Ketika Mahasiswa Indonesia Menggiring Sapi di Pedalaman Australia

Ketika Mahasiswa Indonesia Menggiring Sapi di Pedalaman Australia

Australia Plus ABC - detikNews
Senin, 23 Mei 2016 13:21 WIB
Ketika Mahasiswa Indonesia Menggiring Sapi di Pedalaman Australia
Foto: Mahasiswa Universitas Brawijaya Abiyoga Pamungkas menggiring sapi di Peternakan Helen Springs.
Jakarta - Bagaimana rasanya menggiring sapi di pedalaman Australia? Abiyoga Pamungkas dari Universitas Brawijaya yang ikut dalam NIAPP 2016 (NTCA Indonesia-Australia Pastoral Program) menceritakan pengalamannya magang di salah satu peternakan terbesar di Australia.

Sebagai bagian dari program magang, mulai 16 April 2016 sebagian besar dari 20 peserta program ini ditempatkan pada 10 peternakan. Saya bersama rekan Aan Aryadi (Universitas Sriwijaya) mendapatkan pengalaman di Helen Springs Station.

Kami menghabiskan enam minggu di sana, terjun langsung di salah satu peternakan terbesar di Australia. Helen Springs memiliki jumlah populasi ternak sekitar 25.000 ekor sapi.

Chris Towne, manager di peternakan itu, sangat terbuka menyambut kedatangan kami. "Program ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk mendapatkan hasil yang positif," katanya.

Menggiring sapi di Peternakan Helen Springs. (Foto: Abiyoga Pamungkas)
Menggiring sapi di Peternakan Helen Springs. (Foto: Abiyoga Pamungkas)

Di sini, saya dan Aan menjadi stockmen yang bertugas memanajemen sapi. Kami dibimbing oleh Riley Thomson sebagai headstockmen. Dialah yang akan memberi instruksi saat bekerja.

"Keselamatan kerja adalah hal yang paling utama. Saya membimbing kedua mahasiswa Indonesia ini untuk memanajemen sapi dengan standar animal welfare agar sapi tidak mengalami stress," jelasnya.

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mustering. Ini merupakan istilah untuk menggiring sapi dari suatu paddock menuju paddock lain. Mustering saat itu menggunakan enam ekor kuda dan sebuah sepeda motor.

Tugas stockmen yang menunggangi kuda adalah menggiring sapi tersebut dengan berjalan secara tenang. Lalu tugas untuk yang mengendarai motor adalah untuk mengejar sapi yang lepas dari kawanannya.

Sekitar 1.200 sapi yang kami giring pada 18 April 2016 itu menuju yard untuk melakukan proses lebih lanjut. Kami pun unjuk gigi dalam menggiring sapi dengan menggunakan kuda.

Mahasiswa Universitas Brawijaya Abiyoga Pamungkas menggiring sapi di Peternakan Helen Springs.
Mahasiswa Universitas Brawijaya Abiyoga Pamungkas menggiring sapi di Peternakan Helen Springs.

Pada keesokan harinya kegiatan dilanjutkan dengan drafting, yaitu memisahkan sapi menjadi lima bagian (wet cows, dry cows, bull, weaner, calf). Drafting dilakukan langsung pada yard yang dibagi menjadi beberapa bagian. Di antaranya backyard sebagai tempat berkumpulnya semua sapi, side yard sebagai tempat untuk menampung beberapa sapi sebelum di drafting, round yard adalah tempat untuk melakukan drafting.

Kami saat itu bertugas untuk menjaga backyard dan mengirim sapi menuju round yard. Tugas tersebut cukup sulit karena kami harus terjun langsung menghadapi sapi. Kami pun menerapkan low-stress cattle handling yaitu dengan menggiring sapi secara tenang menggunakan siulan dan gerakan yang lembut.

Abiyoga Pamungkas saat menjaga backyard
Abiyoga Pamungkas saat menjaga backyard

Tujuan dengan melakukan drafting adalah untuk menyisakan weaner. Weaner jantan tersebut merupakan anak sapi jantan yang sudah lepas sapih, dan belum pernah bertemu manusia sebelumnya.

Maka mereka akan diproses untuk branding yaitu menempatkan besi yang sudah dibakar tepat di bagian pangkal paha weaner dengan lambang perusahaan Sir Kidman dan tahun weaner tersebut di proses yaitu 6 (2016).

Riley Thomson (kemeja biru) sedang melakukan drafting.
Riley Thomson (kemeja biru) sedang melakukan drafting.

Kami juga melakukan kastrasi yaitu membelah skrotum dan mengambil testis lalu memotongnya dengan menggunakan silet untuk meningkatkan laju berat badannya, dan dehorning yaitu memotong tanduk dengan menggunakan dehorner manual untuk menghindari perkelahian sapi yang menyebabkan luka yang parah.

Selanjutnya, vaksinasi yaitu menginjeksikan vaksin dengan metode subcutan (di bawah kulit namun di atas otot) untuk menghindari penyakit Botulinum. Kami juga melakukan cattle identification yaitu memasang eartag dan memotong sedikit bagian telinga luar menggunakan gunting khusus dengan bentuk segitiga, memasang NLIS (National Livestock Identification System) sebagai chip data dari sapi tersebut.

Abiyoga Pamungkas sedang melakukan vaksinasi weaner.
Abiyoga Pamungkas sedang melakukan vaksinasi weaner.

Seluruh kegiatan di atas kami lakukan dengan penuh semangat. Pengalaman dan ilmu yang kami peroleh di sana, tentu saja akan menjadi bekal bagi kami untuk berkontribusi bagi pengembangan industri sapi pedaging di Indonesia nantinya.

*Abiyoga Pamungkas, mahasiswa Universitas Brawijaya, peserta magang di peternakan Australia melalui NIAPP 2016. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi. (nwk/nwk)




Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads