Komet Halley Membawa Astronom China Menjelajah Hingga ke Australia

Australia Plus ABC - detikNews
Senin, 03 Apr 2017 14:15 WIB
Canberra -

Terakhir kali Komet Halley menampakkan diri di dekat Bumi pada 1986, hal itu menjadi awal perjalanan karir astronomi seorang anak kecil, yang akhirnya membawa dirinya ke Beijing, Arizona, dan sekarang Canberra.

Ketika Komet Halley muncul, banyak warga di berbagai negara ke luar rumah dan mencari tahu apakah mereka bisa melihat sang komet di tengah langit malam.

Salah satunya adalah Fuyan Bin, seorang pemuda yang tumbuh di kota Benxi, di Provinsi Liaoning, China.

Halley's Comet
A photo of Halley's Comet from it's near-Earth visit in 1986. (Credit: NASA)

"Paman dan ayah saya ke luar rumah dan menggunakan teropong kecil, mencoba mencari komet itu," kenang Dr Fuyan Bian, yang kini menjadi astronom di Observatorium Mount Stromlo, Australian National University (ANU) di Canberra. "Beberapa malam saya juga pergi dengan mereka."

Meski trio ini tak berhasil menemukan komet, pengalaman pertama Dr Bian tentang astronomi adalah kenangan yang mengesankan.

"Saya terkesan dengan... semua bintang di langit," ungkapnya.

Ayah Dr Bian adalah penggemar sains dan membaca jurnal China yang bernama Amateur Astronomer setiap bulannya. Ketika masih di SMP, dia mulai membaca jurnal itu juga, dan terjerat dalam astronomi.

"Memiliki teleskop sendiri adalah salah satu impian saya," katanya.

"Pada saat itu, keluarga saya tak terlalu kaya sehingga teleskop, pada dasarnya, hal yang sangat mahal bagi mereka," aku Dr Bian.

Selain itu, tak ada pula toko yang menjual teleskop di kota kecil di mana mereka tinggal.

Tak sampai di usia 16 tahun, akhirnya ayah Dr Bian mampu membelikan sang putra teleskop pertamanya.

"Saya benar-benar menghargai ayah saya untuk hal itu," sebutnya.

Sementara kebanyakan orang tua di China ingin agar anak-anak mereka memfokuskan semua energi ke tugas sekolah, ayah Dr Bian itu lebih berpikiran terbuka dan mendorong minat putranya dalam astronomi.

Sang ayah menjalani masa remaja selama Revolusi Kebudayaan di China dan tak bisa menyelesaikan sekolahnya dan harus bekerja sebagai sopir untuk sebuah pabrik sebagai gantinya.

"Saya pikir ia menyesal bahwa ia tidak menyelesaikan sekolah," kata Dr Bian. "Ia mendukung saya sepenuhnya dan pada dasarnya saya membuat mimpinya jadi kenyataan."

Mengejar karir di bidang astronomi

Namun keinginan Dr Bian untuk melanjutkan studi lebih lanjut dalam bidang astronomi menghadapi rintangan, ketika ia tak bisa menemukan program astronomi di universitas yang bisa menampungnya.

"Pada waktu itu di China, hanya ada empat perguruan tinggi [yang] menawarkan jurusan astronomi dan ... mereka hanya merekrut sekitar 20 atau 30 mahasiswa," tuturnya.

Pada tahun di saat Dr Bian melamar ke jurusan itu, empat universitas tersebut tak ingin merekrut mahasiswa manapun dari provinsinya.

"Jadi ceritanya bahwa saya tahu tak ada harapan bagi saya di tahun itu untuk masuk ke jurusan astronomi manapun."

Atas saran seorang astronom yang ia kenal, Dr Bian mulai mengejar gelar Sarjana Fisika di Universitas Tsinghua di Beijing sebagai gantinya.

Dua tahun kemudian, universitas itu mendirikan Pusat Astrofisika Tsinghua, dan Dr Bian bisa belajar di sana.

Supernova G1.9+0.3
A supernova is an exploding star (Credit: NASA/CXC/CfA/S. Chakraborti et al)

"Saya terlibat dalam proyek teoritis dan pengamatan, dan ternyata saya lebih suka proyek observasional ketimbang teori," ungkapnya.

Ia tetap tinggal di Tsinghua untuk melanjutkan gelar master.

"Sebenarnya saya adalah ... mahasiswa pertama di universitas itu yang menemukan supernova di China, pada dasarnya hal tersebut menjadi berita besar pada waktu itu."

Meneliti ujung alam semesta

Dr Bian benar-benar menyukai galaksi, ia khususnya mempelajari galaksi yang sangat jauh.

Karena waktu yang dibutuhkan bagi cahaya dari galaksi itu untuk menjangkau Bumi, ia melihat kembali masa ketika galaksi ini masih bayi, satu hingga dua miliar tahun setelah peristiwa Big Bang (yang berlangsung sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu) terjadi.

"Pada dasarnya saya ingin meneliti ujung alam semesta," kata Dr Bian, itulah sebabnya ia pergi ke Universitas Arizona di tahun 2007 untuk melakukan studi PhD-nya karena mereka memiliki program bagus yang melakukan jenis penelitian observasional.

Ia mengatakan, dengan mempelajari bagaimana galaksi-galaksi yang sangat jauh ini terbentuk, kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana galaksi terbentuk secara umum, seperti galaksi Bima Sakti kita sendiri, dan bagaimana mereka berevolusi dengan waktu kosmik.

Ada dua alasan mengapa penelitian tersebut begitu penting.

"Saya pikir, alasan pertama adalah rasa ingin tahu karena kita semua ingin tahu ... mengapa alam semesta terlihat seperti ini."

Dan kita harus mendorong teknologi -- teleskop dan kamera kita -- hingga batas maksimal untuk melihat galaksi yang jauh, kata Dr Bian.

Galaksi-galaksi ini satu miliar kali lebih redup dibanding bintang teredup di langit yang bisa kita lihat dengan mata telanjang.

Mengamati langit belahan Bumi selatan
Man standing in front of an observatory
Dr Fuyan Bian at Mount Stromlo Observatory where he now works (Supplied: Fuyan Bian)

Setelah menyelesaikan PhD di Amerika Serikat pada tahun 2013, Dr Bian melamar pekerjaan yang berbeda. Ia memilih untuk menjadi peneliti Stromlo di ANU sebagian karena universitas ini mendapatkan slot untuk dua teleskop Keck di Hawaii - teleskop optik dan inframerah terbesar di dunia - yang ia banyak gunakan untuk penelitiannya.

Tapi langit selatan membuat beberapa astronom terbiasa.

"Ini sangat berbeda. Pada dasarnya semuanya terbalik," kata Dr Bian, meskipun langit selatan memiliki hal yang menarik.

"Ketika saya pindah ke Australia, beberapa minggu pertama saya benar-benar menghabiskan waktu saya di gunung, mereka menawarkan saya sebuah rumah kecil di sana."

"Putri saya dan saya kadang-kadang pergi ke luar untuk mencari Awan Magellan dan beruntung kami berhasil [menemukan mereka]."

Sepertinya kecintaan Dr Bian terhadap astronomi diwariskan ke generasi berikutnya.

Diterjemahkan Senin Pukul 10:30 AEST 3 April 2017. Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.



(ita/ita)