Florence Pakiding pernah bekerja sebagai dokter di RSUD di kota Sorong, Papua Barat selama empat tahun. Menikah dengan seorang yang bekerja di bidang pertambangan, membuat Florence seringkali hidup terpisah secara jarak dengan suaminya. Baru pada tahun 2012, suaminya mendapatkan posisi di Australia dan Florence memutuskan untuk ikut ke Australia.
Florence kini tinggal bersama keluarganya di Mount Isa. Mount Isa adalah kota yang berada di kawasan gurun di negara bagian Queensland, Australia. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota pertambangan terbesar di dunia yang paling produktif, khususnya untuk produksi timah arang, perak, tembaga, dan seng.
Dengan kondisi lingkungannya, Mount Isa juga menawarkan pengalaman berpetualang, seperti berkemah atau sekedar menikmati keindahan matahari terbenam dari balik gurun pasir. Tak heran jika kota ini pun terus menarik perhatian para pelancong dari dalam dan luar Australia. Terutama di bulan Agustus, saat Mount Isa menjadi tuan rumah salah satu kejuaraan rodeo terbesar di dunia.
Florence mengatakan jarak Mount Isa ke kota besar terdekat, yakni Townsville, bisa dicapai dengan 10 jam mengemudikan mobil. Dari Townsville inilah semua pasokan kebutuhan warga di Mount Isa dipenuhi. Jika jalan terputus karena banjir, misalnya, mengakibatkan kekurangan pasokan kebutuhan.
Berikut kutipan wawancara Erwin Renaldi dari ABC Australia Plus bersama Florence.
Apa yang membuat memilih menetap di Mount Isa?
Alasan utamanya adalah keluarga. Sebelum di Mount Isa, kami tinggal di Mackay, kota di pesisir pantai timur Queensland selama 3,5 tahun. Suami saya bekerja sebagai Field Service, sehingga harus tinggal beberapa hari bahkan berminggu-minggu di tambang-tambang di luar Mackay, karena tidak ada tambang di Mackay. Di Mount Isa ada Mount Isa Mines, tambang besar di tengah-tengah kota. Hampir semua pekerjanya tinggal disini, jadi suami saya juga tidak perlu meninggalkan keluarga berhari-hari
Saya kira ini juga yang jadi alasan keluarga-keluarga lain pindah ke kota ini, keluarga.
Lantas seperti apa kehidupan di Mount Isa?
Suhunya sangat tinggi ... selama 1,5 tahun saya di Mount Isa, suhu tertinggi yang pernah dialami yakni 48 derajat Celcius. Masyarakat di sini lebih senang berada di dalam rumah, karenanya biaya listrik pun sangat tinggi karena pemakaian AC. Tagihannya bisa mencapai AU$ 2.000 [sekitar Rp 20 juta] per tiga bulan per rumah. Biaya hidup di sini sangat tinggi, termasuk yang tertinggi di Australia, terutama untuk perumahan, baik yang disewa maupun yang dijual. Kami sudah terbiasa dengan getaran ledakan tambang yang menggetarkan rumah seperti gempa, setiap hari, pagi dan malam di jam yang sama.
Sebagai kota tambang, kami juga rentan terhadap polusi... namun edukasi dari pemerintah dan pengawasan udara dan air, yang paling terketat di dunia, membuat kami tidak terlalu khawatir.
Dan bagaimana kehidupan bermasyarakat di sana?
Kesan pertama saya saat tiba di kota ini adalah penduduknya sangat ramah kepada pendatang. Selalu menyapa kami di mana saja, walaupun tidak saling kenal. Bahkan anak-anak pun ramah menyapa. Kesan ini membuat pendatang menjadi lebih betah.
Penduduknya tidak banyak, jadi saling kenal satu sama lain. Hal ini yang membuat kepedulian antara satu sama lain lebih erat dibandingkan dengan penduduk di kota-kota besar.
Bisa diceritakan saja kegiatan dan kesibukan Anda di Mount Isa?
Sehari-hari saya di rumah saja sebagai ibu rumah tangga... saya mengantar anak saya ke berbagai playgroup. Saya juga baru saja bergabung bersama Community Action for a Multicultural Society (CAMS) Migrant Women, sebuah layanan pemerintah bekerjasama dengan pihak gereja, yang melayani migran perempuan dari berbagai ras dan agama. Saya juga aktif sebagai reader, atau pembaca kitab suci kepada umat dan pianis yang mengiringi misa.
Peran saya sebagai pianis cukup membanggakan, karena selalu dipuji oleh pastor dengan menyebut nama negara asal saya, Indonesia, dan disambut dengan tepuk tangan dari seluruh umat. Membanggakan karena kami satu-satunya keluarga dari Indonesia di gereja ini.
Dan gereja Katolik Good Shepherd baru-baru ini mendapat perhatian luar biasa, karena memberikan tempat salat bagi umat Muslim. Bagaimana reaksi umat gereja?
Dari sepengetahuan dan sepenglihatan saya, sebelum dan sesudah adanya musala ini, tidak pernah ada masalah. Hubungan gereja dengan kaum Muslim selalu baik. Malah kami sangat bangga bisa menjadi contoh dalam mengasihi sesama tanpa memandang perbedaan, sesuai iman kami. Jemaat juga sudah mengenal dengan baik sebagian jamaat musala tersebut. Bahkan ada jemaat yang menikah dengan jemaah muslim.
Gereja ini berkomitmen untuk mendukung pluralisme sebagai kekayaan yang membangun kota ini. Dengan menyediakan tempat ibadah bagi kaum Muslim yang juga sebagian besar adalah kaum migran sudah merupakan keputusan yang tepat.
Kegiatan apalagi yang diupayakan gereja untuk mendukung kerukunan dalam bermasyarakat?
Gereja Katolik Good Shepherd Mount Isa adalah pemrakarsa, pelaksana, dan tempat dari Mount Isa Multiculture Festival, acara tahunan dan jadi kebanggaan warga Mount Isa. Sudah 20 tahun festival ini menonjolkan kekayaan dan keragaman budaya di Mount Isa. Kami juga melaksanakan program CAMS yang sangat membantu para migran untuk bisa memulai kehidupan mereka di kota ini.
Di setiap akhir misa kami juga disuguhkan video renungan tentang kemanusiaan... menyentuh hati umat untuk membuka hati bagi lingkungan dan masyarakat sekitar tanpa memandang perbedaan. Dan yang paling nyata adalah dengan disediakannya ruangan musala untuk kaum Muslim beribadah di dalam lingkungan gereja.
Ingin tahu kehidupan dan prestasi warga negara Indonesia di Australia lainnya? Ikuti australiaplus.com/indonesian dan bergabung bersama komunitas kami di facebook.com/AustraliaPlusIndonesia















































