detikNews
Kamis 30 Mei 2019, 18:13 WIB

Wisatawan Berlomba Manfaatkan Kesempatan Terakhir Mendaki Uluru

ABC Australia - detikNews
Wisatawan Berlomba Manfaatkan Kesempatan Terakhir Mendaki Uluru
Darwin -

Situs gunung batu ikonik di tengah Benua Australia, Uluru, akan ditutup untuk pendakian mulai Oktober mendatang. Kini para wisatawan berlomba memanfaatkan kesempatan terakhir.

Sebelum Uluru ditutup:
  • Seorang turis Australia berusia 64 tahun mengalami serangan jantung saat mendaki Uluru
  • Terjadi lonjakan arus wisatawan ke Australia Tengah menjelang larangan pendakian yang mulai diberlakukan Oktober mendatang
  • Pengusaha lokal belum tahu apakah penutupan pendakian ini akan mempengaruhi bisnis mereka

Sejumlah pengunjung tampak memaksakan diri sehingga membahayakan dirinya sendiri. Seorang pria bahkan nyaris meninggal dunia karena serangan jantung ketika mendaki gunung batu berwarna merah tersebut, Selasa (28/5/2019).

Dua polisi yang sedang tak bertugas segera melakukan bantuan pernafasan buatan (CPR) dan sempat melakukan tindakan dengan mesin defibrillator milik salah satu perusahaan wisata.

Pria tersebut berhasil diturunkan dengan selamat dari puncak Uluru dengan tali setelah mendapat pertolongan medis dari wisatawan yang kebetulan berprofesi sebagai paramedis dari Tasmania, Aimee dan Chris O'Shea.

"Ini hari keberuntungan pria ini. Ada dua polisi yang melakukan CPR dan terlatih melakukan penyelamatan vertikal," kata O'Shea.

Insiden terbaru di atas batu Uluru itu terjadi ketika para wisatawan berbondong-bondong ke sana sebelum larangan pendakian diberlakukan, kata Steven Schwer, CEO Tourism Central Australia.

Menurutnya mayoritas pengunjung adalah wisatawan domestik yang berlibur dengan menggunakan kendaraan sendiri, serta turis-turis asal Jepang.

"Salah satu hal alasan meningkatnya jumlah wisatawan asing ke Australia adalah kurs dolar Australia pada saat ini jauh lebih rendah daripada sebelumnya," kata Schwer.

"Begitu kurs Australia turun hingga 72 sen terhadap dollar AS dan terus berlanjut, terjadi peningkatan kunjungan wisatawan internasional."

Lonjakan turis ke Uluru yang disebut juga Red Centre ini diakui Lindy Severin, pemilik penginapan Roadhouse Curtin Springs, 100 km dari lokasi.

Ia mengaku menerima ratusan booking-an sebelum pendakian di sana ditutup untuk selamanya mulai Oktober mendatang.

"Kami mencarikan tempat bagi pengunjung di area perkemahan dan akomodasi, tapi semakin mendekati penutupan sudah tidak ada lagi tempat tersisa sejak pertengahan Juni," katanya.

Dia mengatakan semua orang yang menghubungi hotelnya datang untuk mendaki Uluru.

"Itulah satu-satunya alasan mereka berkunjung saat ini, memberi anak-anak mereka kesempatan, seperti yang mungkin pernah dilakukan orangtuanya ketika mereka masih muda," jelasnya.

Upacara adat digelar di Uluru
Menjelang ditutupnya pendakian ke puncak Uluru untuk selamanya, jumlah turis ke sana justru melonjak. (AAP: Dan Peled)

Bukan taman bermain

Namun Steven Schewer mengingatkan pelaku usaha wisata setempat tidak memanfaatkan situasi ini. Sebaliknya banyak dari mereka justru mendorong pengunjung untuk tidak mendaki Uluru.

"Ada sejumlah alasan untuk itu. Salah satunya yaitu keselamatan. Juga soal lingkungan dan signifikansi budaya dari batu itu bagi suku Anangu," ujar Schwer.

Pendakian ke atas puncak Uluru telah lama menjadi isu kontroversial. Tahun lalu seorang turis Jepang berusia 76 tahun tewas di atas sana, menyusul 36 orang lainnya yang tewas sebelumnya.

Seorang warga suku setempat, Sammy Wilson, mengatakan masyarakat Anangu menyambut baik penutupan pendakian ini.

"Batu itu tempat sangat penting bagi kami. Tapi orang melihatnya seperti Disneyland," katanya.

Uluru diterangi bulan purnama
Penutupan jalur pendakian ke puncak Uluru dilakukan dengan pertimbangan budaya, lingkungan dan keamanan. (ABC News: Neda Vanovac)


Pendapat senada diungkapkan warga suku Namatjira, Chansey Paech. Ia meyakini menutup pendakian Uluru tidak akan menurunkan kunjungan turis, lantaran bisnis di kawasan itu sudah terdiversifikasi.

"Ada banyak hal yang bisa dilihat dan alami di Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta selain hanya mendaki," katanya.

"Uluru itu tempat sangat penting bagi budaya dan spiritual masyarakat Anangu. Ini bukan taman bermain," kata Paech.

"Kita perlu memperlakukan Uluru dengan rasa hormat seperti kita memperlakukan tempat-tempat spiritual dan suci lainnya."

Park Australia yang mengelola taman di kawasan Uluru menjelaskan jumlah pengunjung ke sana terus meningkat selama enam tahun terakhir. Sepanjang 2018 jumlah kunjungan meningkat 22 persen.

Pelarangan mendaki batu Uluru dikeluarkan oleh Dewan Uluru-Kata Tjuta National Park yang mengelola kawasan itu pada pertengahan November 2017.

Larangan ini mengakhiri pendakian gunung batu Uluru oleh turis yang mulai dibuka sejak 1990-an.

Larangan pendakian akan di resmikan pada 26 Oktober 2019 bertepatan dengan 34 tahun penyerahan kembali ikon Australia ini ke warga Aborigin.

Diterjemahkan dari artikel bahasa Inggris di sini.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed