Dengan sedikitnya 60 orang setiap minggunya mendaftar untuk mendapatkan kaki atau tangan palsu di Suriah dan Afghanistan, kalangan kedokteran di sana kewalahan melayani permintaan.
Sekarang sebuah program bernama Human Study mencoba membantu dengan menggunakan internet, juga menjangkau para siswa yang berada di lokasi-lokasi paling berbahaya di dunia.
Louise Puli adalah ahli membuat kaki palsu (prosthetist) dan tangan palsu (orthotist) yang tinggal di Melbourne.
"Saya sebenarnya mengetahui program Human Study ini ketika saya bekerja di Tanzania, dan saya bisa melihat betapa besarnya keperluan akan kaki dan tangan palsu di negara-negara berkembang."
"Setiap hari kami menggunakan berbagai metode misalnya Whatsapp atau Viber, Skype, kadang mereka mengirimkan informasi mengenai apa yang sedang mereka lakukan, dan bila memungkinkan kami melakukan pembicaraan langsung mengenai apa yang sedang mereka lakukan dengan pasien." kata Puli.
Para pasien yang baru mendapatkan kaki palsu di Suriah. (Supplied: Humam Sadek)
Humam Sadek, 21, dari Aleppo di Suriah adalah pekerja pembuat kaki palsu dan sekarang sedang belajar untuk mendapatkan gelar sarjana dengan Dr Puli.
Saudara laki-laki Sadek tewas beberapa tahun lalu dalam aksi protes terhadap pemerintah Suriah, dan dia sudah melihat banyak korban yang terkena ranjau selama konflik di sana beberapa tahun terakhir.
"Teman saya, dia memiliki adik laki-laki yang kehilangan kedua kakinya karena bom barel, jadi saya ingin belajar," katanya.
Tetapi Sadek mengatakan konflik yang terus berlangsung membuat pekerjaan dan studinya kadang terganggu.
"Perang di Suriah, tidak ada aturan sama sekali, karena sering kali rumah sakit menjadi sasaran pemboman," kata Sadek.
"Dalam satu bulan mereka membom empat rumah sakit di daerah kami, sehingga berbahaya sekali bagi siapa saja yang bekerja di daerah konflik," imbuhnya.
Mahpekay Sidiqy sedang belajar bagaimana membuat kaki palsu di Kabul (Afghanistan).
Dia kehilangan kedua kakinya ketika masih kecil ketika dia menginjak ranjau darat.
Mahpekay Sidiqy bersama seorang pasien di Afghanistan. (Supplied: Mahbekay Sidiqy)"Jumlah mereka yang menjadi cacat meningkat setiap hari di Afghanistan karena perang," katanya.
Sidiqy mengatakan dia ingin menekuni bidang pembuatan kaki palsu ini karena hanya sedikit sekali perempuan yang bekerja di bidang ini di Afghanistan.
Puli mengatakan, memberdayakan mereka guna membantu komunitas sendiri merupakan hal yang membanggakan dirinya.
"Orang melihat diri mereka sendiri, merasa berharga, merasa berguna, kalau dirinya lengkap secara fisik dan kadang mereka sulit mendapatkan pekerjaan, atau mengikuti pendidikan, kalau mereka cacat," kata Puli.
Diterjemahkan pukul 13:40 AEST 4/4/2017 oleh Sastra Wijaya dan simak artikelnya dalam bahasa Inggris di sini (ita/ita)











































