Clara Williams Roldan, Caleg Penantang Tony Abbott yang Tumbuh di Indonesia

Clara Williams Roldan, Caleg Penantang Tony Abbott yang Tumbuh di Indonesia

Angela McCormack - Australia Plus - detikNews
Senin, 06 Jun 2016 17:14 WIB
Clara Williams Roldan, Caleg Penantang Tony Abbott yang Tumbuh di Indonesia
Foto: Kandidat Partai Hijau Clara Williams Roldan yang menantang bekas PM Tony Abbott di Dapil Warringah dalam Pemilu Australia 2 Juli 2016. Clara tumbuh besar di Indonesia. (Foto: Twitter @WarringahClara)
Sydney - Kemungkinan besar bekas PM Tony Abbott akan menduduki kursinya kembali di DPR Australia dari dapil Warringah dalam pemilu yang akan digelar 2 Juli mendatang. Namun, inilah penantangnya di dapil itu: Clara Williams Roldan, caleg Partai Hijau yang tumbuh di Indonesia.

Abbott telah mewakili dapil itu selama 22 tahun di DPR, warga setempat juga mencintainya, dan lagipula dapil itu dikenal sebagai daerah basisLiberal. Namun sebelum menang Abbott terlebih dahulu harus menyingkirkan kian maraknya para underdog di dapil itu.

Saat ini ada caleg bernama James Mathison yang mengklaim dirinya mewakili suara anak-anak muda. Dia meluncurkan kampanyenya akhir pekan lalu dan menyatakan hal ini main-main.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian ada caleg Partai Hijau berusia 24 tahun, Clara Williams Roldan, mahasiswa Fakultas Hukum yang juga pernah menjadi caleg menantang Menteri Utama Negara Bagian New South Wales Mike Baird tahun 2015.

Clara tahu dia tidak bisa setengah-setengah dan karena untuk sementara cuti dari kampus untuk fokus dalam pertarungan politik ini. Dia melakukan kampanyenya secara serius, tanpa dibayar, dan beroperasi dari kamarnya sendiri.

Mengapa dia maju?

Clara Williams Roldan kepada Program Hack dari Triple J, salah satu radio ABC, mengakui keputusannya untuk maju jadi caleg terkait dengan perwakilan politik. Menurut Clara, kedua parpol utama di Australia mengabaikan isu-isu anak muda.

"Realitanya, jika kita melihat kedua parpol besar itu, sebagai generasi muda kita mendapatkan kesan pertama bahwa kita tidak terwakili. Dan kedua, mereka tidak memiliki rencana untuk masa depan dalam agenda mereka," tutur Clara.

Pandangan ini juga dipegang oleh James Mathison, serta audiens Triple J yang dalam survei di tahun 2016 menemukan bahwa hanya 1 dari 5 warga usia 18-29 tahun percaya politisi bekerja untuk kepentingan generasi muda.

"Kita selalu bicara tentang ketidakterlibatan generasi muda dalam politik. Saya kira alasan terbesarnya karena tidak ada yang senang kehadiran dengan anak muda dalam politik! Tidak ada yang benar-benar mewakili apa yang menjadi perhatian generasi muda."

"Maka jika ada wajah (dalam politik) yang bisa anda bilang, oh dia sama saja dengan saya, tentunya anda akan lebih tertarik dengan apa yang terjadi," kata Clara.

Clara mengaku sadar bahwa dia tidak akan menumbangkan Tony Abbott pada 2 Juli mendatang. Namun setelah menantang Mike Baird yang sangat popular dalam pemilu negara bagian NSW tahun lalu, dan meraih 25 persen primary vote (suara langsung, bukan hasil preferensi), Clara mengatakan tetap ada maknanya bertarung meskipun akan kalah.

"Yang saya petik adalah bahwa jika anda peduli dan benar-benar percaya dengan apa yang diperjuangkan, maka mungkin saja membuat perbedaan, biarpun anda caleg Partai Hijau maju di dapil Partai Liberal," ujarnya.

"Kami mengalahkan Partai Buruh dalam pemilu negara bagian (NSW) dan mendapatkan 25 atau 26 persen primary vote. 1 dari 4 warga dapil Manly memilih Partai Hijau. Hal ini membuatku tahu bahwa ada keinginan nyata di masyarakat untuk perlunya alternatif," kata Clara.

"Ada dorongan di lapangan bahwa masyarakat sudah tak tahan, dan merasa kecewa atas kurangnya aksi yang dilakukan (Tony Abbott sebagai wakil mereka)," katanya.
James Mathison

James Mathison mencuri perhatian nasional saat menjadi underdog bagi Tony Abbott di dapil itu. Namun Clara sudah lebih dahulu sebelum Mathison meluncurkan kampanyenya.

"Saya seperti mau bilang, selamat untuknya (James Mathison), jika hal ini merupakan hal yang benar-benar dia pedulikan, itulah demokrasi," ujar Clara.

"Yang mengganggu saya karena kampanyenya itu dipandang secara negatif. Pernyataan pertamanya adalah bahwa dia maju dengan tanda pagar #timetogotony," kata Clara.

"Namun timbul pertanyaan, mengapa anda maju sebagai caleg independen jika kebijakannya mirip saja dengan parpol yang ada," ujarnya.

Clara mengatakan, perlu dipertimbangkan pula asal-usul James - dan bahwa dia bukan benar-benar bagian dari kelompok demografi yang ingin dia wakili.

"Dia bicara tentang keperluan generasi muda, namun dia 14 tahun lebih tua dari saya, dari generasi yang berbeda," katanya.

"Saya rasa dia mau terlibat dengan generasi muda, namun saya tidak bisa membayangkan dia bisa paham seperti saya, apa yang harus dilihat dalam dunia kerja hari ini, sebab dia sudah memiliki karir," kata Clara.

"Padahal saya punya teman yang bilang anda yakin ingin maju untuk Partai Hijau, sebab hal itu bisa berarti anda tidak akan pernah punya pekerjaan yang nyata," katanya.

Clara menghabiskan 4 tahun tumbuh besar di Indonesia. Dia mengaku situasi politik di Indonesia, sejalan dengan berakhirnya pemerintahan Presiden Suharto, membuat Clara bisa menghargai sistem politik Australia.

Tentang Abbott

Sebagai caleg Partai Hijau, Clara sama sekali bertolak belakang dengan bekas PM Tony Abbott.

"Saya tidak setuju dengan mayoritas kebijakannya, makanya saya maju melalui Partai Hijau, bukan Partai Liberal," ucap Clara.

"Sangat sulit menakar bagaimana hasil pemilu kali ini bagi dia, sebab realitanya adalah dia telah menduduki kursi dapil ini sejak saya berumur 3 tahun. Itu telah melewati berbagai situasi politik berbeda-beda," jelasnya.

Clara mengatakan pemilih di Warringah bisa saja goyah. "Hal itu akan terlihat saat pemungutan suara," katanya.
Tumbuh di Indonesia

Clara menghabiskan 4 tahun tumbuh besar di Indonesia. Dia mengaku situasi politik di Indonesia, sejalan dengan berakhirnya pemerintahan Presiden Suharto, membuat Clara bisa menghargai sistem politik Australia.

"Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memiliki pemerintahan yang bisa anda percayai. Dan betapa beruntungnya kita bahwa kita bisa memilih, dan melakukan protes, agar hal itu bisa bermakna," katanya.

"Makanya saya sangat mendukung, jika anda percaya sesuatu, ayo disampaikan dan dibicarakan. Sebab luar biasa karena kita bisa melakukannya". (nwk/nwk)


Berita Terkait