DetikNews
Senin 01 April 2019, 10:19 WIB

Warga Uighur di Australia Alami Intimidasi oleh Polisi China

ABC Australia - detikNews
Warga Uighur di Australia Alami Intimidasi oleh Polisi China
Canberra -

Pemerintah China dituding telah melecehkan dan mengintimidasi komunitas migran Uyghur di Australia, di tengah munculnya ancaman kemungkinan anggota keluarga mereka dapat ditahan.

ABC telah memperoleh pesan teks yang tampaknya menunjukkan kontak antara pihak berwenang China dengan warga Uyghur Australia yang meminta data pribadi mereka, termasuk paspor, SIM, dan alamat tempat kerja.

Sejumlah warga Uyghur yang diwawancarai oleh ABC mengatakan mereka memilih menyerahkan informasi pribadinya karena khawatir anggota keluarga mereka yang tinggal di China dapat menanggung konsekuensi.

Berbicara dengan syarat tidak diungkapkan identitas mereka karena takut akan pembalasan ini, warga muslim Uyghur di Australia mengklaim polisi China telah menggunakan keluarga mereka di China untuk mengumpulkan informasi tentang kerabat mereka di luar negeri.

Salah satu warga Uyghur Australia, Dawud *, mengatakan dia pertama kali menerima kontak dari keluarganya di Xinjiang pada September 2017, yang memintanya untuk kembali ke China atau menjelaskan kepada polisi mengapa dia tidak bisa kembali.

"Saya bukan penjahat," kata Dawud.

Dawud berkata bahwa dia memberi tahu polisi China: "Saya bukan warga negara China, bagaimana Anda bisa menanyakan hal seperti itu?"

"[Polisi China] berkata ... Saya bisa hanya memberikan informasi saya, nama saya, dan kemudian saya bisa mengunjungi kantor polisi setiap kali saya berkesempatan untuk mengunjungi kerabat saya," katanya.

Dawud mengaku dirinya berusaha menghindari kembali ke China [untuk menyerahkan identitas dirinya] dengan hanya mengirim surat kepada polisi dari tempat kerjanya untuk membuktikan bahwa dia memiliki pekerjaan.

Namun, dia menuturkan setelah itu tuntutannya semakin meningkat.

"Ketika saya mengirim email itu [ke keluarga saya], mereka meneruskannya kepada polisi dan polisi mengatakan saya sekarang harus mengirim data identitas anak-anak saya dan bahkan paspor istri dan anak-anak saya serta foto-foto terbaru mereka," katanya.

Pusat pendidikan ulang di Propinsi Xinjiang China
Para pekerja berjalan menyusuri pagar pembatas fasilitas pendidikan vokasi di Dabancheng tahun lalu. (Reuters: Thomas Peter)

Dia mengatakan dirinya khawatir berbicara dapat mengakibatkan keluarganya di China dapat ditempatkan di "kamp pendidikan ulang" pemerintah yang berkembang pesat.

"Kekhawatiran utamanya masih tentang kerabat kami di sana ... mereka tidak bisa berbicara atas nama mereka sendiri.

"Ini seperti mafia, tidak berbeda dengan mafia."

Pengawasan dan penahanan

Wilayah otonom Xinjiang yang luas di barat laut China merupakan rumah bagi sekitar 24 juta orang, dengan mayoritas warganya Muslim Uyghur yang berbahasa Turki.

Sementara wilayah itu secara resmi diakui sebagai bagian dari China, kelompok separatis di wilayah tersebut ingin mendirikan "Turkestan Timur" yang independen, berbeda dengan keinginan Pemerintah China.

Sebagai tanggapan, Human Rights Watch mengatakan pemerintah China telah memaksa penduduk setempat untuk memberikan sampel suara, darah dan DNA dan pemindaian mata mereka.

Baru-baru ini, PBB mengatakan memiliki bukti yang kredibel bahwa lebih dari satu juta orang warga Uyghur ditahan di kamp-kamp penahanan di Xinjiang.

Orang-orang yang telah ditahan di kamp-kamp tersebut mengklaim mereka disiksa dan disuntik dengan zat yang tidak diketahui.

Investigasi oleh ABC News dan Australian Strategic Police Institute (ASPI) pada tahun 2018, menemukan beberapa kamp tahanan di Propinsi Xinjiang telah berkembang lebih dari dua juta meter persegi.

Menanggapi sejumlah pertanyaan, kementerian luar negeri China merujuk ABC ke pernyataan pemerintah China tentang terorisme, ekstremisme dan perlindungan hak asasi manusia di Xinjiang.

Pernyataan itu menegaskan bahwa provinsi Xinjiang itu "telah lama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah China", yang menyatakan bahwa ada "upaya deradikalisasi" yang sedang berlangsung yang berfokus pada pendidikan, rehabilitasi dan pembelajaran bahasa China dan keterampilan tenaga kerja.

Kementerian luar negeri tidak menanggapi pertanyaan tentang tuduhan adanya campur tangan asing, termasuk kontak otoritas China dengan orang-orang Uyghur yang tinggal di Australia.

Kamp penahanan di Xinjiiang
Sejumlah kamp di Xinjiang meningkat lebih dari dua juta meter persegi pada tahun 2018. (ABC News/Google Earth/Digital Globe)


Respons DFAT

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri dan Perdagangan mengkonfirmasi bahwa Pemerintah Australia mengetahui "tentang laporan" bahwa sejumlah warga Australia telah dimintai keterangan oleh Pemerintah Cina.

"Pemerintah memandang masalah ini dengan serius dan telah mengangkat isu ini kepada otoritas China," katanya.

"Siapa pun yang merasa khawatir harus menghubungi polisi."

Associate Professor Michael Clarke dari Australian National University (ANU) gigih menyuarakan pesan dan desakan mengenai perlunya "campur tangan asing".

"Partai China telah menggunakan bentuk-bentuk tekanan ekstra teritorial ini dan menjangkau melampaui perbatasannya sebagai cara untuk mencegah bagian tertentu dari komunitas Australia menggunakan hak demokratis mereka untuk menyuarakan isu ini," kata Profesor Clarke.

"Ini adalah bagian dari pola dan upaya yang lebih luas yang dilakukan Partai Komunis China untuk membentuk sifat dari perdebatan tentang China di Australia.

"Mungkin ini adalah salah satu contoh paling ekstrem di mana Anda mendapati Partai Komunis China secara langsung menargetkan segmen tertentu dari komunitas Australia dengan tujuan untuk membungkam mereka.

"Ini [cara yang] tidak terlalu rumit dan instrumen yang lebih tumpul dalam beberapa hal, tetapi tidak mengurangi tingkat keefektifannya.

Kekhawatiran tentang keluarga yang hilang

Di seluruh Australia, ada sekitar 3.000 orang Uyghur, dengan mayoritas masyarakat menetap di Australia Selatan.

Ada juga komunitas Uyghur yang tinggal di Victoria, New South Wales, Queensland dan Australia Barat.

Karima Kunahun belum mendengar kabar dari keluarganya di Xinjiang sejak Juli 2017, tetapi ia menerima telepon yang mengerikan tiga minggu lalu.

Seorang teman di Xinjiang memberi tahu Karima bahwa saudara perempuannya, saudara laki-laki dan iparnya semuanya dibawa ke kamp penahanan pada Oktober 2017.

Keluarga Karima Kunahun
Saudara perempuan Karima Kunahun, saudara laki-lakinya Adbuwali dan saudara ipar laki-lakinya Abdurahman telah hilang di Propinsi Xinjiang, China sejak Juli 2017. (Supplied)

Dia mengaku tidak tahu apakah keponakan-keponakannya yang masih kecil juga aman.

"Saya sakit sejak hari saya mengetahui kabar itu," katanya.

"Saya tidak bisa berhenti menangis setiap hari karena memikirkan betapa besar derita yang dialami orang tua saya ... tapi karena saya tidak bisa menghubungi mereka, saya tidak tahu bagaimana keadaan mereka.

"Orang yang memberi tahu kami tentang hal ini mengatakan bahwa alasan saudara kandung saya berada di kamp konsentrasi adalah karena saya berada di Australia.

"saya tidak yakin akan membaik kondisi kesehatan saya kecuali saya tahu bagaimana nasib keluargaku."

Pemimpin Uyghur Nurmuhammad Majid
Pemimpin Uyghur Nurmuhammad Majid bertemu dengan anggota komunitasnya.


'Seperti domba yang menunggu untuk disembelih'

Tokoh masyarakat Uyghur Nurmuhammad Majid telah mewakili komunitasnya selama lebih dari satu dekade sekarang.

Dia mengatakan karyanya telah membuat marah Pemerintah China dan, karena itu, dia belum mendengar kabar dari keluarganya yang tinggal di Tiongkok.

Dia mengatakan banyak orang Uyghur khawatir jika berbicara mungkin memiliki konsekuensi bagi kerabat mereka di China.

"Pemerintah China mengulurkan tangan kepada para Uighur di luar negeri, termasuk warga Australia ... dengan mengintimidasi mereka atau melecehkan mereka," kata Majid.

"Orang-orang masih takut untuk membicarakan pengalaman atau penderitaan anggota keluarga mereka ... karena mereka masih memiliki begitu banyak anggota keluarga di [provinsi Xinjiang].

"Salah seorang warga Uyghur... menggambarkan situasinya ... 'kami hidup seperti domba yang menunggu untuk disembelih'.

"Beberapa orang yang telah kembali dari China tahun lalu ...dan masih takut membicarakan pengalaman mereka ... mereka mengatakan 'Aku [masih] punya orang tua saya'."

anak-anak uyghur di sekolah
anak-anak uyghur belajar bahasa pada akhir pekan di Australia. (ABC News: Joshua Boscaini)

Majid mengatakan, Pemerintah Australia perlu meningkatkan tekanan pada China tentang situasi hak asasi manusia di Xinjiang.

"Kami belum melihat pemerintah Australia mengambil langkah aktif untuk mengkritik pemerintah China," katanya.

"Kita perlu meminta pemerintah Australia untuk memahami nilai-nilainya sendiri. Ini adalah demokrasi liberal yang membela hak asasi manusia.

"Kami ingin memastikan bahwa anggota masyarakat Uyghur yang tinggal di Australia aman, tidak terintimidasi, tidak diganggu oleh pemerintah asing."

* Nama telah diubah atas permintaan sumber untuk melindungi mereka dan keluarga mereka

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed