Gereja Katolik Good Shepherd di kota pertambangan terpencil, Mount Isa, di negara bagian Queensland telah menawarkan tempat salat bagi umat Islam di kawasan tersebut.
Tempat salat tersebut letaknya hanya beberapa meter terpisah dari bangunan utama gereja.
"Selama bertahun-tahun sejumlah orang bertanya 'Apakah ada tempat atau ruang di Mount Isa untuk salat?'" kata Pastor Mick Lowcock.
"Beberapa orang yang saya kenal cukup baik mendekati saya dan betanya 'Apakah mungkin kita menggunakan salah satu kamar?'"
MickLowcock, Pendeta Katolik diMtIsa.ABCNorthWestQld:HaileyRenault
Pendeta Mick mengatakan keputusannya memberi izin bagi umat Islam untuk salat di gerejanya, tentu saja tidak lepas dari perdebatan.
"Salah satu pertanyaannya adalah, apakah akan membuat tempat salat ini untuk umum?" katanya.
"Kita tentu tidak ingin ada reaksi perlawanan bagi mereka atau kami. Ada pula beberapa masalah yang diutarakan orang-orang, bahkan orang dari luar kota pun menelepon saya soal ini."
Sandal dibuka sebelum memasukigerejaGoodShepherdParish,MountIsa.ABCNorthWestQld:HaileyRenault
Menurut Pastor Mick, pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah akibat dari kesalahpahaman dan ketakutan akan ekstremisme dan terorisme, yang kerap diidentikan oleh Islam.
"Pertanyaan di benak setiap orang [adalah] 'Apakah ISIS itu?'" katanya.
"Setiap kali orang menyebut kata 'Muslim' atau 'Islam', mereka langsung berpikir ISIS."
"[Tapi] daripada menciptakan suasana ketakutan di dunia, lebih baik kita dialog dan perbuatan baik."
JahedChowdhury, salah satu umat Muslim diMtIsa.ABCNorthWestQld:HaileyRenault
Jahed Chowdhury adalah salah satu umat Muslim dari kawasan Mount Isa. Ia dibesarkan di Bangladesh, tapi telah berada di Australia selama 14 tahun terakhir.
Jahed mengatakan, sebelum gereja dibuka, komunitas Muslim berpindah-pindah untuk mencari tempat salat.
"Sebelum kami mendapat ruang di sini, kita pergi ke beberapa tempat seperti ke tempat milik teman atau lainnya, untuk salat," katanya.
"Setelah kami punya ini, kami datang ke sini setiap waktu dan sangatlah beruntung."
"Sebagai Muslim kami harus berdoa lima kali sehari dan itulah apa yang kami lakukan. Kami berkumpul di sini dan berdoa kepada Allah dan kami semua senang karena sekarang terbuka kapan pun kita mau datang"
Jahed menyadari adanya pandangan negatif soal Islam, agama yang ia anut. Tapi ia yakin bentuk kerukunan beragama yang positif membantu menghilangkan mitos bahwa Islam itu berbahaya.
"Kami mengundang orang lain [dari] agama yang berbeda, jadi ... jika mereka mau, mereka bisa datang dan bergabung dengan kami dan melihat apa yang kita lakukan, bagaimana kita mempraktikkan Islam, dan seperti apa Muslim yang sebenarnya itu."
"Itulah yang ingin kami sebarkan ke seluruh dunia... bahwa Islam berarti perdamaian," katanya.
Tonton video seperti apa mushalla yang berad di bangunan gereja disini.
Bangunan yang dipakai tempat salat diGerejaGoodShepherdParish, yang sebelumnya dipakai oleh komunitas pencinta sejarah.ABCNorthWestQld:HaileyRenault
Pendeta Mick mengatakan hubungan kerukunan ini menjadi bukti nyata multikulturalisme di pedalaman negara bagian Queensland, Australia.
"Hari Minggu lalu, saya hanya melihat ada 18 kebangsaan yang berbeda dalam satu misa kami, dan saya rasa mereka hanya berasal dari Mount Isa," katanya.
"Banyak anggota masyarakat Islam juga terdiri dari berbagai negara."
"Saya tahu beberapa orang Katolik menikah dengan Muslim, sehingga terasa 'bagaimana kita mendukung satu sama lain?' dalam hal ini."
GerejaGoodShepherdParish,diMountIsa,Queensland, berbagi tempat dengan tempat shalat umat Islam.ABCNorthWestQld:HaileyRenault
Ia juga menambahkan, upayanya bukan hanya dimotivasi agar Muslim di Mount Isa memiliki tempat untuk salat. Tapi sebagai simbol agar warga di kota tersebut bisa lebih dekat.
Ia pun mendorong para pemimpin agama lain untuk mengikutinya.
"Saya rasa faktor yang membuat orang lain terkejut, dan bertanya, 'haruskah kita melakukan hal yang samai?'" kata Pastor Mick.
"Di hari dan jaman seperti ini, [kita juga perlu] dipimpin oleh beberapa contoh, sehingga tidak hanya menyebarkan ketakutan. Tapi memberi jalan yang akan membawa kehidupan."
"Jika ini akan membawa kehidupan di komunitas kita, saya lebih suka melihat kami bersatu daripada terpecah belah. Saya lebih suka melihat kita datang bersama-sama dan berdoa, daripada menjadi komunitas yang memisahkan orang-orang," kata Pastor Mick.
Dengan sama-sama memiliki kebutuhan untuk beribadah, Jahed juga memiliki pandangan yang sama.
"Kita hidup dekat bersama-sama dan harmonis... dan inilah alasan mengapa manusia ada. Terlepas dari praktek beragamanya, kami saling menghormati satu sama lain," katanya.
"Semua agama menyebar perdamaian - tidak ada yang salah dengan itu, jadi kita harus saling mengasihi."
Diterbitkan oleh Erwin Renaldi pada 8/11/2016 pukul 16:00 AEST dari artikel aslinya berbahasa Inggris, yang bisa dibaca di sini. (nwk/nwk)











































