Dari ke-75 orang ini hanya 17 pria dewasa dan selebihnya merupakan perempuan dan anak-anak. Termasuk di antaranya keluarga Triyono Utomo yang merupakan lulusan master dari Australia.
Kesemuanya kini ditampung di pinggiran Jakarta, yang untuk pertama kalinya bisa dikunjungi awak media pada Hari Minggu (5/2/2017).
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Suhardi Alius menjelaskan, kelompok ini ditahan di penjara Turki sehingga perlu mendapatkan penyesuaian sebelum bisa dikembalikan ke masyarakat.
Menurut Suhardi Alius, di antara kelompok ini termasuk sejumlah sarjana fisika dan IT.
"Sebelumnya ada pandangan bahwa penyebab pergeseran ideologi karena ketidakadilan, kemiskinan dan kesenjangan sosial. Namun sekarang berubah. Orang-orang terdidik ini juga terinspirasi, yang artinya memang terkait dengan ideologi," ujar Suhardi.
"Menyebar melalui internet, media sosial. Itu jelas," tambahnya.
Suhardi mengatakan pihaknya masih mendalami latar belakang kelompok yang kembali dari Turki.
"Mereka ini berhasil tiba di Turki, namun begitu sampai di sana mereka harus kembali karena tidak bisa masuk ke Suriah, mereka tertahan di perbatasan Turki," jelasnya.
"Sebagian ada yang sampai 11 bulan di sana. Ada yang baru tiba, ada pula yang sudah setahun namun sekarang kembali ke sini," tambahnya lagi.
Sementara itu Mensos Khofifah Indar Parawansa mengatakan anak-anak yang ada dalam kelompok ini memerlukan perhatian khusus.
"Kami tidak akan memisahkan anak-anak ini dari orangtuanya," katanya.
"Proses terapinya masih berjalan. Sebagian di antara mereka masih mengalami trauma akibat penangkapan dan saat mendekam dalam penjara di Turki," ujar Mensos Khofifah.
Diterbitkan Pukul 11:00 AEST 7 Februari 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris. (nwk/nwk)











































