detikNews
Kamis 08 September 2016, 11:36 WIB

Polisi Australia Ingatkan Tren Global Pelecehan Seksual Anak via Webcam

Australia Plus ABC - detikNews
Polisi Australia Ingatkan Tren Global Pelecehan Seksual Anak via Webcam
Canberra -

Kepolisian Federal Australia (AFP) memperingatkan tren yang semakin mengkhawatirkan dimana warga Australia mengarahkan tindakan pelecehan seksual terhadap anak-anak di luar negeri dengan menggunakan layanan streaming seperti Skype.

Para pelaku pelecehan seksual anak-anak ini biasanya mendandani orang, biasanya dari negara-negara berkembang seperti Filipina, untuk mendapatkan anak-anak dan membayar mereka untuk menginstruksikan pelecehan seksual yang disiarkan melalui internet dengan menggunakan webcam.

Ini adalah taktik yang disengaja untuk mencoba menghindari pendeteksian oleh pihak berwenang seperti AFP, karena cara seperti ini meninggalkan sedikit atau tidak ada jejak digital sama sekali.

"Tentu saja kita melihat tren yang mengkhawatirkan warga Australia yang terlibat dalam kegiatan ini," kata AFP Asisten Komisaris Justine Saunders kepada 7.30.

"Ini tidak berbeda dengan Anda atau saya, jika kita berkomunikasi satu sama lain di FaceTime atau Skype di mana Anda terlibat percakapan dengan orang lain dan tidak ada catatan percakapan Anda yang berlangsung selama waktu itu."

Meskipun begitu, AFP berhasil menargetkan pelaku pelecehan seksual streaming langsung.
Program 7.30 diberitahukan kisah dari dalam mengenai operasi pemberantasan kejahatan luar biasa internasional yang berhasil menangkap sejumlah pelaku streaming live pelecehan seksual dan menyelamatkan beberapa orang anak dari bahaya.

Lakukan aksi via webcam di rumah

Dari rumahnya di Brisbane, seorang pria berusia 42 tahun, Kyle Dawson membayar seorang perempuan di Philipina bernama Joann untuk melakukan pertunjukan seks live melalui webcam.

Namun demikian, hal itu tidak cukup bagi Dawson, dia berhasil meyakinkan Joann untuk melibatkan anak-anak dalam pertunjukan webcam itu.

"Inilah yang kita sebut sebagai metode grooming, dimana melalui percakapannya dia kemudian mendorong mereka untuk membawa serta anak-anal dalam pertunjukan eksploitasi seks dan pertunjukan itu kemudian mereka siarkan langsung di internet," kata Anthony Maguire, agen AFP berbasis di Manila.

Kyle Dowson
Kyle Dawson dihukum 5 tahun penjara karena kasus pelecehan seksual anak.Supplied


Melalui Skype, Dawson kemudian merambah pemukiman kumuh di Manila, di mana ia membawa Joann untuk melakukan pelecehan seksual kepada 3 anak remaja.
Pertunjukan itu juga disiarkan langsung di internet melalui webcam di rumah Dawson.

Sam Inocencio, dari NGO International Justice Mission, terlibat dalam operasi pemberantasan kejahatan ini di Philipina yang berhasil meringkus aksi Dawson.

"[Anak-anak yang dilecehkan adalah] dua saudara perempuan dan satu laki-laki, dan fasilitatornya adalah bibi mereka sendiri. Melihat hal ini saja kasus ini sudah sangat mengganggu," katanya kepada 7.30.

"Jenis kejahatan ini benar-benar gelap dan jahat."

Tapi Dawson meninggalkan jejak bagi AFP untuk bisa melacak dan mengunduh sejumlah besar bahan pelecehan anak. Pada bulan Maret tahun lalu, AFP menggerebek rumahnya di Brisbane, Jeff Nagle, kepala eksekutif Australia International Justice Mission, sangat paham dengan penggerebekan ini.

"Setelah penangkapan Kyle Dawson dan penyitaan peralatan komputernya mereka mampu mengidentifikasi sejumlah lokasi dari kasus live streaming pelecehan seksual anak di Filipina," katanya pada 7.30.

"Kyle Dawson telah merekam acara-acara ini untuk ditontonnya di kemudian hari dan ia melakukannya dengan maksud untuk berbagi atau ditonton lagi dimana ada material yang disimpan yang menjadi barang bukti kasusnya,"

AFP bersama dengan otoritas Filipina dan International Justice Mission melancarkan operasi kembali dengan menyamar sebagai pelanggan.

"Saat itulah polisi mulai masuk ke rumah-rumah korban dan menyelamatkan anak-anak tersebut," kata Inocencio.

"Anak-anak itu sedang diberikan perawatan psikologis, terutama perawatan trauma pasca pemaparan informasi".

"Joann sekarang sedang menjadi terdakwa atas kasus trafficking pada dasarnya ini merupakan hukum melawan orang-orang di Filipina."

Pada Bulan Juli, Dawson dihukum 5 tahun penjara di Pengadilan Distrik Brisbane.

AFP terima 11.000 rujukan eksploitasi anak 2015

Polisi Federal Australia prihatin dengan semakin meningkatnya permintaan materi pelecehan seksual anak di seluruh Australia. Live-Streaming telah diidentifikasi sebagai area yang diprioritaskan sebagai target pengawasan.

"Pada tahun 2014 kami menerima sekitar 4.500 rujukan bahan eksploitasi anak dan pada tahun 2015 jumlahnya menjadi 11.000," kata Justine Saunders.

"Jadi, ini sudah menjadi tren global".

"Ini bukan kasus yang tidak bisa diatasi tapi saya tidak membantah kalau ini sangat memprihatinkan."

"Kondisi dari rujukan ini, meningkatkan tantangan yang berkaitan dengan penggunaan internet dan anonimitas yang berhubungan dengan live streaming yang membuat kasus ini sangat sulit diatasi tapi saya tidak menyangkal kalau ini tentu saja membuat kita semakin siaga," tambahnya.

AFP_jutsin saunders
AFP Asisten Komisaris Justine Saunders berbicara dalam program 7.30.


Salah satu cara pihak berwenang melakukan itu adalah dengan mengejar jejak uang. Penelusuran yang dilakukan oleh Organisasi Intelijen Keuangan Australia - AUSTRAC telah berhasil menangkap pelaku live-streaming pelecehan seksual anak terhadap Dominic Patrick Hickey dan Patrick Goggins.

"Intelijen keuangan adalah bagian yang benar-benar menjadi bagian berharga dari potongan teka teki kasus bagi penegakan hukum kami dan juga mitra intelijen tapi ini hanya merupakan sebagian dari teka-teki itu," Manajer Nasional Intelejen AUSTRAC, Dr John Moss.

"Kedua Hickey dan Goggin berhasil diidentifikasi oleh penelusuran keuangan kami, [pada] 14 laporan yang rata-rata bernilai $14 sampai $26, dan dalam konteks ada lebih dari 1 juta transfer yang keluar dari Australia ke Filipina senilai sedikitnya $200".


"Menemukan kegiatan ini dalam data yang sangat banyak seperti itu memerlukan peralatan khusus, analis berdedikasi dan yang lebih penting lagi berbagi informasi."

Perluas investigasi


International Justice Mission, Nagle meyakini jumlah sebenarnya dari pelaku warga Australia yang menyalahgunakan anak ini bisa jauh lebih tinggi dari angka yang ditunjukkan AFP.
Sejak 2011 organisasinya telah menyelamatkan lebih dari 100 anak-anak, termasuk bayi, dan mereka tahu ada banyak lagi.
"Kami melakukan operasi penyelamatan bersama dan berhasil menyelamatkan seorang bayi berusia 10 bulan dan kita tahu bahwa mitra penegak hukum kami tahun ini juga menyelamatkan bayi yang usianya jauh lebih muda lagi dan mereka diminta oleh pedofil di Australia," kata Nagle.
"Bukan saja mereka meminta anak-anak yang semakin muda usianya tapi mereka juga menuntut bentuk penyalagunaan yang semakin keras."
"Kami meyakini kami hanya menggali diatas permukaan saja di Australia."
Innocencio dari Philipina juga meyakini hal yang sama.
Dia mengatakan peringatan ini tidak cukup dilakukan untuk menghentikan pelecehan dan melindungi anak-anak.
"Baik Pemerintah Philipina dan Pemerintah Australia perlu menginvestasikan lebih banyak sumber daya untuk memastikan kalau kita efektif menginvestigasikan kasus-kasus yang melibatkan pelecehan seksual anak-anak di internet." Katanya.
"Kejahatan ini harus dihentikan."

Diterjemahkan pukul 19:10 WIB, 7/9/2016, oleh Iffah Nur Arifah. Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.


(nwk/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com