DetikNews
Kamis 16 Agustus 2018, 13:35 WIB

Inilah Katanning, Kota Australia yang Dibangun Atas Toleransi

Australia Plus ABC - detikNews
Inilah Katanning, Kota Australia yang Dibangun Atas Toleransi
Canberra -

Dalam suatu pertemuan cendekiawan Muslim Asia Tenggara di Kuala Lumpur, hadir seorang imam masjid asal kota pedalaman Australia Barat yang langsung menjadi pusat perhatian.

Imam masjid itu bernama Alep Mydie, asal Kota Katanning, sebuah kota pertanian 300 kilometer di selatan Kota Perth.

Dalam forum tersebut Alep menyuarakan betapa komitmen multikulturalisme masih hidup dengan baik di Australia.

"Saya mengemukakan bagaimana kita hidup bersama di Katanning, bagaimana masjid kami dibuka untuk umum," kata Alep.

Dia malah bertanya apakah pemuka-pemuka agama tersebut telah membuka pintu masjid mereka agar siapa saja bisa bertanya tentang apa saja.

Alep sudah lama memperjuangkan agar masjidnya terbuka untuk dialog dan membangun kepercayaan di kota berpenduduk 4.000 jiwa ini.

"Itulah yang kami lakukan di Katanning. Kami membuka masjid agar ketakutan akibat ketidaktahuan yang dimiliki orang lain bisa terhapus," katanya.

Pendatang Melayu

Kebijakan imigrasi Australia dikritik mengalami kegagalan di banyak tempat. Ada yang mencontohkan meningkatnya kemacetan di perkotaan. Juga kejahatan antargeng yang terjadi.

Pemerintah sendiri berupaya memberlakukan tes lebih ketat bagi pendatang. Mereka akan diuji apakah bisa menyesuaikan diri dengan nilai dan norma yang ada. Juga syarat kemampuan bahasa Inggris jadi lebih ketat.

Menteri Urusan Kewarganegaraan dan Multikultural Alan Tudge menjelaskan, semua itu dimaksudkan agar tercipta masyarakat multikulturalisme "terintegrasi", bukan masyarakat yang tersekat-sekat.

"Jika mereka tinggal bersama dan berkomunikasi dalam bahasa ibu, mereka akan lambat berintegrasi dengan masyarakat luas," jelasnya kepada ABC.

"Idealnya mereka berbaur dan bergabung bersama," tambahnya.

Muslim men praying in mosque
Masjid Katanning ingin terus menjaga hubungan terbuka dengan masyarakat luas. (ABC News: Aaron Fernandes)

Namun di kota seperti Katanning, dampak budaya dan ekonomi yang dibawa para pendatang jelas terlihat.

Para imigran membangun masjid di sana dan menyelenggarakan berbagai perayaan budaya.

Generasi pendatang ini terpikat adanya pekerjaan di rumah pemotongan hewan setempat.

Pendatang Melayu dari Kepulauan Christmas dan Cocos yang pertama tiba di sini pada awal 2000-an. Menyusul pendatang Afghanistan, Myanmar, Kongo, dan China.

"Saya selalu mengingatkan anak-anakku bahwa alasan orangtua kami datang ke sini yaitu memperbaiki kehidupan. Itulah filosofi yang tertanam dalam diri kami," kata Alep Mydie.

Sikap saling menerima

Tak jauh dari sana, di wilayah Mount Barker, sebuah sekolah setempat membuka pintunya bagi para imigran etnis Hazara merayakan idul fitri.

Perempuan Hazara, yang belajar bahasa Inggris di sana, membawa anak-anaknya dalam pakaian tradisional serta aneka makanan Afghanistan.

Para wanita ini ingin menguasai bahasa Inggris, sebagai langkah berintegrasi dengan masyarakat luas di Australia.

Salah satunya, Leedah Haidary, mengaku ingin tahu lebih banyak tentang budaya Australia.

"Kami juga ingin berbagi budaya kami dengan semua orang," katanya kepada ABC.

Two Hazara children (girls) hold up poster in classroom
Sekolah setempat membuka diri bagi anak-anak imigran etnis Hazara. (ABC News: Aaron Fernandes)

Laporan Komisi Produktivitas tahun 2016 menyebutkan munculnya ketegangan antara para pendatang dengan warga Australia.

Namun disebutkan pula "ada penerimaan yang luas di kalangan masyarakat Australia atas keragaman budaya".

Di Mount Barker sejauh ini belum pernah terjadi masalah besar terkait toleransi.

Sejak awal tahun 2000-an, warga setempat menghargai para pendatang karena komitmen mereka bekerja dan mengurus keluarga.

Menurut Alep Mydie, semua orang di wilayah itu tak perlu meninggalkan warisan tradisi mereka jika ingin sukses.

"Saya kira masyarakat Muslim di Australia Barat harus tetap menjalankan apa yang dipraktekkan selama ini," katanya.

"Di Katanning, kami telah menyatukan diri, menunjukkan keunikan tersendiri sehingga orang menghormati kami," jelas Alep.

"Terlepas dari perbedaan sudut pandang, kita dapat memahami cara hidup orang lain dan mengadopsi budayanya," katanya.

Hazara women in traditional dress in colourful room with children
Imigran Hazara Leedah Haidary (kanan) dan Nooria Naseria ingin belajar budaya Australia. (ABC News: Aaron Fernandes)


Pendatang Afrika

Berbeda dengan di wilayah pedalaman, tantangan yang dialami kaum pendatang di Kota Perth jauh lebih kompleks.

Seorang pendatang asal Pantai Gading Afrika, Jo Tuazama, tiba di Australia pada 2008 sebagai pengungsi.

"Ketika tiba di sini saya melihat banyak kesempatan karena saya datang dari tempat yang tak punya harapan," katanya kepada ABC.

"Semuanya baik-baik saja di sini tetapi kita harus bekerja keras mendapatkannya. Tidak gratis," tambahnya.

Tuazama mengaku awalnya dia mengalami diskriminasi rasial.

"Ada rasisme yang terlembagakan, ada juga rasisme sistemik. Orang melihat dan menilai Anda dari penampilan," katanya.

"Jika saya katakan bekerja sebagai insinyur di Rumah Sakit Joondalup, mereka jawab, kamu memperbaiki roda-roda troli ya?" katanya.

Dia selama ini bekerja di bagian teknik biomedis di rumah sakit tersebut.

Tauzama yang kini memimpin Organisasi Masyarakat Afrika di Australia Barat banyak membantu pendatang Afrika agar percaya diri.

"Ada orang Afrika di sini yang berhasil jadi dokter, dosen, insinyur," katanya.

Hal ini yang kurang disadari masyarakat. Karenanya dia bekerja sama Inspektur Don Emanuel-Smith dari kepolisian setempat.

"Awalnya agak sulit karena mereka enggan dan takut dengan polisi," kata Emanuel-Smith.

Jo Tuazama stands alongside WA Police Inspector Don Emanuel-Smith outdoors on a sunny day, posing for a photo.
Inspektur Don Emanuel-Smith dari kepolisian setempat bersama Jo Tuazama dari komunitas Afrika. (ABC News: Briana Shepherd)

Menurut dia, kesalahpahaman tentang migran di kalangan masyarakat umum, termasuk polisi, sangat perlu diatasi.

"Saya telah mendatangi kamp pengungsi di Afrika dan melihat asal orang-orang ini," jelasnya.

Di sana, katanya, para pengungsi ini mendapat perlakuan yang tidak tepat sehingga kurang mempercayai aparat.

Tauzama mengatakan, ada sejumlah pendatang masih hidup dengan cara yang sama saat berada di kamp pengungsian.

Namun dia mengaku optimis kondisi ini bisa diperbaiki, sehingga para pendatang bisa hidup damai bersama dengan masyarakat luas.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed