Bagi banyak mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Australia, masa liburan musim panas seperti sekarang ini yang berlangsung selama tiga bulan, banyak digunakan untuk mengunjungi berbagai kota di Australia. Bagi mahasiswi muslim seperti Siti Nurkhasanah, yang sedang menempuh pendidikan S2 di Monash University di Melbourne, mencari tempat salat adalah juga adalah satu kebutuhannya selama berlibur. Bagaimana pengalamannya selama ini?
Liburan Natal dan Tahun baru telah tiba, saatnya menjelajahi negara-negara bagian Australia dengan solo-travelling.
Meski menjadi solo-traveller bisa beresiko lebih besar, misalnya kesasar dan mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari orang tak dikenal, di situlah mental dan spiritual saya tertantang.
Mental disini berarti husnudzon atau menjaga prasangka baik dengan berpola pikir positif maka yang akan ditemui juga positif.
Kemudian makna spiritual diartikan iman di mana sebagai perempuan Muslim yang mengenakan hijab ialah meyakini bahwa saya tidak sendiri tapi ada Tuhan yang Maha Melindungi.
Lebih dari itu, travelling dari Queensland hingga Australian Capital Territory ini memberikan pengalaman yang menakjubkan akan makna toleransi.
Meski tinggal di Australia yang mayoritas agamanya Kristen, namun selama ini tidak susah bagi saya untuk menemukan tempat salat.
Saat menjelajahi kampus di The University of Queensland, Griffith University dan Queensland University of Technology hingga Australian National University (ANU), seperti kampus saya di Monash University Melbourne, kampus-kampus tersebut juga menyediakan ruang ibadah termasuk tempat salat.
Ada yang menyebutnya multifaith building, religious centre dan praying room.
Dilanjutkan menjelajahi kampus berikutnya, University of Bond, di Gold Coast (Queensland) tak disangka saya bisa menemukan Arundel Mosque yang mana merupakan masjid besar untuk pusat dakwah masyarakat Muslim di Gold Coast.
Masjid tersebut secara resmi disetujui oleh pemerintah lokal setelah bertahun-tahun terbinanya hubungan yang baik dengan Muslim di Gold Coast.
Masjid tersebut memiliki fasilitas dan program yang cukup lengkap.
Selain dilengkapi dengan tempat salat untuk laki-laki dan perempuan yang luas dan nyaman, masjid tersebut juga menyediakan program sertifikasi halal, konseling keluarga, kajian pemuda dari paham radikal, adminitrasi pernikahan, sekolah Nurul Islam hingga tempat pemandian jenazah.
Pengalaman mendapatkan kemudahan beribadah berlanjut lagi di Sydney.
Kemudian bersama teman saya, Fenti Forsyth saat kami berada di tengah kota dan lokasi masjid masih jauh, kami pun bisa salat di lapangan St Marys Cathedral.
Siapa sangka bahwa kami menuju Gereja Katolik tersebut untuk melakukan salat.
Selama apa yang kami lakukan tidak menganggu, maka orang lain juga tidak menganggu. Yang terpenting sebagai minoritas ialah menjaga perilaku agar kaum mayoritas tidak Islamophobia (ketakutan terhadap Islam).
Selanjutnya dari kaum mayoritas disini ialah belajar untuk tidak mudah menghakimi adanya Islamisasi.
Hal ini dikarenakan terjangkaunya menemukan masjid dan makanan halal di Australia meskipun Muslim ialah minoritas.
Sederhananya menurut saya, pemerintah Australia berusaha mengakomodir kebutuhan dan mencegah masalah di masyarakat, misalnya tempat beribadah dan makanan halal tersebut memang merupakan kebutuhan masyarakat Muslim.
* Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Siti Nurkhasanah (Ana Stnk) adalah mahasiswa S2 di Monash University dimana dia juga merupakan salah seorang Student Ambassador dan Alumni IAIN Salatiga, Jawa Tengah













































