Melihat Kantin Multikultur di Sekolah Pedalaman Australia

Australia Plus ABC - detikNews
Senin, 07 Nov 2016 18:10 WIB
Brisbane -

Sebuah sekolah di Queensland utara yang secara statistik lebih multikultural daripada Australia sendiri, meluncurkan menu baru berdasarkan latar belakang etnisitas para muridnya.

Dengan jumlah murid hanya 183 orang, kantin sekolah Mackay Central State selama ini selalu gagal, hingga para volunteer menyarankan adanya menu internasional.

"Kami memulainya tahun lalu, ketika para para orangtua murid meminta warga asal Filipina memasak untuk perayaan Natal. Saat itulah muncul ide untuk menerapkannya di kantin," kata volunteer Armie Astridge

Kini sekolah tersebut menawarkan hidangan Filipina, China, Jepang, Malaysia, dan Italia untuk murid-muridnya.

"Kami siapkan lumpia, pangsit, mie goreng yang kita sebut pancit, spaghetti," kata Astridge.

"Kemudian nantinya setelah berkembang kami juga membuat Lasagna, ravioli, pasta, dan kari Malaysia," tambahnya.

Kids smiling.jpg
Aneka makanan internasional cukup populer di kalangan murid. ABC: Harriet Tatham

Kelompok multikultur

Kepala Sekolah Len Fehlhaber mengatakan setelah disajikannya menu internasional, penjualan di kantin mengalami peningkatan.

Dia mengatakan dengan melayani kelompok multietnis mereka, para murid merasa lebih nyaman dengan makan makanan yang sama dengan yang mereka makan di rumah.

"Ada pernyataan bahwa orang Australia kulit putih menghuni daerah pedalaman dan hanya di perkotaan yang benar-benar multikultural. Tapi itu omong kosong dan saya tahu hal itu dengan datang ke sini," katanya.

"Yang Anda lihat ini sekolah yang lebih setengahnya berlatar belakang Filipina. Dan selebihnya, sekitar 27 persen orang pribumi," tambahnya.

"Ada sedikit latar belakang budaya lainnya juga - ada Afrika, India, Pakistan, Maori, kemudian ada segelintir anak Aussie kulit putih yang menonjol karena tidak ada banyak jumlahnya," tutur Fehlhaber.

Cooking away, at Mackay Central State School.
Mackay Central State School tawarkan makanan Filipina, Jepang, China dan Malaysia untuk murid-muridnya. ABC: Harriet Tatham

Dari kebun sekolah

Begitu menu baru disajikan, para volunteer kantin mulai menyadari biaya makanan segar sedikit lebih tinggi, dan coba mencari cara agar harganya tetap rendah.

"Kami membuat lahan tanaman di belakang kantin tersebut. Tujuannya untuk tahun depan yaitu menanam sayur yang akan kami gunakan di kantin demi mengurangi biaya," kata Astridge.

"Tapi biayanya tidak mahal dibandingkan dengan nilai dari makanan segar untuk anak-anak. Kami tidak kehilangan uang, kami justru dapat uang lebih banyak dari kantin, dari seluruh usaha ini," tambahnya.

Astridge mengatakan menu internasional memungkinkan anak-anak belajar tentang budaya berbeda.

"Anak saya separuh Australia karena ayahnya orang Australia. Dengan terhubung ke akar Filipinanya lewat ibu dan teman-temannya di kantin, sungguh menyenangkan baginya," ujarnya.

"Dan membanginya dengan teman-temannya, sangat menyenangkan," katanya.

Kids at Mackay Central State School
Menu kantin sekolah cukup populer di kalangan murid.ABC: Harriet Tatham

Berbagai kisah

Fehlhaber mengatakan eksperimen dengan makanan merupakan kesempatan penting bagi murid dalam memperluas wawasan budaya mereka.

"Ada anak yang memilih makanan yang tidak biasanya mereka makan," katanya, "Tapi sekarang mereka mengembangkan selera sendiri dan akan membawanya ke masa depan, ke dapur mereka sendiri. Kami telah mengubah sikap (murid)," katanya.

"Terkait dengan multikulturalisme, hal itu telah mengubah sikap anak-anak terhadap makanan. Hal itu memperluas wawasan mereka dan saya percaya hal itu menjadikan mereka lebih baik ke depannya," ujarnya.

Astridge menyatakan kantin ini akan terus berkembang.

"Ini sekolah yang inklusif, dimana ketika ada orangtua murid, terutama yang baru, kami berbicara dengannya dan coba meminta mereka jika ingin berbagi resep favorit," katanya.

"Hal itulah yang kami lakukan. Dan kami akan mulai lagi tahun yang baru, mudah-mudahan akan lebih banyak lagi latar belakang kebangsaan dengan resep terbaik yang bisa mereka bagi dengan kami," ujarnya.

Diterbitkan Pukul 14:30 AEST 7 November 2016 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris di sini.

(nwk/nwk)