Kapolri: Jumlah Warga RI yang Gabung ISIS Tak Termonitor

Australia Plus ABC - detikNews
Jumat, 21 Okt 2016 13:42 WIB
Jakarta -

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengatakan semakin sulit untuk melacak jumlah warga Indonesia yang pergi ke Suriah.

Mereka ke sana menggunakan jalur yang mengecoh.

Menurutnya kini banyak trik dan jalur-jalur yang digunakan mereka yang bergabung dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).

Kepolisian mengatakan hampir 500 warga Indonesia bergabung dengan kelompok tersebut di Suriah, tapi Kapolri mengaku jumlahnya bisa jadi lebih tinggi karena banyak diantara mereka yang tidak termonitor.

Tapi yang menjadi kekhawatiran lembaga keamanan dan intelijen di Indonesia adalah mereka yang kembali.

ABC mendapat akses daftar intelijen, yang merinci tempat-tempat yang berpotensi diserang. Ada 34 tempat yang disebutkan dalam daftar ini.

Dari daftar tersebut disebutkan bandara internasional Soekarno-Hatta, Balai Kota Jakarta, Kantor Kedutaan Rusia dan Iran di Jakarta, sekolah internasional Intercultural School di Pondok Indah, serta tempat-tempat turis asing di Bali dan Pantai Senggigi di Lombok.

Daftar dibuat di bulan Juli dan baru diberikan kepada ABC baru-baru ini, sehingga belum ada verifikasi apakah tempat-tempat tersebut masih terancam atau tidak.

Dalam daftar juga tercantum rencana menyerang kantor kepolisian di Solo, dimana awal Juli lalu seorang pengebom bunuh diri meledakkan dan menewaskan dirinya sendiri.

Termasuk dalam daftar ini adalah rencana untuk menyerang masyarakat Timur Tengah di Bogor, markas kepolisian di Jawa Barat, kawasan Menteng Jakarta yang dipenuhi warga asing dan kantor kepolisian Bima.

Tak Pernah Kehabisan Ide

Sofyan Tsauri mengatakan pendukung Negara Islam (IS)
SofyanTsauri mengatakan pendukung Negara Islam (IS) "tidak pernah kehabisan ide". Foto:ABCNews,SamanthaHawley.

Sofyan Tsauri, teroris yang dibebaskan setelah menjalani hukuman 10 tahun penjara dan mengatakan sekarang mengalami deradikalisasi, memperingatkan pendukung IS di Indonesia tidak memiliki kesiapan yang matang, tapi semangat mereka tinggi.

"Mereka tidak pernah kehabisan ide, karena mereka selalu didukung dan diberi informasi dari Suriah," katanya kepada ABC.

"Ada lima kelompok ISIS di Indonesia, masing-masing berusaha untuk menyatakan keberadaan mereka, mereka ingin kelompok mereka dikenang sebagai kelompok terbesar."

Kapolri Jenderal Tito mengatakan polisi menyadari bahwa warga Indonesia masih berangkat ke Suriah.

"Mereka menggunakan banyak jalur dan cara-cara yang rumit," katanya.

"Kami melakukan langkah-langkah di sejumlah bandara, kami memiliki tim pengawas dari unit intelijen, terutama pada rute yang kita tahu sering mereka gunakan."

"Kami telah menangkap lebih dari 10 orang dalam beberapa bulan terakhir, tetapi lebih banyak yang lolos dari pengawasan."

Ia juga mengatakan pihak berwenang sedang memantau sekitar 40 orang yang telah kembali ke Indonesia.

Video Propaganda

Sofyan, yang dipenjara karena pelanggaran senjata api dan terkait dengan sebuah kamp pelatihan teroris di Aceh, mengatakan jumlah pendukung IS meningkat.

"Alasan mengapa ISIS memiliki dukungan luas dari 'pemula', yang baru direkrut, pertama karena gambaran visual dari kelompok, video propaganda telah membuat mereka terpesona untuk meninggalkan Indonesia. Kedua, adanya dukungan logistik karena keuangan yang kuat," katanya.

Tahun ini, pihak kepolisian telah menangkap puluhan tersangka atas tuduhan terorisme dan mereka mengaku telah menggagalkan sejumlah serangan, termasuk yang terbaru yakni rencana menyerang Singapura dari Pulau Batam.

Kemarin, seorang pria Indonesia berusia 20-an menempatkan stiker IS pada pos polisi lalu lintas di Tangerang sebelum menyerang polisi dengan parang. Tidak ada yang tewas dalam peristiwa tersebut.

Diterbitkan pada 21/10/2016 pada pukul 12:00 AEST oleh Erwin Renaldi, dari artikel aslinya berbahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.



(nwk/nwk)