Banyak tim kriket yang bermain tanpa status Test, terutama di negara-negara berkembang dan yang semuanya sangat menggemari permainan olahraga yang satu ini.
Beberapa di antara mereka kini berada di Bendigo, di pedalaman Negara Bagian Victoria, Australia. Mereka bertanding dalam kualifikasi International Cricket Council (ICC) World Cricket League East Asia-Pacific.
Ada enam tim yang berlaga, dari Fiji, Indonesia, Jepang, Filipina, Samoa dan Vanuatu. Mereka bersaing memenangkan liga ini untuk meningkatkan peringkat ICC mereka ke Divisi 5.
Ini mungkin peringkat terendah di ICC namun tim pemenang bisa lolos ke Piala Dunia.
Tekad untuk berbuat yang terbaikLahir di Jakarta, Rizky Tri Rubbi (24) mahasiswa asal Sydney, mulai belajar bermain kriket saat duduk di bangku SMA di Australia.
"Dimana pun saya berada, dimana pun saya tinggal sekarang, saya masih mencintai negaraku. Ada bedanya antara bermain di klub dan bermain untuk negara Anda," katanya kepada wartawan ABC Larissa Romensky.
"Anda pasti merasakan tekad yang mendorong Anda ingin berbuat yang terbaik dan Anda tidak ingin mengecewakan negara Anda," kata Rizky.
"Kriket mengajarkan banyak hal, bukan hanya di lapangan tapi juga di luar lapangan," tambahnya.
"Anda harus disiplin, harus bekerja keras untuk meraih sukses sama seperti dalam hidup ini. Anda tidak bisa mendapatkan apa-apa secara instan," katanya.
Asyik bersama rekan setim
Mahasiswa hukumNalinNipiko berkeliling dunia karena kriket.ABC Central Victoria: Larissa Romensky
"Kriket sangat berarti bagiku karena banyak melakukan perjalanan. Jadinya mengenal tempat-tempat di negara lain," kata Nalin Nipiko (21) dari Vanuatu.
"Tetapi hal terbaik tentang kriket adalah asyiknya bersama dengan rekan setim saya. Saya berteman baik dengan mereka semua," katanya.
Mengubah hidup
TsuyoshiTakada asal Jepang sudah empat kali mengunjungi Australia.ABC Central Victoria: Larissa Romensky
"Kriket mengubah hidup saya. Olahraga ini membawaku saya ke banyak tempat asing," kata Tsuyoshi Takada (22) dari Jepang.
"Setiap orang berbeda-beda dan saya belajar bagaimana berkomunikasi dengan pemain lain dan belajar bahasa Inggris," ujarnya.
Mewakili negara ibu
Mahasiswa hukumDanielSmith berkewarganegaraan Australia dan Filipina dan direkrut saat bermain diSydney.ABC Central Victoria: Larissa Romensky
"Ini sesuatu yang saya sukai, sesuatu yang saya lakukan sepanjang hidupku," kata pemain Filipina Daniel Smith (24).
"Saya tidak bisa hanya menjalani hidup dan kerja tanpa melakukan apa pun di akhir pekan," katanya.
"Dengan mewakili negara ibuku, saya tahu dia sangat bangga. Perasaan yang baik sekali bagiku," tambahnya.
Penggemar Ricky Ponting
SevokaRavoka sudah bermain kriket selama 14 tahun dan bekerja untukCricketFiji.ABC Central Victoria: Larissa Romensky
"Saya ingat saat masih kecil dan menonton di TV ada Ricky Ponting dan para pemain bintang lainnya," kata Sevoka Ravoka (30) dari Fiji.
"Tokoh panutan saya adalah Ricky Ponting," ujarnya.
"Saya mulai bermain kriket saat masih 17 tahun dan saya tidak pernah meninggalkannya. Aku mencintai olahraga ini," tukasnya.
Lebih aman daripada rugby
CricketSamoa'sPritchardPritchardstartedplaying at 17andhisfavouriteplayer isNewZealand'sRossTaylor.ABC Central Victoria: Larissa Romensky
PritchardPritchard dariCricketVanuatu mulai bermain kriket usia 17 tahun. PemainfavoritnyaRossTaylor dari Selandia Baru.ABC Central Victoria: Larissa Romensky
"Rugby olahraga nomor satu di Samoa namun saya tidak suka bermain rugby. Saya suka kriket," kata pemain asal Samoa Pritchard Pritchard (27).
"Saya bisa keliling dunia dan olahraga ini aman. Anda tidak akan mendapatkan banyak cedera," katanya.
Diterbitkan Pukul 11:15 AEST 23 Februari 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris.
(nvc/nvc)











































