Nanis Setyorini saat ini sedang menyelesaikan pendidikan doktor di Universitas New South Wales, Sydney di bidang pendidikan. Sudah tinggal di Sydney sejak tahun 2012, dia tinggal bersama suami dan tiga putra, yang seorang di antaranya lahir di Australia.
"Di tahun 2014, anak kedua saya Haarits (8 tahun) adalah puasa pertama di Sydney," kata Nanis kepada wartawan ABC Australia Plus Indonesia, L.Sastra Wijaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa menit setelah kejadian itu, gurunya menelpon saya menanyakan tentang lunch box Haarits. Akhirnya saya menjelaskan bahwa Haarits sedang puasa jadi tidak bawa lunch box. Tetapi suami, karena takutnya takutnya dianggap tidak memberikan perhatian kepada anak, dia langsung lari ke sekolah Haris mengirimkan lunch box." tambah Nanis.
Nanis Setyorini sekarang sedang menyelesaikan pendidikan doktoral di UNSW Sydney. Foto: Istimewa |
Sejak kejadian tersebut, menurut Nanis, mereka tetap membawakan bekal makan siang, walau putra mereka Haarits berpuasa sampai Magrib tiba. "Ini untuk menghindari agar tidak ditelepon oleh sekolah. Juga di sekolah Haarits, ada beberapa teman muslim. Tetapi kebanyakan mereka tidak puasa.
Nanis tidak mengalami masalah yang sama untuk putra tertuanya, Faalih (14 tahun) yang sekarang berada di sekolah menengah Randwick Boys High School di Sydney.
"Di sekolah ini banyak siswa muslim. Bahkan di sekolahnya ada salat Jumat resmi yang diselenggarakan oleh sekolah."
"Dengan itu, kami bersyukur kami orang tuanya tidak perlu lagi kerepotan soal salat Jumat. Dulu awal datang di tahun 2013, Faalih harus masuk di English Intensive High School di Sydney CBD."
"Setiap jumat siang, saya dan suami gantian jemput Faalih ke sekolahnya untuk mengantar ke musala terdekat di Surry Hills, Sydney. Setelah salat, saya atau suami mengantar lagi ke sekolahnya untuk lapor. Memang repot tetapi kami paksakan agar Faalih memahami bahwa salat Jumat itu wajib dan tidak boleh ditinggalkan meski di negeri orang." tambah Nanis yang sebelumnya adalah Dosen Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya tersebut.
Nanis belajar di Australia atas beasiswa dari Dikti Indonesia, yang hanya berlaku selama tiga tahun. Oleh karena itu di sela-sela studi, Nanis harus juga bekerja sebagai morning cleaner di kampusnya, dari jam 3 sampai jam 7 pagi.
Suaminya Denni Estiardi sebelum ke Sydney adalah Area Sales Manager, PT Bintang Toedjoe di Surabaya dan untuk membantu biaya hidup mereka di Australia, sekarang menjadi supervisor day cleaner di Main Library, UNSW Sydney.
"Di Indonesia, suami saya orang kantoran yang sering nyuruh-nyuruh anak buah. Di Sydney dia terpaksa kerja fisik dan disuruh-suruh orang. Saat puasa, semakin terasa beratnya kerja fisik. Tetapi lama-lama jadi kebiasaan." kata Nanis.
"Manajer suami saya juga sama, awalnya menanyakan apakah bisa tetap kuat kerja dengan puasa. Dia selalu khawatir apakah suami saya kuat kerja atau tidak. Berkali-kali si manajer telpon atau mendatangi suami di saat kerja. Kadang kalau sore si manajer bawain Coca Cola untuk buka puasa katanya. " tambah Nanis.
Menurut Nanis, lingkungan sekitarnya di Sydney semakin mengerti mengenai ritual puasa selama bulan Ramadan bagi warga muslim.
Saya pikir warga Sydney sudah terbiasa lihat orang muslim puasa. Jadi mereka tidak terlalu banyak tanya. Baiknya mereka kadang ada yang memberi roti atau minuman untuk saya dan suami di sore hari.
Walau begitu, kadang juga ada teman yang bertanya bagaimana Nanis bisa bertahan selama seharian tidak makan dan minum.
"Beberapa teman-teman bule atau dari negara Asia lain ada yang bilang: "kok kamu bisa ya tetap hidup padahal tidak makan dan minum seharian! Kalau aku sudah gak kuat jalan". Saya jelaskan bahwa saya sudah terbiasa puasa ini sejak kecil jadi sudah jadi hal biasa dan tetap bisa melakukan aktifitas macam-macam. Ada juga bule yang bilang tidak mungkin dia kuat puasa karena tidak kuat kalau tidak minum kopi." kata Nanis sambil tertawa.
Sama seperti keluarga asal Indonesia lainnya di Australia, keluarga Nanis juga sering kali merasa rindu dengan suasana Ramadan di Indonesia.
"Saya dan suami suka rindu masakan almarhum ibu kami. Suami juga rindu tadarus di masjid dekat rumah. Faalih, anak pertama saya kadang rindu suara orang ronda keliling kampung membangunkan orang saat sahur dan kegiatan pondok Ramadan di sekolah. " kata Nanis.
Buka puasa mendekatkan para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di luar negeri. Foto: Istimewa |
Lalu apa yang dilakukan di Australia untuk mengobati kerinduan tersebut?
"Dalam seminggu kami menelpon orang tua dua-tiga kali. Kadang video call jika ada adik sedang di rumah orang tua. Kalau rindu makanan, saya masak sesuai keinginan suami dan anak-anak. Kebetulan bahan masakan Asia banyak sekali dijual di toko Asia di daerah Kingsford." tambah Nanis.
Dan juga dengan banyaknya mahasiswa asal Indonesia yang melanjutkan pendidikan di Sydney juga membuat Nanis dan keluarganya tidak terlalu merasa kehilangan suasana Ramadan.
"Setiap tahun kami rasakan sama saja menjalankan puasa di Sydney. Perbedaannya mungkin hanya pada teman-teman baru yang tiap tahun ada yang baru datang, ada yang sudah pulang. Kami biasanya gantian menyelenggarakan buka puasa bersama." kata Nanis. (nwk/nwk)











































Nanis Setyorini sekarang sedang menyelesaikan pendidikan doktoral di UNSW Sydney. Foto: Istimewa
Buka puasa mendekatkan para mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di luar negeri. Foto: Istimewa