DetikNews
Selasa 14 Mei 2019, 10:38 WIB

Pesantren Kilat Inklusi Digelar di 17 Kota, Non Muslim Ikut Jadi Peserta

ABC Australia - detikNews
Pesantren Kilat Inklusi Digelar di 17 Kota, Non Muslim Ikut Jadi Peserta
Jakarta -

Anak muda di sejumlah kota mengikuti pesantren kilat inklusi yang mengajarkan pentingnya toleransi dan perdamaian berdasarkan perspektif Islam. Tidak seperti kebanyakan event sejenis, kegiatan ini diikuti peserta muslim dan non muslim.

pesantren kilat inklusi:
  • Digelar sejak 2010, Peacesantren ajarkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi berdasarkan Alquran dan Hadist
  • Peserta dan panitia pesantren kilat dari kalangan muslim dan non-muslim
  • Metode pelajaran menggunakan papan permainan 12 nilai perdamaian yang disusun Peace Generation

Pesantren kilat inklusi bertajuk Peacesantren ini diselenggarakan oleh organisasi Peace Generation atau Peacegenid yang aktif mengkampanyekan perdamaian dan kontra ekstrimisme kekerasan.

Kegiatan pesantren kilat inklusi ini sudah digelar sejak 2010 lalu dan tahun ini diselenggarakan di 17 kota dari Aceh hingga Maluku.

Pada kegiatan Peacesantren putaran pertama di Kota Serang, Banten yang digelar 10-12 Mei 2019 kemarin diikuti 20 orang remaja tingkat SMP dan SMA.

Menurut salah satu penyelenggaranya, Nuraini, tidak seperti penyelenggaraan sebelumnya 5 peserta non muslim yang sudah mendaftar batal ikut karena berbenturan dengan kegiatan ibadah di gereja mereka.

"Pada 2 Peacesantren sebelumnya yang kami gelar selalu ada peserta non muslimnya. Mereka sangat senang ikut pesantren kilat ini. Mereka bahkan yang memasak dan menyiapkan ta'jil sementara teman muslim mereka mengikuti kultum," tutur gadis yang sudah 3 tahun menjadi agen of Peace di wilayah Serang, Banten.

Berbeda dengan kegiatan pesantren kilat pada umumnya yang banyak digelar selama bulan puasa Ramadhan, Peacesantren tidak hanya diikuti oleh peserta muslim saja tapi juga terbuka untuk peserta dengan latar belakang agama lainnya.

peacesantren serang Banten
Founder Peace Generation, Irfan Amalee menilai Ramadhan momen terbaik ajarkan nilai perdamaian dan toleransi. (Supplied: Peace Generation Serang)

Founder Peace Generation, Irfan Amalee mengatakan organisasinya berusaha melakukan terobosan pada acara pesantren kilat yang banyak dilakukan selama bulan Ramadhan untuk mengajarkan nilai-nilai perdamaian dan toleransi.

Peserta Peacesantren akan belajar nilai-nilai itu berdasarkan al-Qur'an dan Hadist melalui kurikulum pengajaran perdamaian dan kontra ekstrimisme kekerasan yang dikembangkan Irfan Amalee melalui organisasinya Peace Generation yaitu 12 nilai perdamaian.

"Dengan menggunakan metode games yang asik dan seru, peserta akan belajar tentang 12 nilai dasar perdamaian sambil mempelajari ayat-ayat Al qur'an tentang perdamaian dan juga hadist tentang sikap saling menyayangi dan anti bullying." kata pria yang akrab disapa Kang Irfan itu.

Irfan Amalee mengatakan ibadah di bulan suci Ramadhan memiliki prinsip sejalan dengan perdamaian yakni mengolah kecakapan untuk menahan diri dari kekerasan. Sehingga ini menjadikan Ramadhan sebagai waktu terbaik untuk mempromosikan nilai-nilai itu di masyarakat.

"Selama Ramadhan orang harus menahan diri dari segala hal mulai dari ngemil, ngomel sampai ngemall. Perdamaian itu mencegah kekerasan dan beberapa riset menunjukkan kekerasan erat kaitannya dengan pola makan. Jadi ketika hal ini dikendalikan ini menjadi saat yang sangat tepat untuk mengajarkan perdamaian.


Kurikulum 12 Nilai Perdamaian

boardgame perdamaian
Papan permainan digunakan sebagai media pengajaran kurikulum 12 nilai perdamaian dalam kegiatan yang dilakukan organisasi Peace Generation. (Instagram Peace Generation)

Peacesantren hanyalah satu dari sejumlah model pendekatan yang digunakan Irfan Amalee dalam mengkampanyekan perdamaian dan toleransi di Indonesia melalui NGO Peace Generation yang didirikan sejak 2008 lalu.

Selama 12 tahun terakhir Peace Generation mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan toleransi melalui kurikulum pengajaran khusus yang disusun Irfan Amalee bersama sahabatnya Erik Lincoln dari Amerika Serikat yang dikenal dengan modul 12 nilai dasar perdamaian.

Ke-12 nilai itu dipromosikan melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh jejaring agen perdamaian yang jumlahnya puluhan ribu orang di seluruh Indonesia yang kemudian menyelenggarakan acara roadshow atau kamp perdamaian bagi remaja di sekolah mulai dari PAUD sampai perguruan tinggi maupun komunitas.

"Dari awalnya hanya melalui model cetak seperti buku dan boardgame, sekarang sudah semakin konvergen pakai media online, digemifikasi ada games-nya kita juga bahkan sudah menggunakan virtual reality. Di training-training kita juga menggunakan quantum learning dan fun learning." tukasnya.

Kurikulum 12 nilai dasar perdamaian itu sendiri disusun Irfan Amalee bersama rekannya Eric Lincoln seorang guru bahasa Inggris dari Amerika Serikat (AS). Selain di Indonesia, kurikulum pengajaran perdamaian dan ini juga diperkenalkan di sejumlah negara.

Irfan Amalee mengatakan banyaknya peristiwa intoleransi dan terorisme telah meningkatkan kesadaran pentingnya perdamaian dan toleransi. Tantangannya saat ini adalah bagaimana mempertahankan semangat dan kesadaran itu.

"Tantangannya adalah menjaga agar mereka mau terus berkomitmen dalam jangka panjang untuk terus berkegiatan yang mempromosikan nilai-nilai perdamaian." kata Irfan Amalee.

Raih Australia Alumni Awards 2019

Irfan Amalee
Irfan Amalee (kanan) menerima penghargaan Innovation and Entrepreneurship Award 2019 dari Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan dalam acara Australian Alumni Gala. (Facebook: Australian Embassy Indonesia)

Irfan Amalee mengatakan kerja sosial yang dilakukannya bersama Peace Generation sangat dipengaruhi oleh pengalamannya mengikuti sejumlah program di Australia yakni Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) dan counter terrorism short term award.

Terinspirasi oleh kedua program tersebut, kini sejak 2012 lalu peace generation juga mempromosikan gerakan pencegahan ekstrimisme kekerasan.

"Dari story of change yang kami kumpulkan ternyata begitu banyak anak-anak yang berubah, yang sempat terekrut oleh kelompok violent ekstrimism, mereka menyadari bahaya violent ekstrimism melalui games ini dan merasakan perubahan." katanya.

Atas inovasi yang dilakukannya dalam mempromosikan perdamaian ini Irfan Amalee beberapa waktu lalu memenangkan penghargaan untuk kategori Inovasi dan Kewirausahaan 2019 dari Australian Awards Indonesia di Kedutaan Australia di Jakarta. Ia dipilih dari ribuan alumni program pendidikan Australia.

Ini menjadi penghargaan ke-12 yang diraih Irfan Amalee bersama organisasi besutannya Peace Generation sejak 2007.

Ikuti berita-berita menarik lainnya dari ABC Indonesia.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed