Pencarian Marinir AS yang Hilang di Perairan Australia Dihentikan

Pencarian Marinir AS yang Hilang di Perairan Australia Dihentikan

Australia Plus ABC - detikNews
Senin, 07 Agu 2017 09:46 WIB
Pencarian Marinir AS yang Hilang di Perairan Australia Dihentikan
Washington -

Otoritas Amerika Serikat telah memastikan mereka tidak lagi berharap dapat menemukan tiga orang personel marinir mereka dalam keadaan hidup, menyusul operasi penyelamatan yang beralih ke "usaha pemulihan" setelah sebuah pesawat militer tersebut jatuh sekitar 30 kilometer di lepas pantai Queensland pada Sabtu (5/8/2017) kemarin.

Sebanyak dua puluh enam orang awak kapal berada di pesawat MV-22 Osprey saat pesawat itu terlibat dalam sebuah "kecelakaan" sekitar pukul 16:00 waktu setempat (AEST) kemarin (5/8/2016), kata pihak berwenang AS.

Pencarian untuk awak kapal itu terus berlanjut sepanjang malam namun dihentikan pada minggu pagi (6/8/2017) ini.

"Operasi sekarang beralih ke upaya pemulihan," sebuah pernyataan dari III Marine Expeditionary Force (III MEF).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keluarga terdekat dari tiga marinir yang hilang telah diberitahu."

MEF III mengatakan bahwa upaya pemulihan akan berlanjut "saat kondisi laut memungkinkan" dengan bantuan dari Angkatan Pertahanan Australia.
"Operasi pemulihan dan penyelamatan bisa memakan waktu beberapa bulan sampai selesai," bunyi pernyataan tersebut.

"Keadaan kecelakaan saat ini sedang diselidiki, dan saat ini tidak ada informasi tambahan."

Pencarian MV-22 Osprey milik AS
Pencarian besar-besaran dilakukan untuk mencari 3 personil militer AS yang dikhawatirkan telah meninggal dunia saat pesawat MV-22 Osprey milik AS jatuh di lepas pantai Queensland pada Sabtu (5/8/2017). (ABC News)


Sebelumnya, III MEF mengatakan bahwa pesawat Osprey yang mengalami kecelakaan ini telah diluncurkan dari Kapal Induk Korps Marinir Amerika Serikat (USMC), USS Bonhomme Richard dan melakukan "operasi terjadwal secara teratur" saat pesawat itu "jatuh ke air".

Sebanyak dua puluh tiga orang personil berhasil diselamatkan dalam waktu satu jam, termasuk satu anggota marinir yang dilarikan ke Rumah Sakit Rockhampton.

"Marilah berbelasungkawa dan berdoa bagi keluarga dari orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan Osprey di dekat Australia," pernyataan Komandan USMC, Robert Neller yang diunggah di akun Tweeter-nya.

Sementara Menteri Pertahanan Federal Australia, Marise Payne mengkonfirmasi tadi malam bahwa tidak ada personil Australia yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.

"Saya telah memberi tahu Perdana Menteri Malcolm Turnbull dan berbicara dengan Sekretaris [James] Mattis malam ini untuk menawarkan dukungan Australia dengan cara apapun yang dapat membantu," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Kami berbelasungkawa kepada kru dan keluarga korban."

Menteri Utama, Queensland Annastacia Palaszczuk mengatakan bahwa semua warga Queensland berdoa untuk personel militer AS yang terlibat dalam insiden tersebut".

Pesawat tersebut berada di Queensland sebagai bagian dari latihan militer gabungan Indonesia -Australia Talisman Sabre, yang berakhir pada 25 Juli.
Sebuah posting di halaman Facebook USS Bonhomme Richard pada hari Sabtu (5/8/2017) mengatakan bahwa pendaratan helikopter tersebut telah memulai "pelatihan integrasi amfibi ... latihan di Laut Coral ini".

Truk medis di Rumah Sakit Rockhampton, Queensland
Salah seorang marinir AS dilarikan ke RS Rockhampton (ABC News: Isabella Higgins)


Pesawat dengan tampilan fisik yang tidak biasa ini yang terlibat dalam kecelakaan pada Sabtu (5/8/2017) kemarin saat melakukan latihan gabungan Talisman Sabre ini di lepas pantai Teluk Shoalwater ini telah digambarkan sebagai "sebuah pesawat yang sangat sulit untuk diterbangkan".
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertahanan Australia, Neil James, mengatakan bahwa pesawat Osprey tidak seperti pesawat lainnya.

"Kesulitan ini ada hubungannya dengan sistem operasi pesawat ini, dimana pesawat ini memiliki sayap putar dan juga sayap tetap dan itu membuat pesawat ini sangat unik terutama saat mendarat atau lepas landas," kata Neil James.

Meskipun memiliki kesulitan di bagian tersebut, Osprey memiliki catatan keamanan yang bagus, katanya.

"Tercatat baru terjadi 10 kecelakaan selama periode hampir 20 tahun dengan banyaknya jam terbang pesawat itu termasuk 18.000 jam aneh dalam pertempuran sehingga rasio kecelakaan pada badan pesawat ini selama masa operasinya tidak terlalu tinggi, terutama untuk sesuatu yang sangat sulit untuk diterbangkan, "kata Neil James.

"Sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh kesulitan menerbangkannya."

Dua personil militer di Bandara Militer AU Australia (RAAF)
Dua personil militer menyaksikan tibanya 4 pesawat MV-22 Ospreys mendara di Bandara Militer AU Australia (RAAF) di Darwin (28/7/2017). Ini merupakan penerbangan trans-Pasifik pertama bagi pesawat itu dalam sejarah. (ABC News)

Dia mengatakan pemulihan dan penyelamatan akan diutamakan untuk Mengevakuasi mayat Marinir AS yang hilang. "Jika kru udara yang hilang itu sudah tewas mati, mereka kemungkinan masih berada di pesawat terbang tersebut," kata Neil James.

Osprey adalah pesawat tilt-rotor yang lepas landas dan mendarat seperti helikopter, tapi terbang seperti pesawat terbang. Pesawat ini telah terlibat dalam serangkaian kecelakaan berprofil tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Pada bulan Desember, lima awak kapal sebuah kapal Osprey harus diselamatkan setelah pesawat mereka melakukan pendaratan di air dangkal di Okinawa, Jepang setelah terjadi kecelakaan pelatihan di mana pisau rotor memotong selang pengisian bahan bakar, menurut Angkatan Ekspedisi Marinir.

Pada bulan Januari, tiga tentara AS terluka dalam "pendaratan keras" Osprey di Yaman.

Latihan Talisman Saber atau juga biasa dieja Talisman Sabre ini adalah latihan militer gabungan AS dan Australia setiap dua tahun di enam lokasi di Australia tengah, dan di zona ekonomi eksklusif Australia di sebelah utara.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.

Diterjemahkan pada 6/8/2017 oleh Iffah Nur Arifah.

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads