Sejak dimulai 8 Mei lalu, kedua parpol telah memasang iklan di tiga stasiun TV nasional dan sejumlah koran di lima kota utama, yaitu Sydney, Melbourne,Perth dan Adelaide.
Hingga periode 21 Mei Partai Liberal sejauh ini telah menghabiskan 673.058 dollar (sekitar Rp 6,7 miliar) sementara Partai Buruh mengeluarkan 475.044 dolar (sekitar Rp 4,7 miliar).
Menurut analisa Ebiquity, perusahaan analisis periklanan, Partai Liberal lebih banyak mengalokasikan iklannya di slot prime time yang memang bayarannya lebih mahal. Hal itu mereka lakukan terutama di pekan pertama kampanye.
Memasuki pekan kedua, belanja iklan kedua parpol cenderung mengalami penurunan.
CEO Ebiquity, Richard Basil-Jones kepada ABC menjelaskan ada kemungkinan belanja iklan yang besar di pekan pertama tidak bisa diulangi oleh kedua parpol untuk masa kampanye pekan-pekan berikutnya. Masa kampanye pemilu kali ini berlangsung selama 8 minggu.
"Seperti pemilu terdahulu di tahun 2010 dan 2013, memang mereka jor-joran di awal kampanye, lalu semakin menurun hingga pekan terakhir kampanye," jelas Basil-Jones.
Iklan Negatif dan Iklan Positif
Ebiquity juga mencatat bahwa dari belanja iklan politik selama dua pekan ini, kedua parpol tampaknya memiliki kencederungan berbeda dalam jenis iklan yang mereka tampilkan.
Tercatat Partai Liberal membelanjakan semua dana tersebut buat iklan positif sementara Partai Buruh menghabiskan 298.487 dollar (Rp 3 miliar) buat iklan positif serta 176.558 dollar untuk iklan negatif.
Namun, menurut Basil-Jones, Partai Liberal justru gencar mengeluarkan iklan negatif menyerang Pemimpin Partai Buruh Bill Shorten melalui media online dan media sosial.
Ebiquity tidak mencatat berapa besar dana yang digelontorkan buat iklan di media sosial.
Praktisi periklanan Dee Madigan mengatakan iklan negatif efektif untuk menarik perhatian orang mengikuti media sosial dan website dari parpol yang bersangkutan.
"Alasan utama mengapa iklan negatif sangat efektif di media online sebab iklan seperti itu mendorong orang untuk mencari informasi lebih jauh sementara iklan positif tidak seperti itu," jelasnya.
Dalam menganalisa data belanja iklan ini, Ebiquity hanya menghitung tarif rata-rata iklan yang ada di 3 stasiun TV serta sejumlah surat kabar. (nwk/nwk)










































