DetikNews
Senin 19 November 2018, 19:54 WIB

LSM Australia Bertahan di Aceh Tingkatkan Pertanian Lahan Kering

ABC Australia - detikNews
LSM Australia Bertahan di Aceh Tingkatkan Pertanian Lahan Kering
Banda Aceh -

Ketika tsunami menerjang Aceh pada Desember 2004, merenggut korban 170.000 orang, setidaknya sekitar 62.000 petani setempat harus mengungsi.

Ladang mereka hancur tersapu sedimen dan air asin, serta kehilangan nutrisi tanah pertanian mereka.

Menurut Rahmad Kurniadi, tenaga pelatih pertanian setempat, banyak area persawahan tertutup pasir dan lumpur.

"Tantangan terbesar yang kami hadapi setelah tsunami yaitu mengembalikan kesuburan tanah," katanya saat ditemui ABC.

Setelah tsunami, bantuan asing mengalir ke Aceh dari seluruh dunia. Organisasi non-pemerintah pun berlomba mengulurkan bantuan.

A woman uses a hoe in dry soil at a demonstration site in Aceh, Indonesia. She is wearing sunsmart clothing.
ACIAR bekerja sama dengan universitas setempat mengembangkan teknik budidaya lahan kering di Aceh. (ABC News: Kallee Buchanan)


Namun 14 tahun kemudian, hanya satu LSM yang tersisa, yaitu Pusat Penelitian Pertanian Internasional Australia (ACIAR).

LSM ini menjalankan proyek untuk membantu petani di Aceh memperbaiki lahan mereka sekaligus meningkatkan produktivitasnya.

"Kami datang ke sini awalnya untuk proyek kemanusiaan. Ketika proyek-proyek terkait tsunami selesai, kami menemukan masalah yang perlu diperbaiki di sektor pertanian," ujar Malem McLeod yang memimpin proyek ACIAR ini.

Tujuan utama kegiatan LSM tersebut di Aceh yaitu mengembangkan teknik pertanian lahan kering.

Teknik seperti itu umum diterapkan di Australia namun masih jarang di Aceh.

Sistem pertanian lahan kering memungkinkan tanaman tumbuh dengan curah hujan rendah dan tanpa irigasi, seperti jagung, kacang-kacangan dan kacang tanah.

A man plants kneels down in a field with a plastic tub in his hand, planting peanuts. The sky is cloudy above him.
Proyek ACIAR melatih petani dalam mengelola lahan kering. (ACIAR: Patrick Cape)


Secara tradisional petani Aceh menanam padi saat musim hujan saja. Mereka umumnya meninggalkan ladangnya usai musim hujan.

"Biasanya, lahan kering di Aceh ini sangat sub-optimal dan diabaikan bahkan tidak dilirik sama sekali," jelas McLeod.

"Tantangan berat untuk bisa meningkatkan lahan seperti itu. Namun masalah utamanya yaitu kandungan karbon dan nitrogen rendah serta kapasitasnya menahan air juga rendah," jelasnya.

Tim ACIAR bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala melibatkan peneliti dan 25 mahasiswa pertanian dalam menguji berbagai pupuk untuk tanaman di lahan kering.

"Proyek ini bermanfaat besar bagi para petani dan juga para mahasiswa," kata Profesor Sabaruddin Zakaria.

Para mahasiswa mendapatkan pengalaman, melihat langsung petani bekerja di ladang dan dampak teknologi pada praktik pertanian.

Produksi meningkat

Proyek ACIAR ini mendapat dukungan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, mengajar 43 warga setempat dalam teknik meningkatkan kesuburan lahan kering.

Mereka kemudian menjadi pelatih yang bertugas membagikan pengetahuan mereka kepada 700-an petani di berbagai wilayah di Aceh.

Three women including soil scientist Malem McLeod kneel in a garden. Two reach out to touch the lush green crops.
Pakar lahan pertanian Malem McLeod (kanan) bersama petani di Aceh. (ACIAR: Patrick Cape)


"Pada saat proyek selesai, mereka akan memiliki semua peralatan, pengetahuan, dan keterampilan untuk dijalankan sendiri," kata McLeod.

Dengan menggunakan lahan percontohan, para petani bekerja dan belajar dalam kelompok, menggunakan teknologi dan metode pertanian, termasuk teknik penanaman padi.

"Para petani harus diyakinkan dengan metode ini lebih baik dengan cara menunjukkannya secara langsung," kata Irhas, seorang pelatih pertanian dalam proyek ini.

"Umumnya kami menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan retensi air tanah, sehingga tanaman berproduksi lebih baik. Bahkan ada yang dua kali lipat," jelasnya.

Dengan melihat langsung buktinya di lahan percontohan, para petani kini mulai menerapkan pendekatan kolaboratif di ladang masing-masing.

Hasilnya pun menggembirakan. "Mereka biasanya memanen empat ton, dan sekarang mencapai enam atau tujuh ton per hektar," kata Rahmad Kurniadi.

"Kami merasa bangga karena apa yang kami ajarkan kepada para petani sudah diterapkan. Kehidupan para petani sekarang lebih baik," tambahnya.

Dengan meningkatnya penghasilan dari lahan pertanian mereka, kini para petani dapat tetap tinggal di kampungnya pada musim kemarau.

Proyek ACIAR akan rampung pada akhir 2018. Namun pengelolanya berharap keterampilan yang telah dipelajari para petani akan digunakan untuk seterusnya.

"Harapan saya setelah ACIAR selesai, kami dapat terus bekerja dengan para petani sehingga mereka tetap termotivasi," kata Irhas.

Wartawan ABC Rosie King meliput kegiatan ini atas kerjasama ABC dan Australian Centre for International Agricultural Research.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed