DetikNews
Kamis 18 Oktober 2018, 12:03 WIB

Bagaimana Bantuan Australia Digunakan oleh Indonesia?

ABC Australia - detikNews
Bagaimana Bantuan Australia Digunakan oleh Indonesia?
Canberra -

Australia telah memberikan bantuan dengan total AU$ 5,5 juta, atau lebih dari Rp 55 miliar, untuk membantu gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah yang menewaskan lebih dari 2.000 orang.

Tetapi di jejaring sosial warga Australia mempertanyakan bagaimana bantuan Australia disalurkan di Indonesia.

Bantuan Australia
Bantuan Luar Negeri Australia
  • Bantuan Australia bernilai 0,8 persen dari anggaran federal Australia
  • Indonesia menerima AU$ 359 juta dari Australia di tahun keuangan sebelumnya
  • Papua Nugini adalah penerima bantuan Australia terbanyak

Di jejaring sosial, seperti Twitter dan Facebook, beberapa warga Australia mengkritik pembelian perlengkapan militer oleh Indonesia dan sebaiknya anggaran militer Indonesia tidak menggunakan uang yang diterima dari Australia setiap tahunnya.

Unggahan lain mengatakan uang yang diberikan seharusnya membawa manfaat juga bagi warga Australia.

"Taruhan ya, Indonesia akan menerima uang kita sebelum ke petani kita sendiri," tulis salah satu pengguna Facebook.

"Mereka diberi AU$ 400 juta (YA AU$400 juta) tapi langsung membeli helikopter militer beberapa bulan lalu," dalam unggahan lain.

Tapi berdasarkan sebuah laporan Lowy Institute di tahun 2018, ada kesalahpahaman di antara kalangan warga Australia soal bagaimana bantuan program Australia digunakan di seluruh dunia.

Bantuan investasi, bukan bantuan pembangunan A graphic showing top three recipients of Australian aid
Di tahun 2015, pemerintah Australia mengurangi bantuan ke Indonesia hingga 40 persen. (ABC News, Jarrod Fankhauser)

Menurut Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT), Indonesia sebagai salah satu negara tetangga terdekat, telah menduduki peringkat teratas untuk penerima bantuan Australia.

Nilai bantuan yang diberikan Australia mencapai AU$359 juta, atau lebih dari Rp 3,59 triliun pada tahun keuangan lalu.

Sejak 2013, Australia di bawah kepemimpinan Tony Abbott, dana bantuan luar negeri sudah tidak lagi disalurkan lewat Australian Agency for International Development (AusAid), melainkan dikembalikan pengelolaannya lewat DFAT.

Dari laporan terbaru yang dikeluarkan DFAT soal pengeluaran bantuan ke Indonesia, tujuan utamanya adalah untuk mencapai institusi ekonomi serta infrastruktur yang efektif, pengembangan manusia, dan pemerintahan yang efektif.

Disebutkan pula, "bantuan pembangunan Australia bernilai 0,3 persen dari pendapatan Indonesia".

Seorang pria duduk di sebelah murid sekolah
PM Scott Morrison saat mengunjungi sebuah sekolah di Bogor, Agustus 2018. (ABC News: Jane Norman)

Tetapi lembaga swadaya yang memonitor dana bantuan di Australia, AidWatch mengatakan kepada ABC sejak DFAT mengelolanya, fokusnya telah berpindah dari pembangunan ke investasi.

"Pada prinsipnya diarahkan pada pertumbuhan sektor privat dan ekonomi di Indonesia untuk menguntungkan perusahaan Australia yang ekspor ke Indonesia atau berproduksi di Indonesia," ujar James Goodman, direktur AidWatch kepada Erwin Renaldi, hari Selasa (16/10).

"Jadi bantuan kebanyakan saat ini disalurkan untuk kepentingan nasional Australia."

Ia juga mengatakan bantuan ini telah salah, karena masalah utama di Indonesia bukanlah pertumbuhan kesenjangan yang bisa berakibat menurunkan kemampuan untuk mencapai kesinambungan.

Dua pria sedang berjalan bersama
Indonesia dan Australia sedang dalam perbincangan soal kesepakatan perdagangan bebas. (AAP: Lukas Coch)

"Warga Australia pada umumnya mendukung bantuan luar negeri untuk tujuan kemanusiaan atau mengatasi masalah kemiskinan atau bantuan untuk menolong kebutuhan orang," kata James.

"Sudah sering pemerintah Australia mengatakan bantuannya tidak untuk hal-hal seperti itu, tetapi pada dasarnya untuk kepentingan nasional Australia," tambahnya.

"Ketika orang-orang tahu, mereka menjadi skeptis mengenai program bantuan."

James yang juga akademisi di University of Technology Sydney mengatakan bantuan Australia juga fokus pada kepentingan negaranya yang strategis, seperti mengelola pencari suaka ilegal, pusat penahanan pencari suaka di luar Australia, serta diplomasi atau diplomasi ekonomi, termasuk kesepakatan dagang.

Indonesia dan Australia kini sedang terlibat dalam perundingan perdagangan bebas yang rencananya akan mencapai penandatangan perjanjian di bulan November.

Australia diantara negara yang kurang transparan Grafik bagaimana perkiraan warga Australia soal dana bantuan ke Indonesia
LowyInstitute membuat survei di tahun 2018 tentang berapa perkiraan warga Australia soal jumlah yang diberikan ke Indonesia. (ABCNews,JarrodFankhauser)

Dalam beberapa tahun terakhir Australia telah mengurangi anggaran dana bantuan luar negerinya.

Sejak tsunami menerjang kawasan Samudera Hindia, termasuk Aceh yang menewaskan lebih dari 115.000 orang di Aceh, Indonesia berada di peringkat teratas penerima dana bantuan Australia.

James mengatakan dukungan warga Australia soal pemberian bantuan pun telah menurun dalam beberapa tahun, terutama soal bantuan ke Indonesia yang dianggap sebagai ancaman teroris.

Di tahun keuangan 2015-2016, dana bantuan untuk Indonesia telah dipangkas 40 persen, dan Papua Nugini menggeser posisi untuk jadi menjadi yang pertama dalam urutan penerima bantuan terbanyak dari Australia.

Di bulan Juni 2018, Lowy Institute melakukan survei terhadap warga Australia soal berapa perkiraan mereka uang yang diberikan kepada negara-negara lain dari anggaran federal Australia.

Kebanyakan menjawab sekitar 14 persen, tetapi pada kenyataannya jumlah yang keluarkan hanya 0,80 persen dari anggaran Australia.

External Link: Delivery of humanitarian aid has arrived from Australia to #Palu to be distributed to the citizens of #Palu the affected and surrounding areas

James mengatakan tambahan bantuan dari Australia untuk gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah bukanlah jumlah yang banyak, tapi Australia ingin menunjukkan kepeduliannya kepada salah satu negara tetangga terdekatnya.

"Saya pribadi tidak tahu kemana uang 5,5 juta dolar itu," ujarnya yang juga berpendapat Australia adalah salah satu negara yang kurang transparan soal dana bantuannya.

"Mereka mengumumkannya di internet, dengan memilih-milih, menyatakan apa yang menarik bagi mereka, atau berita--berita baik," kata James.

Ia juga mengatakan kemana sebenarnya uang-uang ini dihabiskan, "kita benar-benar tidak tahu".

Saat dimintai tanggapan soal bagaimana dan kemana dana bantuan Indonesia, DFAT tidak memberikan respon sebelum tenggat waktu untuk menerbitkan artikel ini.

Tapi kemudian dalam email yang diterima ABC, DFAT mengkoreksi jumlah bantuan yang diberikan ke Indonesia mencapai Rp 102,5 miliar untuk bantuan ke Sulawesi dan rinciannya bisa dilihat di situs Crisis Hub yang diperbaharui secara real time.

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed