detikNews
Jumat 03 Mei 2019, 10:39 WIB

Polisi Australia Harus Minta Maaf Lagi Terkait Kafiyeh di Latihan Teror

ABC Australia - detikNews
Polisi Australia Harus Minta Maaf Lagi Terkait Kafiyeh di Latihan Teror
New South Wales -

Kepolisian New South Wales (NSW) telah diperintahkan untuk meminta maaf karena telah memfitnah warga Palestina dan Arab secara rasis dalam video pelatihan kontra-terorisme, yang menampilkan para petugas dengan hiasan kepala ala Timur Tengah.

Poin utama:
  • Selama latihan, para sandera tiruan berdiri dengan tangan di jendela kereta, memegang bendera ISIS
  • Dua petugas yang mengenakan jilbab berpura-pura menikam penumpang kereta
  • Petugas senior dari Kepolisian NSW telah diperintahkan untuk menginstal program pendidikan tentang pencemaran nama baik suatu ras

Dalam video itu, dua petugas polisi berpura-pura sebagai pelaku bersenjata aktif yang mengenakan kafiyeh, hiasan kepala yang dikenakan di Palestina dan di sejumlah negara Timur Tengah, dan berpura-pura menikam penumpang di Stasiun Pusat Sydney.

Pengadilan Sipil dan Administratif NSW menemukan bahwa penggunaan jilbab dalam video tahun 2017 itu "tidak perlu" dan bisa "menghasut anggota masyarakat untuk membenci" warga Palestina dan Arab.

Unit polisi tersebut meminta maaf pada saat itu tetapi telah diperintahkan untuk melakukannya lagi, serta memperkenalkan program pendidikan tentang pencemaran nama baik suatu ras.

Program pendidikan, yang akan dibuat bekerja sama dengan Dewan Anti-Diskriminasi NSW, itu akan wajib dilakukan oleh petugas aktif dengan pangkat mulai dari Kepala Inspektur dan di atasnya, serta Unit Media Kepolisian.

Permintaan maaf juga akan diunggah di situs Kepolisian NSW dan halaman Facebook mereka.

Selama latihan itu, para sandera jadi-jadian dipaksa berdiri dengan tangan di jendela kereta, mengibarkan bendera Negara Islam (ISIS).

Petugas yang mengembangkan latihan itu, yakni Kepala Inspektur Colin Green, mengatakan kepada pengadilan bahwa penggunaan jilbab sudah tepat karena petugas yang menggambarkan para pelaku bersenjata itu dimaksudkan untuk mengimitasi sosok anggota ISIS.

Pemimpin Palestina, Yasser Arafat, menggunakan kafiyeh.
Pemimpin Palestina, Yasser Arafat, menggunakan kafiyeh. (ABC)


Ia mengatakan bahwa dari postingan media sosial "tampaknya militan ISIS mengenakan jilbab seperti itu".

Pengadilan menemukan bahwa syal banyak dikaitkan dengan warga Palestina dan Arab yang bukan anggota ISIS.

Mereka memberi contoh almarhum pemimpin Palestina, Yasser Arafat, yang mengenakan kafiyeh selama bertahun-tahun di kantor publik.

"Dalam konteks keseluruhan latihan ... kafiyeh yang dikenakan oleh 'pelaku' memiliki kapasitas untuk mendorong anggota masyarakat awam ... untuk mempertimbangkan bahwa warga Palestina dan/atau Arab harus ditakuti, dihina, dibenci, dan/atau dihujat dengan penghinaan serius sebagai kemungkinan teroris," ungkap pengadilan.

Polisi ditemukan tak punya niat untuk menjelek-jelekkan kelompok ras apapun selama latihan, tetapi pengadilan juga menemukan bahwa tak perlu ada niat apapun untuk melakukan pencemaran nama baik suatu ras.

Kepolisian NSW mengatakan bahwa mereka menjalankan kewajibannya sehubungan dengan undang-undang diskriminasi dengan sangat serius dan "dengan hati-hati mempertimbangkan keputusan" itu.

Ikuti berita-berita lain di situs ABC Indonesia.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed