detikNews
Kamis 28 Maret 2019, 09:41 WIB

Komunitas Indonesia di Selandia Baru Terkesan Besarnya Empati Warga Setempat

ABC Australia - detikNews
Komunitas Indonesia di Selandia Baru Terkesan Besarnya Empati Warga Setempat
Auckland -

Aksi teror di Christchurch memicu semangat baru bagi masyarakat Muslim Indonesia di Selandia Baru. Perhatian dan dukungan dari warga setempat mengalahkan kecemasan mereka sebagai minoritas di negeri orang.

Empati Selandia Baru:
  • Warga muslim asal Indonesia turut merasakan dan menerima empati dari warga setempat
  • Mereka sempat was-was setelah serangan teror, namun hal itu tak berlangsung lama
  • Kesan mereka pada Selandia Baru justru kian kuat usai kejadian ini

Salah satunya Andri Nursafitri. Meski dia tinggal di Auckland yang berbeda pulau dengan Christchurch, dia tak berusaha menutupi keterkejutannya.

Andri adalah ketua Indonesian Islamic Center di Auckland. Di kota ini terdapat sekitar 750 keluarga Muslim asal Indonesia.

"Seperti yang kita tahu, Selandia Baru ini 'kan, bahkan dimana-mana di-ranking, disurvei, itu termasuk negara paling Islami di dunia," katanya.

Andri Nursafitri, Muslim Indonesia di Auckland.
Andri Nursafitri, Muslim Indonesia di Auckland. (Supplied)

"Dan kita tidak pernah merasakan ada teror, intimidasi atau merasa diancam dan lainnya. Jadi ini betul-betul sangat mengejutkan," ujarnya kepada jurnalis ABC Nurina Savitri.

Setelah kejadian itu, katanya, perasaan khawatir sempat dialami masyarakat Muslim di lingkungannya.

"Sebetulnya perasaan was-was di antara jamaah itu ada tapi saya rasa kecil sekali," katanya.

"Setelah kejadian kita juga diimbau oleh polisi untuk jangan ke masjid dulu. Kita disuruh menutup masjid atau Islamic Center untuk sementara setelah kejadian," jelasnya.

Namun kecemasan itu tak berlangsung lama. Andri mencontohkan keluarganya yang dibanjiri perhatian dari para tetangga.

Ia merasakan empati dari warga lokal yang datang ke rumahnya membawa kartu ucapan simpati, menawarkan bantuan dan sebagainya.

"Yang tadinya mungkin enggak peduli kita ke masjid, kita salat, tapi begitu ada kejadian mereka sangat peduli dan kalau mereka bisa bantu apa yang kira-kira mereka bisa bantu," jelasnya.

"Secara instan mereka langsung menunjukkan kepeduliannya dengan kita," ungkapnya.

Belasan tahun tinggal di Selandia Baru, Andri sendiri mengaku tak pernah mengalami kejadian rasisme.

"Saya kerja di perusahaan. Selalu minta izin salat Jumat. Manajer saya selalu kasih izin. Beliau tahu Jumatan itu biasanya sekitar 1-1,5 jam.Itu 'kan lebih lama dari waktu untuk makan siang," jelasnya.

"Tapi dia tahu saya selalu harus ke masjid untuk Jumatan."

Di Invercargill

Di kota Invercargill, yang terletak di pulau selatan Selandia Baru, Reza Abdul Jabbar juga merasakan atmosfir yang serupa.

Sebagai imam masjid di kota kecil tersebut dia, begitu pula komunitas Muslim di kotanya, tak terdampak sama sekali.

Reza Abdul Jabbar.
Reza Abdul Jabbar, warga Indonesia di Invercargill. (Supplied)

"Sebelum ada serangan itu, keadaannya sangat kondusif, sangat baik. Kami tak pernah punya masalah."

"Kita punya kebebasan beribadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing," jelas pemuka agama yang sudah 27 tahun bermukim di Selandia Baru.

Pasca serangan, sebut Reza, yang terjadi justru kebalikannya.

"Cinta kasih, penghormatan yang luar biasa, lebih terbukanya masyarakat yang berbondong-bondong ingin melihat masjid. Justru sangat baik," katanya kepada ABC.

Menurutnya, penembakan itu merupakan kejadian yang sangat luar biasa.

"Seluruh lapisan masyarakat, para pendeta, seluruh religious leaders, politisi, senator, masyarakat biasa, akademia, semunya justru keluar untuk mendukung. Untuk mendukung kaum Muslimin."

"Gerakan hijab, gerakan mendengarkan azan, ingin masuk ke dalam masjid, sungguh fenomena yang luar biasa," paparnya.

Ia mengatakan, secara umum dan khusus, warga Selandia Baru dinilainya memang memiliki karakter yang lebih baik.

"Masyarakat Selandia Baru pada dasarnya lebih baik dan berbeda daripada masyarakat Australia apalagi Amerika."

"Cara pandang warga Selandia Baru sangat terbuka, sangat transparan dan sangat inklusif," demikian kata Reza.

Lebih lanjut Reza mengatakan, di tengah situasi genting seorang pemimpin politik bisa mempengaruhi emosi masyarakat.

"Karena yang kita dapati... masjid penuh bunga, banyak yang memberi makanan, duit, bahkan ada anak-anak kecil yang meninggalkan uang celengannya. Sampai hari ini," ujarnya.

Perhatian dan dukungan juga ia dapati di lingkungan tempat tinggal di mana para tetangganya tak berhenti berdatangan membawa buah tangan.

"Ada yang bawa sup, roti, coklat, atau dessert," katanya.

"Semangat inilah yang membuat kami bangga sebagai umat Islam yang hidup di Selandia Baru," paparnya lagi.


Di Christchurch



Ibnu Sitompul, mahasiswa Indonesia di Christchurch.
Ibnu Sitompul, mahasiswa Indonesia di Christchurch. (Facebook; Ibnu Sitompul)

Di Christchurch sendiri, Ibnu Sitompul juga mengaku tidak pernah membayangkan serangan itu. Tadinya dia bahkan hendak salat di Masjid Al-Noor. Tapi hari itu ia datang terlambat.

"Saya kaget sekali. Saya memikirkan ada kejadian seperti ini di Selandia Baru. Saya datang ke sini justru untuk menghindari hal-hal seperti itu," ujar Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Selandia Baru ini kepada ABC.

Ia lalu mencontohkan istrinya yang masih mengalami rasa takut karena hijab yang dikenakannya, meski kini berangsur normal kembali.

"Para tetangga mendukung, banyak dukungan dari orang. Kita tidak takut, hanya berhati-hati saja jadinya," katanya.

Ibnu mengungkapkan, ia pun tak kalah kaget dengan guyuran perhatian yang diterima dari para tetangga.

"Mereka menawarkan untuk membantu belanja. Kamu mau belanja apa biar saya yang pergi belanja, begitu kata mereka," ujar Ibnu.

Ia terkesan dengan semua dukungan yang diterimanya.

Ikuti berita lainnya dari ABC Indonesia.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed