Banyak Perempuan Australia Merasa Tidak Mendapat Kesetaraan

Australia Plus ABC - detikNews
Selasa, 06 Mar 2018 11:53 WIB
Canberra -

Sebuah survei nasional di Australia menemukan hanya kurang dari sepertiga pekerja perempuan Australia yang merasa diperlakukan adil. Laporan tersebut juga menyebutkan satu dari 10 perempuan pernah mendapat pelecehan seksual.

Periset dari University of Sydney mensurvei lebih dari 2.000 perempuan dan 500 pria di seluruh Australia, berusia antara 16 dan 40, untuk dipelajari sikap dan pengalaman mereka di tempat kerja.

Studi tersebut menemukan hanya 31 persen wanita yang disurvei yang diyakini mendapat perlakuan setara di tempat kerja. Sementara 50 persen pria merasa sudah ada kesetaraan di tempat kerja.

Ketika ditanya tentang ketidaksetaraan gender di tempat kerja, seorang responden asal Brisbane mengatakan:

"Saya pergi rapat dengan seorang dokter beberapa hari yang lalu."

"Saat saya jalan keluar, ia berkata pada salah satu dokter lain, 'Oh astaga, dia adalah 'perempuan liar' bukan?'

"Saya merasa tidak dihargai, karena saya rasa kita tidak mengatakan hal itu kepada rekan pria saya."

Seorang perempuan asal Sydney yang berkecimpung di bidang hukum merinci pengalamannya:

"Saya pikir banyak orang di industri hukum suka berpura-pura mengakui kesetaraan, tapi saya rasa tidak ada [persamaan]."

"Saya ada pengalaman saat seorang hakim berkata kepada saya 'Buktikan kepada saya bahwa Anda lebih dari sekadar berambut pirang dan bermata biru'."

Salah satu penulis laporan, Profesor Rae Cooper mengatakan temuan ketidaksetaraan gender di tempat kerja mengkhawatirkan, namun dalam beberapa hal tidak mengherankan.

"Sesuatu yang benar-benar mengejutkan dalam temuan kami adalah lebih dari separuh perempuan yang kami survei menganggap tempat kerja tidak setara, dan merasa pekerja pria diperlakukan lebih baik daripada perempuan," katanya.

"Dalam beberapa hal, tidak mengherankan jika perempuan memiliki pandangan seperti itu, karena kita tahu perempuan menghadapi kesenjangan dan terjebak dalam pekerjaan dan karir mereka."

Survei tersebut mengungkapkan perempuan muda sering merasa "tidak dihargai" oleh rekan senior karena jenis kelamin mereka, dan ini terjadi baik pada pekerja profesional bergaji tinggi dan pekerja dengan upah rendah.

Empat dari lima perempuan menilai "diperlakukan secara terhormat" sebagai sebuah faktor penting di tempat kerja.

Pelecehan di tempat kerja benar-benar terjadi

Studi tersebut juga menemukan 10 persen responden perempuan dilaporkan pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja.

"Dipegang dan dilecehkan secara fisik tentu terjadi di tempat kerja kita," kata Profesor Cooper.

"Dari 2.000 perempuan, 200 di antaranya melaporkan kepada kami bahwa saat ini mereka mengalami pelecehan seksual."

"Ada banyak pelecehan seksual yang tidak dilaporkan, jadi mungkin sebenarnya lebih tinggi."

"Ini adalah pengalaman yang umum terjadi, baik perempuan yang telah mengalaminya sendiri, atau mereka yang pernah jadi saksi, atau memiliki teman dan kolega yang sudah mengalaminya.

"Mulai dari lelucon dan penghinaan kepada orang yang mungkin kita golongkan sebagai penyerangan fisik."

Beberapa kelompok perempuan melaporkan tingkat pelecehan yang lebih tinggi.

Survei tersebut menemukan 18 persen perempuan difabel, 16 persen perempuan dari latar belakang etnis atau bahasa lain, serta 14 persen perempuan yang saat sedang belajar, dilaporkan pernah mengalami pelecehan.

Laporan setebal 111 halaman tersebut juga menemukan tempat kerja tidak memadai untuk menampung aspirasi karir perempuan muda.

Sekitar 90 persen perempuan yang disurvei mengatakan fleksibilitas di tempat kerja sebagai hal penting, namun hanya 16 persen yang sangat setuju bahwa mereka memiliki akses terhadap fleksibilitas yang dibutuhkan.

Hanya 40 persen yang mengatakan mereka memiliki akses untuk mendapat pelatihan agar mereka bisa melakukan pekerjaan lebih baik

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.



(ita/ita)