Kekhawatiran soal perang nuklir mungkin saja terjadi, sosok pemimpin diktator yang temperamental, serta kematian seorang muda Amerika yang brutal, akan menjadi penghalang bagi beberapa orang. Tapi tidak untuk warga Australia yang memiliki jiwa petualang.
Sebuah kelompok tur yang terorganisir mengaku mereka membawa 500 orang warga Australia ke negara yang terisolir tersebut setiap tahunnya.
Bulan Juli 2017, di saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un bersitegang soal uji coba rudal balistik milik Korea Utara, setidaknya ada dua kelompok warga Australia yang berlibur di sana.
Alex Sigley kelahiran Perth menjalankan usahanya, Tongil Tours, yang membawa salah satu kelompok di sana.
"Ini adalah negara yang menarik, tidak ada negara lain di dunia seperti Korea Utara," kata Alex.
"Jika menurut kami tidak aman, tentu kami tak akan melakukan tur ini."
"Kami tentu tidak bertanggung jawab secara moral dan hukum untuk membawa orang ke Korea Utara, jika pergi ke negara itu berbahaya."
Sekelompok pelajar berfoto bersama dengan latar belakang sebuah gedung di Korea Utara. (Supplied: Tongil Tours)
Kelompok dari Australia tersebut akan kembali untuk perayaan malam Tahun Baru dan awal tahun depan untuk menikmati salju.
"Ketika Anda melihat bagaimana Korea Utara ditampilkan di media, selalu tentang senjata nuklir atau Kim Jong-un," kata Alex.
"Tapi dengan pergi ke sana dan bertemu orang-orang adalah cara yang sangat penting bagi warga Korea Utara dan Australia untuk menepis anggapan negatif tersebut."
Pensiunan asal Brisbane, Raymond Ferguson memiliki misi tersebut dalam hidupnya.
Sebagai sekretaris Asosiasi Persahabatan Republik Demokratik Korea Utara di Australia, ia berada di Korea Utara pada bulan Agustus lalu. Kunjungan tersebut menjadi yang ke-14 kalinya.
"Ada kesalahpahaman di antara orang-orang di Australia soal posisi politik Korea Utara," katanya.
"Kita bebas mengunjungi tempat-tempat, tentu saja ada pemandunya, kami memerlukan panduan untuk memberikan penjelasan, tak ada hal yang menakutkan."
"Saya sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan saya di Korea Utara, saya tak pernah merasakan sebuah tempat yang lebih aman."
Visa untuk berlibur di Korea Utara (Supplied: Raymond Ferguson)
Raymond sedang dalam sebuah misi untuk mengubah citra negara yang berkesan rahasia ini sebagai sebuah demokrasi yang cukup menanggapi pertikaian dari Amerika Serikat dan Australia.
Dan ia menepis pelecehan hak asasi manusia yang meluas di Korea Utara sebagai informasi yang keliru.
"Negara Korea Utara menyediakan pendidikan gratis, pengobatan gratis, rumah sakit gratis dan mereka bahkan menyediakan perumahan gratis," kata Raymond.
Wisatawan hanya diperbolehkan mengunjungi Korea Utara lewat tur resmi yang disetujui.
Mereka dikawal oleh pemandu lokal dan diajak melihat Korea Utara dari versi yang sudah 'dibersihkan'.
Lewat situs Smart Traveler, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) memperingatkan warga Australia untuk mempertimbangkan kembali keinginan mereka untuk mengunjungi Korea Utara.
Namun Korea Utara tidak berada dalam daftar negara yang tidak boleh dikunjungi.
"Pertimbangkan kembali kebutuhan Anda untuk melakukan perjalanan ke Korea Utara, karena ada pembatasan bagi orang asing, serta ada undang-undang dan peraturan yang berbeda, juga ancaman Korea Utara yang kadang-kadang ada terhadap kepentingan internasional," katanya.
"Ini berarti menunda perjalanan yang tidak penting atau pilihlah tujuan yang kurang berisiko."
Simak beritanya dalam bahasa Inggris lewat artikel berikut. (ita/ita)











































