DetikNews
Kamis 16 Juni 2016, 18:23 WIB

Menengok Kehidupan Keagamaan Dua Pemimpin Politik Australia

Andrew West - Radio National - detikNews
Menengok Kehidupan Keagamaan Dua Pemimpin Politik Australia Foto: Bill Shorten dan Malcolm Turnbull sangat jarang bicara tentang pengasuhan keagamaan mereka. (ABC News)
Canberra - Baik Malcolm Turnbull maupun Bill Shorten jarang bicara tentang keyakinan atau agama mereka - berbeda dengan Kevin Rudd dan Tony Abbott yang masing-masing memimpin partainya dalam Pemilu 2013. Namun agama memberi informasi mengenai nilai-nilai kedua pemimpin politik Australia ini.

Seperti dikemukakan Roy Williams, penulis buku "Post-God Nation" serta "In God They Trust: The Religious Beliefs of Australia's Prime Ministers", Malcolm Turnbull dan Bill Shorten sama-sama berpindah dari satu kelompok Kristiani ke kelompok lainnya.

Namun kedua pria yang kini berlomba menjadi perdana menteri Australia ini mempunyai pengalaman berbeda terkait lembaga keagamaan sepanjang hidup mereka.

Malcolm Turnbull: Kristen 'Noblesse Oblige'?

Malcolm Turnbull dibesarkan dalam keluarga Presbiterian, namun Turnbull sendiri mengakui bahwa masa kecilnya tidak begitu religius. Di akhir masa remajanya, dia terpapar ke dalam agnostisme.

Saat dia menikahi Lucy, seorang Katolik, di Inggris tahun 1980, pernikahan mereka dilaksanakan secara Anglikan.

"Malcolm tampaknya menggunakan kekuatan persuasinya kepada pendeta setempat untuk berkata, 'Anda berutang tanggung jawab sebagai kepala gereja untuk mencegah perzinahan di paroki Anda'," kata Williams.

Mertua laki-laki Turnbull, Tom Hughes, berpengaruh besar dalam keputusan Turnbull pindah ke Katolik, demikian dijelaskan Williams.

Meskipun di depan publik Turnbull jarang mengungkapkan agama kepercayaannya, Williams mengatakan Turnbull menulis secara elok mengenai keyakinan agama.

"Saat Anda baca artikel yang sesekali ditulis dimana dia merujuk ke agama, isinya sangat bijaksana dan menunjukkan pengetahuan mendalam," katanya.

Namun Williams percaya bahwa Turnbull mengompromikan nilai-nilai kepercayaan pribadinya agar sejalan dengan sikap neoliberal partainya.

"Membaca yang tak tertulis, Malcolm Turnbull, mungkin jika dia diberi kebebasan kepemimpinan oleh partainya... perasaan saya adalah dia merupakan pria tipe Kristiani "noblesse oblige" yang kolot," jelasnya.

"Dia sangat kaya, dia sebagian besar buatan dirinya sendiri, catatan menunjukkan bahwa dia sangat pemurah dalam hadiah-hadiah amal, namun Partai Liberal modern adalah partai neoliberal dan Turnbull tampaknya percaya hal itu," katanya.

"Partai Liberal modern memang begitu dan jika Anda ingin jadi pemimpinnya, hal itulah yang harus Anda bela," tambah Williams.

Bill Shorten: Dituntun Motto Jesuit

Masa kecil Bill Shorten dihabiskan dalam kepercayaan Katolik. Ibunya, pemeluk teguh Katolik, membawa Bill dan saudara kembarnya Rob, ke misa setiap hari Minggu.

Williams mengatakan ibu Shorten digambarkan sebagai 'wanita beriman' oleh sebagian pengamat, dan sebagai 'penganut Katolik kultural' oleh yang lainnya. Shorten sendiri mendeskripsikan ibunya sebagai seorang Katolik kultural.

"Dia sangat menghormati Jesuit dan menginginkan Bill dan saudara kembarnya untuk dididik di Xavier College, sekolah Jesuit yang megah di Melbourne," jelas Williams.

Dia mengatakan Shorten berpindah ke Anglikanisme karena perkawinan keduanya dengan Chloe di tahun 2009.

Jadi, bagaimana agama berpengaruh pada kehidupan politik Shorten? Sangat sederhana; Williams percaya bahwa nilai-nilai personal Shorten dipengaruhi oleh motto Jesuit.

"Shorten diketahui pernah mengatakan bahwa motto Jesuit - "Menjadi Manusia Bagi Sesama" - menuntut dia dalam kehidupan publiknya," kata Williams.

"Saya tak melihat alasan untuk tidak mempercayainya dalam hal itu. Aspek Katolik itu, pelayanan bagi sesama, benar-benar berpengaruh dalam hidupnya, utamanya melalui ibunya dan Xavier College," ujarnya lagi.

Shorten mengakui dia bukan penuntut ilmu kitab suci yang hebat - bahkan mengatakan hal ini di depan kelompok lobi Australian Christian Lobby (ACL) tahun 2014.

"Protestan, paling tidak di kalangan injili konservatif, sangat berbasis Injil, dan dia tak bersandiwara di ACL bahwa dia membaca Injil setiap saat," kata Williams, seraya menambahkan, "Dia mengutip hal ini dalam bukunya."
(nwk/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed