Ekstremis Religius Bukan Satu-satunya Ancaman Teror di Australia

Ekstremis Religius Bukan Satu-satunya Ancaman Teror di Australia

Australia Plus ABC - detikNews
Senin, 28 Nov 2016 16:15 WIB
Ekstremis Religius Bukan Satu-satunya Ancaman Teror di Australia
Melbourne - Kepala Kepolisian Victoria, Australia, Graham Ashton menegaskan ancaman terorisme lebih luas daripada ekstremis religius, di tengah meningkatnya kemungkinan serangan di dalam negeri Australia menyusul kembalinya orang-orang yang terlibat dalam konflik di negara lain.

Peringatan ini disampaikan di saat para pakar dari 9 negara, termasuk pejabat dari RAID Perancis, bertemu di Melbourne untuk bertukar pengetahuan mengenai penanganan perilaku ekstremis.

Komisioner Graham Ashton mengatakan, fenomena orang-orang yang terlibat konflik di negara lain (foreign fighter) menimbulkan risiko bagi masyarakat.

"Kita menghadapi spektrum yang lebih luas dari orang-orang yang sangat perduli pada isu-isu tertentu dan respon mereka atas isu-isu itu merupakan respon yang diwarnai kekerasan," katanya.

"Ancaman seperti itu sama signifikannya dengan yang sedang kita hadapi saat ini," tambah Komisioner Ashton.

Sebelumnya pada Agustus lalu, Philip Michael Galea (31), ekstremis sayap kanan yang terkait dengan kelompok bernama Reclaim Australia, ditangkap oleh tim anti teror Victoria.

Polisi menuduh pria ini merencanakan serangan terhadap dua lokasi yang terkait dengan organisasi sayap kiri dan diketahui memiliki bahan-bahan pembuat bom.

Dia juga dituduh mencoba merekrut anggota untuk melakukan serangan terhadap sejumlah sasaran di Victoria.

Galea kini menjadi tersangka dengan tuduhan menyiapkan atau merencanakan tindakan teroris dan mengoleksi dokumen untuk memfasilitasi tindakan teroris.

Akan meningkat

Komisioner Ashton menambahkan, eksodus para foreign fighters dari Suriah dan Irak kembali ke Australia akan meningkatkan ancaman adanya serangan, yang kini statusnya dikategorikan "mungkin".

Diketahui sekitar 200 warga Australia bergabung dengan kelompok teroris ISIS.

"Hal itu akan membuat posisi kita lebih bahaya dibandingkan sebelumnya. Hal itu akan meningkat di tahun-tahun mendatang," ujarnya.

Menurut dia, taktik para teroris berubah drastis sejak 11 September, dari serangan mandiri terpisah (lone wolf attacks) menjadi serangan berskala luas yang terkoordinasikan sebagaimana terjadi di Brussels dan Nice.

"Kini kita lebih mengerti bahwa para teroris akan mengadopsi taktik apa saja yang mereka pikir bisa menimbulkan dampak terbesar terkait jumlah korban meninggal," jelasnya.

Komisioner Ashton menambahkan, pihak berwenang perlu memikirkan kembali pendekatan mereka dan memahami lebih baik meningkatnya kelompok teroris yang berbeda, dan apa motivasi mereka.

Diterbitkan Pukul 15:00 AEST 28 November 2016 oleh Farid M. Ibrahim. Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini. (nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads