Tetapi kebiasaan makan kerupuk saat menikmati hidangan besar jarang ditemui di budaya negara-negara lain, seperti di Australia.
Keunikan inilah yang justru dipilih Nino Nadjib Riphat, istri Duta Besar Republik Indonesia di Australia, saat mengundang tamu-tamu besar berkunjung ke kediaman Duta Besar Republik Indonesia di Canberra. Berbagai jenis kerupuk dan keripik selalu ia hidangkan ke atas meja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia punya banyak macam kerupuk, dari kerupuk udang sampai kerupuk ikan. Begitu pula dengan rempeyek. Mulai yang terbuat dari kacang tanah, udang, sampai teri," tambahnya.
Dan siapa yang menyangka jika mantan Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, ternyata adalah penggemar rempeyek kacang.
"Rempeyek kacang tanah dengan daun jeruk ini kesukaannya Tony Abbott. Ia bisa menghabiskannya," kata Nino.
Makanan Indonesia di KBRI. Diplomasi bisa juga dilakukan lewat makanan. Foto: Erwin Renaldi |
Nino Riphat mengaku jika ia khusus belajar menggoreng rempeyek dengan baik. Ia pun pernah mengasah kemampuannya agar bisa menggoreng kerupuk agar lurus.
"Ini memang menjadi sebuah seni, yang saat kita menyajikan 'hanya' kerupuk tetapi bisa menjadi sesuatu yang berarti," katanya.
"Sejak penempatan pertama, kami memang belajar [memasak]. Orang tidak akan pernah melihat latar belakang saya, apakah saya seorang dosen atau psikolog, tapi justru menilai apakah saya bisa memasak atau tidak," kata Nino saat ditemui Erwin Renaldi dari ABC Australia Plus Indonesia di kediamannya baru-baru ini.
Diplomasi dalam Jamuan Makan
Sebagai istri Duta Besar, tentu saja banyak hal-hal yang harus ia lakukan demi mendukung tugas suaminya dalam menjalin hubungan baik dengan banyak negara.
Salah satunya adalah dengan bertanggung jawab pada jamuan makan di kediamannya.
Nino Riphat Kesoema istri Dubes RI di Canberra Foto: Erwin Renaldi |
Menurut Nino, jamuan makan ini memiliki peranan penting dalam hubungan diplomatik.
"Makanan menjadi unsur penting, orang datang bukan hanya untuk berbicara saja, tetapi mendapatkan suasana yang menyenangkan dan suasana ini didapatkan saat makan bersama," jelasnya.
Nino menjelaskan saat makan bersama itulah, mereka yang berada di meja yang sama tidak hanya berkomunikasi hanya lewat kata-kata saja, tetapi melalui rasa dan kebersamaan.
"Saat kita mulai dengan makanan pembuka, misalnya, kita rasakan dan cicipi, dan orang lain pun akan sama-sama merasakan sensasi yang sama."
Tak hanya itu, tugas lainnya adalah memastikan setiap sudut kediamannya selalu bersih dan terawat, serta menentukan jenis dan posisi hiasan rumah. Sering juga ia menampilkan 'display', seperti kerajinan atau kain-kain untuk mempromosikan kerajinan khas di Indonesia.
Nino pun berbagi tips dalam memasak dan mengundang tamu ke rumah.
"Pertama kita buatnya dengan hati, artinya tidak asalโฆ", ujarnya.
"Jadi waktu kita menyajikan kepada orang lain, makanan itu akan bermanfaat. Bermanfaat kepada orang yang bersangkutan karena akan membuat kenyang, juga bermanfaat karena [memberikan] pengertian semakin besar," kata Nino yang pernah masuk ke dalam buku profil dari istri-istri duta besar yang dijual di pasar Eropa dan sudah dicetak ulang selama lima kali. (nwk/nwk)












































Makanan Indonesia di KBRI. Diplomasi bisa juga dilakukan lewat makanan. Foto: Erwin Renaldi
Nino Riphat Kesoema istri Dubes RI di Canberra Foto: Erwin Renaldi