Pertanyaan menggelitik ini disampaikan kepada ABC oleh salah satu pemilih yang penasaran.
Australia telah menggunakan pensil untuk memilih sejak sebelum László Biró asal Hungaria mempopulerkan pulpen di tahun 1930-an.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bilik suara itu harus memiliki kompartemen voting terpisah, dibuat untuk menyaring pemilih dari pengamatan saat mereka menandai surat suara mereka, dan masing-masing kompartemen voting harus dilengkapi dengan pensil untuk digunakan oleh pemilih."
Itu kira-kira bunyi kata-kata yang tercantum dalam UU yang masih berlaku hari ini.
Tapi sebenarnya meskipun UU ini memerintahkan Komisi Pemilihan Umum Australia (AEC) untuk menyiapkan pensil, namun tidak menginstruksikan para pemilih untuk menggunakannya.
"Pemilih bisa membawa dan menggunakan pulpen jika mereka menghendakinya," kata juru bicara AEC Evan Ekin-Smith.
Pemilih juga dapat membawa pensil mereka sendiri. Bahkan ada yang sampai membawa pensil berwarna-warni, seperti pernah disampaikan analis pemilu ABC, Antony Green.
Tentu saja, semua ini tidak menjelaskan mengapa pensil lebih disukai daripada pulpen.
Menurut AEC, hal itu karena lebih gampang. "Cukup sederhana, mereka lebih murah, dapat digunakan kembali, serta tidak akan kering meskipun di lokasi tropis," kata Evan Ekin-Smith.
Penjelasan ini masuk akal jika kita mempertimbangkan bahwa AEC menyimpan peralatan pemungutan suara tersebut untuk pemilu berikutnya. Pulpen cenderung mengering setelah tersimpan beberapa tahun di lemari. Namun, meskipun bisa dengan mudah dipakai kembali dengan menggunakan sebuah peraut, pensil meninggalkan bekas yang dapat dengan mudah terhapus.
Tiga pemilih di Tasmania sedang memberikan suaranya di bilik suara, 20 Maret 2010. Brigid Andersen: ABC |
Sejumlah masukan masyarakat terkait penyelidikan Senat terkait Pemilu 2013, menyampaikan kekhawatiran bahwa tanda pensil di surat suara bisa diubah dengan sengaja untuk mengutak-atik hasil pemilu.
Salah satunya menulis bahwa, "Pensil itu cara kuno untuk menandai surat suara. Ada potensi untuk sengaja diubah secara besar-besaran oleh pihak yang tidak bertanggung jawab."
Anggota DPR dari Dapil Fairfax, Clive Palmer, juga mengkritik penggunaan pensil ini.
"Sebuah tanda yang dibuat dengan pulpen tidak dapat dihapus tapi dengan pensil bisa. Dan ketika Anda melihat beberapa suara yang belakangan dihitung dalam pemilihan saya, ada sejumlah suara yang tidak memiliki '1' yang telah digosok, atau dihapus, atau ada yang hanya lupa untuk menempatkan mereka di sana. Di (Dapil) Fairfax ada lima warna yang berbeda dan lima jenis surat suara."
Pada akhirnya, Komite Bersama urusan Pemilu (JSCEM) tidak menemukan bukti adanya sabotase. Namun juga tidak melihat adanya alasan khusus bahwa penggunaan pensil harus diwajibkan dalam pemilu.
Komite ini menyatakan, "Pensil mungkin lebih tepat untuk sebagian kecil kondisi tertentu, tetapi dalam pandangan Komite, norma operasional haruslah menyebutkan penyediaan pulpen. Karena itu, Komite merekomendasikan penyediaan pulpen harus menjadi pilihan di bawah UU Pemilu. Jika pensil ini harus disediakan, maka Komisioner Pemilihan dapat menyetujui penggunaan tersebut dengan pengecualian."
Kesimpulannya, untuk saat ini, penggunaan pensil tergantung kepada pemilih. Komisi Pemilihan Umum tidak dapat menyiapkan pulpen meskipun mereka menghendakinya, sampai Parlemen mendatang memutuskan untuk mengubah UU ini. (nwk/nwk)











































Tiga pemilih di Tasmania sedang memberikan suaranya di bilik suara, 20 Maret 2010. Brigid Andersen: ABC