detikNews
Rabu 16 Januari 2019, 09:44 WIB

Serangan Teror di Kompleks Perhotelan Kenya Tewaskan 15 Orang

ABC Australia - detikNews
Serangan Teror di Kompleks Perhotelan Kenya Tewaskan 15 Orang
Nairobi -

Sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas sejauh ini ketika terjadi serangan teror mematikan di sebuah kompleks hotel dan perkantoran di Nairobi, Kenya.

  • Menurut Menteri Dalam Negeri Kenya situasi sekarang berhasil dikuasai
  • Petugas rumah sakit mengatakan sedikitnya tujuh orang tewas dan delapan mengalami luka-luka
  • Kelompok ekstremis asal Somalia Al Shabaab mengaku bertanggung jawab

Menurut keterangan masih bahkan yang terluka dan juga kemungkinan tewas masih berada di dalam kompleks bangunan mewah tersebut 11 jam setelah serangan pertama terjadi.

Menteri Dalam Negeri Kenya mengatakan 'serangan teror' yang mirip dengan serangan ke Westgate Mall di tahun 2013 di Nairobi yang menewaskan 67 orang, sudah berhasil dikuasai, dengan pasukan keamanan mengamankan kompleks perhotelan.

"Saya ingin menegaskan lagi bahwa situasinya terkontrol dan negeri ini aman." kata Menteri Fred Matiang'i.

Menteri tersebut tidak memberikan keterangan di mana keberadaan para penyerang, namun satu jam setelah dia berbicara, terdengar suara tembakan yang menandakan situasi belum sepenuhnya berhasil dikuasai pihak berwenang.

Kelompok Al Shabaab kelompok ekstremis yang berbasis di Somalia yang melakukan serangan di tahun 2013 - sudah mengatakan bertanggung jawab atas serangan terbaru ini.

A member of the security forces is seen reflected in a window as he looks at bullet-holes.
Lobang bekas peluru tampak di kompleks perhotelan dan perkantoran di Nairobi yang diserang kelompok teroris Al-Shabaab. (AP: Ben Curtis)

Nairobi adalah salah satu kota besar di Afrika yang berisi para penduduk asing, dan serangan yang terjadi terhadap kompleks perhotelan dan kantor yang berisi banyak perusahaan internasional mirip dengan kejadian di tahun 2013 dengan lokasi serangan di kawasan pemukiman yang sama.

"Pintu utama hotel diledakkan dan ada tangan manusia di jalanan terpisah dari pundaknya." kata Serge Meci, warga Swiss yang memiliki perusahaan pengamanan yang mendatangi lokasi kejadian ketika mendengar peristiwa tersebut dari seorang sopir taksi.

Medic yang memiliki senjata memasuki gedung hotel dengan seorang polisi dan dua tentara, dan mengatakan kemudian harus mundur karena mendapat tembakan.

Dia mengatakan melihat sebuah granat yang belum meledak di lobi hotel.


Masih belum jelas berapa penyerang yang terlibat, namun melihat pola serangan memang menunjukkan kemiripan dengan serangan yang biasa dilakukan kelompok Al-Shabaab di ibukota Somalia Mogadishu, dimana terjadi ledakan yang diikuti dengan sekelompok pria bersenjata masuk ke dalam gedung.

Kepala polisi Kenya Joseph Boinnet mengatakan seorang pembom bunuh diri terlibat.

"Ini dimulai dengan serangan terhadap bank I&M dengan ledakan engan sasaran tiga kendaraan di tempat parkir dan seorang pembom bunuh diri." katanya.

Security forces carry a man face down as smoke rises in the background.
Pihak keamanan membantu seorang pria di lokasi kejadian di Nairobi (Kenya). (AP: Khalil Senosi)


Seorang warga Australia juga berada di lokasi serangan

Kenya menjadi kawasan dimana ratusan diplomat, pekerja bantuan, pengusaha dan yang lain menjadikan basis bagi operasi mereka di Afrika Timur.

Kedutaan Australia hanya terpisah satu jalan dari kompleks perhotelan.

Simon Crump, seorang warga Australia yang bekerja untuk sebuah perusahaan internasional di kompleks tersebut harus bersembunyi di sebuah ruang kosong bersama dua orang lainnya.

Mereka harus menunggu selama dua setengah jam sebelum mendapatkan bantuan untuk keluar dari lokasi kejadian.

Kenya telah beberapa kali menjadi sasaran serangan Al-Shabaab yang menewaskan 67 orang di kompleks pertokoan Westgate di tahun 2013 dan hampir 150 mahasiswa di Universitas Garissa di tahun 2015.

Al Shabaab mengatakan bahwa ini adalah pembalasan atas penempatan tentara Kenya di dalam Somalia, yang sudah dilanda perang saudara sejak tahun 1991.

Kelompok ekstremis yang mengatakan ingin menjatuhkan pemerintah Somalia yang walau didukung PBB namun masih lemah dan ingin menerapkan hukum Syariah, dengan cepat mengatakan bertanggung jawab.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

Reuters/AP

Ikuti berita berita ABC Indonesia lainnya di sini


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com