Riset Australia Indonesia Centre: 87% Warga RI Memandang Positif Australia

Riset Australia Indonesia Centre: 87% Warga RI Memandang Positif Australia

Australia Plus ABC - detikNews
Senin, 15 Agu 2016 15:15 WIB
Riset Australia Indonesia Centre: 87% Warga RI Memandang Positif Australia
Foto: (via Australia Plus)
Melbourne -

Sebanyak 87 persen warga Indonesia ternyata berpandangan positif mengenai Australia, 22 persen di antaranya bahkan sangat positif. Selain itu, meskipun hanya 43 persen warga Australia berpandangan baik tentang Indonesia, namun ada 39 persen di antaranya yang ingin belajar lebih jauh tentang Indonesia.

"Dari mereka (warga Australia) yang ingin belajar lebih jauh tentang Indonesia, 72 persen menyatakan ingin belajar tentang budaya Indonesia," ujar Paul Ramadge, Direktur Australia Indonesia Centre (AIC), saat menyampaikan hasil riset berjudul Australia-Indonesia Perceptions Report 2016, bersama Marc LHuillier dari EY Sweeney, sebuah lembaga riset yang melaksanakan survei ini atas nama AIC.

Disebutkan, cerita tentang Indonesia dan Australia lebih sering fokus pada perbedaan baik secara budaya dan agama, isu keamanan, kesenjangan ekonomi, perbedaan praktek bisnis, perbandingan jumlah populasi sehingga isu kedaulatan nasional.
"Namun fokus pada perbedaan dalam hubungan Australia-Indonesia ini sudah jadi standar dan sudah berlangsung sangat lama," katanya.

Argumen tersebut, kata Paul Ramadge, diperkuat kembali dalam hasil riset ini, yang melibatkan 24 focus group meliputi lebih dari 4000 responden di kedua negara.

aic indo.jpg
87 persen warga Indonesia memandang positif Australia, 22 persen di antaranya sangat positif.

Hasil riset menyebutkan, sudah waktunya bagi warga Australia untuk melihat kembali Indonesia dan memikirkan mengenai peluang kesadaran budaya bersama, program pendidikan dan pertukaran mahasiswa seperti New Colombo Plan, kemitraan bisnis, serta wisata dua arah selain Bali atau tujuan wisata Australia tradisional.

"Riset ini menyarankan adanya keinginan di kedua negara untuk belajar lebih jauh tentang satu sama lain dan berhubungan dengan cara-cara baru," katanya.

Tim peneliti melakukan interview dari Melbourne ke Townsville serta Jakarta ke Makassar, dan menemukan adanya kesamaan aspirasi warga kedua negara terkait keinginan mempertahankan dan melindungi nilai-nilai kekeluargaan dan identitas budaya. Selain itu, juga kesamaan aspirasi terkait peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keamanan, infrastruktur serta lingkungan hidup.

"Hal ini terlepas dari bagaimana warga kedua negara saling memandang satu sama lain. Lebih banyak warga Indonesia yang disurvei memandang positif terhadap Australia (87 persen baik, termasuk 22 persen sangat baik) dibandingkan dengan warga Australia terhadap Indonesia (43 persen baik, termasuk 6 persen sangat baik)," jelas Paul Ramadge.

Sebagai perbandingan, hasil polling Lowy Institute tahun 2015 menunjukkan rating warga Australia terhadap Indonesia berada pada level 46 persen, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang berkisar 52 persen.

"Di Australia, selain tantangan atas pengelolaan perilaku terhadap isu-isu hangat dalam dekade terakhir, ada dimensi penting berupa kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai Indonesia selain Bali," tambanya.

2000 interview.jpg
Survei dilakukan terhadap 24 focus group dengan 4000 responden.

Disebutkan bahwa sebanyak 39 persen responden Australia ingin belajar lebih jauh tentang Indonesia dan 43 persen setuju bahwa pelajaran dasar tentang Indonesia bisa ditingkatkan di sekolah-sekolah Australia. "Dari mereka yang ingin belajar itu, 72 persen tertarik dengan budaya Indonesia," jelas Paul Ramadge.

Sebaliknya, sebanyak 57 persen responden Indonesia menyatakan ingin belajar lebih jauh tentang Australia dan 59 persen setuju bahwa pelajaran dasar tentang Australia bisa ditingkatkan di sekolah-sekolah Indonesia.

"Sebagaimana diperkirakan, peran pemerintah dipandang sangat penting. 77 persen responden Indonesia dan 51 persen responden Australia menyatakan ingin agar pemerintah mereka berbuat lebih banyak dalam memperkuat hubungan, termasuk dalam hubungan ekonomi," katanya.

Sebanyak 65 persen responden Indonesia dan 51 persen responden Australia menyatakan hubungan perdagangan kedua negara sangat penting.

Selain itu, sebanyak 49 persen responden Indonesia dan 38 persen responden Australia menyatakan setuju wisata dan turisme akan mampu meningkatkan hubungan kedua negara. Pandangan ini menyebar rata di kota-kota lain Indonesia di luar Bali.

Riset yang dilaksanakan EY Sweeney untuk AIC ini juga mengungkapkan adanya perbedaan besar terkait kepercayaan diri mengenai masa depan kedua negara.

Riset menemukan bahwa warga Australia jauh lebih khawatir mengenai masa depan mereka, dengan hanya 34 persen responden yang percaya bahwa kesejahteraan ekonomi akan meningkat dalam 10 tahun mendatang. Selain itu, hanya 25 persen responden Australia percaya bahwa standar hidup mereka akan meningkat.

Sebaliknya, respoden Indonesia lebih bersemangat mengenai masa depan mereka dalam 10 tahun mendatang. Sebanyak 8 dari 10 (82 persen) warga Indonesia melihat akan terjadinya kesejahteraan ekonomi serta 81 persen percaya standar hidup mereka akan meningkat.

aic utama.jpg
Mayoritas warga Australia ingin mengetahui lebih jauh mengenai budaya Indonesia.

Australia-Indonesia Centre yang berbasis pada Monash University, menggelar riset ini di kedua negara guna menyiapkan pendekatan berdasarkan bukti-bukti dalam memahami faktor-faktor pendorong dan berpengaruh dalam persepsi dan perilaku warga kedua negara terhadap satu sama lain.

"Kita paham dengan perbedaan-perbedaan lama dan isu-isu yang berpengaruh terhadap persepsi orang Australia (terhadap Indonesia). Riset ini membuka kemungkinan - baik secara ekonomi maupun empati - untuk memikirkan lebih jauh mengenai keyakinan dan tema yang mempersatukan kedua negara," kata Paul Ramadge.

"Warga Australia dan Indonesia sama-sama mengakui bahwa kesejahteraan mereka di masa depan tidak akan tercapai secara sendiri-sendiri," tambahnya.

Laporan lengkap hasil riset ini bisa dilihat di www.aicperceptionsreport.com.

(nwk/nwk)


Berita Terkait