Upaya Global Memutus Mata Rantai Berita Hoax

Upaya Global Memutus Mata Rantai Berita Hoax

Australia Plus ABC - detikNews
Selasa, 09 Mei 2017 10:19 WIB
Upaya Global Memutus Mata Rantai Berita Hoax
Jakarta -

Di tengah maraknya peredaran berita palsu, hoax maupun klaim palsu di media sosial dan internet sekarang ini, media arus utama dan jurnalis perlu menyusun strategi bersama untuk merespons tantangan terkait kepercayaan dan kebenaran di era digital.

Persebaran berita palsu atau hoax saat ini semakin mengkhawatirkan. Peredarannya di dunia maya yang sulit dikendalikan, dikhawatirkan dapat menjerumuskan para pengguna internet ke dalam fitnah serta provokasi tak berdasar.

Tak heran jika fenomena berita hoax ini menjadi salah satu isu utama yang menjadi sorotan dalam penyelenggaraan World Press Freedom Day (WPFD) atau Hari Kebebasan Pers Sedunia 2017 yang dilaksanakan pekan lalu di Jakarta.

Flip Prior, jurnalis dan Digital Media StrategistAustralian Broadcasting Corporation (ABC) yang menjadi pembicara dalam sesi Pelatihan Google fact checking dan verifikasi sosial di event WPFD 2017 tersebut mengatakan maraknya berita hoax telah menjadikan verifikasi fakta atau fact checking menjadi salah satu proses yang amat penting yang harus dilakukan media dan jurnalis.

"Tidak pernah ada waktu sepenting sekarang ini dalam melakukan fact-checking bagi setiap orang terlebih lagi media dan jurnalis. Ada begitu banyak misinformasi dan disinformasi yang beredar di internet.

"Sebagai seorang jurnalis, mereka memiliki tanggung jawab tambahan untuk bersikap ekstra hati-hati dalam melakukan verifikasi fakta mengenai informasi yang akan diberitakannya.

Jurnalis perlu selalu bersikap skeptis terhadap informasi yang beredar di internet.

Lakukan lima langkah verifikasi, periksa apakah itu kabar atau muatan versi asli atau sudah diedit, periksa latar belakang dan jejak digital orang yang menyebarkan, dimana dan kapan muatan itu diambil dan mengapa muatan itu diambil," kata Flip Prior saat diwawancarai oleh jurnalis Australia Plus, Iffah Nur Arifah di Jakarta.

Flip Prior
Flip Prior, jurnalis dan Digital Media Strategist Australian Broadcasting Corporation (ABC) memberikan pelatihan Google Fact Checking and Social verification di acara World Press Freedom Day (WPFD) 2017 di Jakarta (2/5/2017). (Foto: Iffah Nur Arifah)

Dalam sesi pelatihan ini, Flip Prior mewakili ABC memaparkan berbagai tools di internet yang bisa digunakan jurnalis untuk melakukan fact checking.

"Ada banyak sumber daya tersedia gratis di internet yang bisa digunakan jurnalis untuk mem-verifikasi informasi."

"Sehingga Ia tidak hanya bisa mengatakan informasi atau muatan ini tidak benar, tapi menegaskan informasi ini tidak betul dan menunjukkan ini usaha yang kami lakukan untuk membuktikan informasi ini hoax dan saya rasa publik perlu melihat dan memahami proses mendapatkan informasi tersebut. Dan ini merupakan tren yang sekarang sedang berkembang," ungkap jurnalis asal Sydney ini.

Kolaborasi dengan RMIT

Selain kemampuan individu jurnalis, Flip Prior mengatakan organisasi media juga perlu memiliki strategi untuk melawan hoax. Mulai dari membentuk unit khusus fact checking, membangun kolaborasi lintas organisasi media arus utama hingga menyewa jasa bisnis verifikasi sosial, di samping tentu saja mengandalkan partisipasi masyarakat dalam melawan hoax seperti gerakan turnback Hoax di Indonesia.

ABC misalnya berkolaborasi dengan RMIT University membentuk joint venture RMIT ABC Fact Check unit.

Ini merupakan lanjutan dari kerjasama kedua institusi ini dalam program Fact Check ABC yang sudah berakhir pada Juli 2016 lalu karena masalah pendanaan.

Gordon Ferrer, dosen jurusan jurnalistik di RMIT university yang menjadi Chief Investigator di joint venture ini menilai kolaborasi media dan perguruan tinggi ini sebagai salah satu model fact checking yang cukup baik.

"Upaya fact checking ini menyita waktu, sumber daya dan juga uang, dan kebanyakan institusi media tradisional sekarang bisnisnya sedang sekarat karena internet, jadi sangat sulit media tradisional melakukan fact checking."

"Jadi saya melihat alangkah baiknya jika institusi media milik publik seperti ABC bekerjasama dengan universitas untuk melakukan tugas ini. Karena kita memiliki kesamaan sebagai lembaga yang tidak memiliki keharusan untuk mencari keuntungan komersil. Jadi kami mampu melakukan ini. Dan fact checking penting dilakukan."

" Selain itu disatu sisi, kami bisa mengajarkan metode fact checking kepada mahasiswa kami. Sambil memberitahu para politisi kalau kami mengawasi mereka dan kami akan memverifikasi pernyataan mereka,"

Gordon Ferrer
Gordon Ferrer, dosen jurusan jurnalistik di RMIT university menjelaskan Program joint venture RMIT ABC Fact Check Unit kepada peserta pelatihan di WPFD 2017 di Jakarta. (Iffah Nur Arifah)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Koalisi global melawan hoax

Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan yang sedang diinisiasi oleh Firstdraft, sebuah koalisi non profit yang dibentuk tahun 2015 lalu untuk menyikapi fenomena hoax.

Pada September 2016 lalu, koalisi ini juga membentuk jaringan mitra global yang terdiri dari berbagai organisasi media internasional, organisasi pegiat HAM dan akademisi di seluruh dunia. ABC ikut ambil bagian dalam jaringan ini.

"Hoax adalah masalah besar yang dihadapi dunia. Dan mengingat besarnya skala tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menghadapi kabar bohong dan klaim palsu ini maka situasi ini hanya bisa ditangani melalui kolaborasi global dari berbagai organisasi di dunia untuk mencari solusi dari masalah ini." kata Flip Prior.

Firstdraft bekerja sama dengan Google banyak memberikan pelatihan fact checking dan memverifikasi muatan dengan perangkat verifikasi terbaru kepada jurnalis dan masyarakat di berbagai negara.

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads