras, melainkan populasi mayoritas dari daerah rawan tersebut.

"Demografi area Clayton membuka banyak kesempatan bagi para pelanggar untuk melakukan tindakan kriminal ini," ungkap polisi dari kantor polisi Box Hill yang menangani berbagai kasus tersebut.

"Namun kita tidak bisa menyalahkan korban. Kita seharusnya menargetkan pelanggar serta pelanggaran yang mereka lakukan.

Sean Audley mengatakan bahwa penggunaan perangkat elektronik ketika sedang berjalan di tengah kegelapan turut berpengaruh terhadap kemungkinan dirampoknya seseorang.

"Kami menemukan bahwa perangkat elektronik menjadi target perampokan," kata Sersan Senior Sean Audley kepada ABC Indonesia.

"Ketika orang yang sedang berjalan memainkan telepon genggam, cahaya dari perangkat tersebut akan menerangi orang yang bersangkutan sehingga dapat terlihat jelas oleh penjahat."

Kejadian seperti ini menurutnya bukanlah direncanakan, melainkan dilakukan karena ada kesempatan.

"Menurut kami kejadian ini adalah kejahatan oportunistik (karena adanya peluang) dan kami tidak menyalahkan korban karena mereka punya hak untuk selalu merasa aman."

Peringatan di salah satu jalan di sekitar kampus Monash University Clayton memperingatkan agar berhati-hati di jalan yang gelap Peringatan di salah satu jalan di sekitar kampusMonash University Clayton memperingatkan agar berhati-hati di jalan yang gelap

Foto: Herald Sun

Mahasiswa Indonesia juga jadi korban

Kejadian malang ini juga turut menimpa seorang mahasiswa internasional dari Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di University of Melbourne yang berlokasi di Carlton.

Mahasiswa tersebut menulis komentar di Facebook tentang pengalaman menjadi korban rampok dan kekerasan dari tiga orang pria di daerah yang berjarak 2 kilometer dari pusat kota itu dua minggu lalu.

"Mereka tidak mengancam atau menodong tapi langsung memukul dan menendang sembari satu orang memegangi saya, dua lagi memukul dan mengambil HP dan tas saya," tulisnya dalam grup komunitas Indonesia di Melbourne.

Perampokan yang terjadi pukul 00.30 tersebut berhenti setelah seorang warga keluar dari rumah di kawasan itu karena mendengar teriakan minta tolong dari mahasiswa itu.

Ia berharap agar orang-orang dapat belajar dari pengalamannya dan selalu berhati-hati ketika berpergian kapan pun dan di mana pun.

"Kalau kata Bang Napi, 'Kejahatan tidak hanya timbul karena ada niat, tapi karena ada kesempatan. Maka waspadalah,'" tulisnya di kolom komentar posting di Facebook.

"Semoga kita semua senantiasa dijauhi dari musibah dan diselamatkan dari bahaya."

Hati-hati bawa perangkat elektronik

Detektif Senior Sergeant Sean Audley menghimbau masyarakat untuk tidak memegang perangkat elektronik berharga ketika sedang berjalan sendiri di tempat sepi.

"Tipsnya adalah untuk berjalan di daerah yang cukup pencahayaan ditemani orang dan tidak memegang perangkat elektronik selagi berjalan."

Polisi tersebut juga mengajak masyarakat untuk melaporkan tindakan kriminal demi kelancaran proses penyelidikan.

"Kami mendorong masyarakat untuk melaporkan tindak kriminal kepada kami untuk membantu tim intelijen polisi menyelesaikan masalah yang ada."

Ia pun mengajak pejalan kaki untuk mengunduh aplikasi keselamatan yang tersedia di perangkat iOS dan Android.

Aplikasi ini memudahkan para pejalan kaki untuk menghubungi dan mengirim lokasi kepada pihak keamanan setempat.

"Apapun cara yang dapat meningkatkan keamanan pejalan kaki kami dukung untuk dilakukan."

Simak berita-berita ABC Indonesia lainya di sini




(haf/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed