Australia dan Inggris Kecam Serangan Siber Dinas Intelijen Militer Rusia

ABC Australia - detikNews
Kamis, 04 Okt 2018 12:02 WIB
Canberra -

Inggris dan Australia telah mengeluarkan kecaman bersama dan menuduh intelijen militer Rusia menggunakan serangan siber untuk menciptakan kekacauan mulai dari di bidang olahraga sampai ke transportasi.

Intelijen militer Rusia juga dituduh terlibat dalam serangan siber dalam pemilihan presiden Amerika Serikat di tahun 2016 dalam usaha memberi citra buruk demokrasi ala Barat.

Dalam penilaian yang dibuat oleh lembaga Pusat Keamanan Siber Nasional (NCSC) Inggris, lembaga intelijen militer Rusia (GRU) menjadi dalang yang menggunakan jaringan hacker untuk menyebarkan kekacauan di seluruh dunia.

Dalam pernyataannya, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan bahwa dinas intelijen Australia yang mengadakan konsultasi dengan sekutu internasionalnya menyimpulkan GRU bertanggung jawab atas 'serangkaian pola serangan siber yang berniat buruk."

"Walau Australia tidak secara signifikan mengalami dampaknya, aktivitas ini mengganggu publik di bagian dunia lain untuk menjalankan aktivitas sehari-hari." kata Morrison.

"Ini menyebabkan dampak buruk yang signifikan dan mengenai siapa saja terhadap infrastruktur sipil dan akibatnya kerugian ekonomi jutaan dolar termasuk juga di Rusia."

"Ini tidak bisa diterima dan pemerintah Australia menyerukan kepada seluruh negara termasuk Rusia untuk menghentikan kegiatan buruk seperti ini."

"Dunia siber bukanlah dunia tidak bertuan. Komunitas internasional termasuk Rusia sudah menyetujui bahwa hukum internasional dan norma berperilaku sebagai negara yang bertanggung jawab juga berlaku di dunia siber."

"Dengan terlibat dalam pola serangan siber ini, Rusia sudah menunjukkan sikap tidak mengindahkan kesepakatan yang sudah mereka ikuti sebelumnya."

Menurut Inggris, GRU hampir pasti terlibat dalam serangan terhadap Badan Anti Doping Dunia di tahun 2017, tindakan penyintasan terhadap Komite Nasional Partai Demokrat AS di tahun 2016, dan pencurian email dari sebuah stasiun televisi Inggris di tahun 2015.
"Tindakan GRU adalah tindakan ceroboh dan tidak pandang dulu dalam usaha ikut campur tangan dalam pemilu di negara lain." kata Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt.

"Pesan kami jelas bersama dengan sekutu kami, kami akan mengungkapkan dan bereaksi terhadap usaha GRU mengganggu stabilitas internasional."

Kekuatan siber Rusia ?

Walau di dunia internasional lebih dikenal dengan nama singkatan GRU, yang berarti Direktur Intelijen Utama dalam bahasa Rusia, namanya sebenarnya sudah diubah di tahun 2010 menjadi Direktorat Utama Staf Umum atau disingkat GU.

Namun nama lama GRU tetap banyak digunakan.

Dinas intelijen militer Rusia ini memiliki agen di seluruh dunia dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Staf Angkatan Bersenjata dan Menteri Pertahanan Rusia.

GRU tidak pernah memberikan komentar terbuka mengenai apa yang mereka lakukan.

Struktur organisasi, jumlah staf dan pendanaan menjadi rahasia negara.

Perdana Menteri Inggris Theresa May sudah mengatakan bahwa agen GRU menggunakan agen syaraf untuk mencoba membunuh agen ganda Sergei Skripal yang ditemukan tidak sadar di kota Salisbury di Inggris bulan lalu.

Rusia berulang kali membantah keterlibatan mereka.

Setelah kasus Skripal, negara-negara Barat setuju dengan temuan Inggris bahwa intelijen militer Rusia terlibat dan kemudian mengusir banyak diplomat Rusia yang dituduh menjadi mata-mata.

Ini menjadi pengusiran diplomat terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin.

Presiden Rusia Vladimir Putin yang dulu pernah bekerja sebagai mata-mata KGB hari Rabu bahwa Skripal yang sebelumnya adalah mata-mata GRU yang kemudian memberikan bocoran data kepada Dinas Intelijen Inggris M16. adalah 'bajingan' yang telah mengkhianati Rusia.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

ABC/Reuters



(ita/ita)