"Acara yang bernama Wonderful Indonesia Festival dan Travel Fair kemarin sangat ramai, pengunjung banyak yang datang silih berganti, tapi lapangan itu penuh." kata Don Kardono, staf ahli Menteri Pariwisata Indonesia kepada wartawan ABC Australia Plus Indonesia, L. Sastra Wijaya.
"Kehadiran pemenang My Kitchen Rules 2016, Tasia dan Gracia Seger membuat heboh, yang minta foto bersama antreannya panjang, ratusan orang" tambah Don Kardono lagi.
"Begitupun hadirnya penyanyi Tompi membuat festival makin atraktif. Lagu-lagu hitsnya masih bisa dinyanyikan bersama oleh banyak pengunjung." kata Don lagi.
Menteri Pariwisata Indonesia Arief Yahya juga menghadiri acara tersebut dan menurut Don Kardono, Menpar menekankan beberapa hal yang ingin dipromosikan kepada warga Australia khususnya di Sydney dan New South Wales.
"Festival ini memiliki tiga makna mempromosikan bebas visa kunjungan ke Indonesia selama 30 hari, melalui pintu mana saja."
"Juga memperkenalkan karya budaya Indonesia, seperti kuliner dan kesenian, seperti Tarian Bali, Dayak, Jawa, Sulawesi Utara dan Angklung. Kulinernya stand yang menawarkan sate ayam, sate kambing, sop buntut, nasi uduk, nasi padang, nasi campur."
"Dan juga mempromosikan branding Wonderful Indonesia, dengan 10 daerah kunjungan baru di Indonesia selain Bali." kata Arief Yahya.

Tari Bali meramaikan Festival Wonderful Indonesia di Sydney. (Foto: Astrid Vasile)
Bagaimana dengan reaksi dari beberapa pengunjung yang mendatangi festival tersebut?
Salut Muhidin dosen asal Indonesia yang sekarang mengajar di Macquarie University di Sydney mengatakan bahwa festival berlangsung cukup ramai.
"Kalau saya lihat peserta yang ikut sepertinya terdiri dari dua program. Yang pertama promosi urusan untuk travel ke Infonesia dan juga promosi makanan Indonesia. Yang cukup nenarik adalah terlihat stand makanan masih lebih banyak dikunjungi oleh peserta yang memang sebagian besar warga Diaspora Indonesia." kata Salut.
"Sementara stand yang berupa promosi lebih diminati oleh para bule atau orang yang memang mencari ide untuk bisnis atau liburan ke Indonesia. Hanya saja frekuensinya tidak sebesar bagian makanan tadi." kata Salut lagi.

Pemenang MKR 2016 Tasia dan Gracia menjawab pertanyaan pengunjung dalam acara Meet dan Greet. (Foto: Astrid Vasile)
Dewi Booth seorang warga asal Indonesia lainnya mengatakan bahwa adanya bantal-bantal besar (bean bags) yang diletakkan di depan panggung sangat membantu pengunjung yang hadir.
"Karena bisa menonton pertunjukkan sambil selonjoran." katanya kepada Australia Plus Indonesia lewat sosial media.
Sementara itu, Indrastuti yang sudah 10 tahun lebih tinggal di Sydney dan hadir bersama suaminya Paolo Zanchetta dan beberapa teman lain menyambut baik penyelenggaraan festival tersebut.
Namun Indrastuti mengaku kecewa dengan mutu makanan yang dijual.
"Saya masih melihat bahwa para penjual makanan belum memenuhi standar yang baik dalam menyimpan makanan baik yang ditampilkan maupun bahan-bahan mentah terutama daging. Sate yang saya makan kebetulan sudah basi. Saya rasakan dari dagingnya." katanya.
"Mungkin perlu lebih di promosikan acara ini kepada masyarakat local non Indonesia, karena hanya beberapa orang saja orang 'bule' yang hadir." kata Indrastuti lagi.
Seorang pengunjung lainnya, Rizka Savitri juga memberikan pandangan mengenai stand masakan yang ditampilkan di Tumbalong Park di kawasan Darling Harbour tersebut.
"Ada sebagian kecil stand penjual makanan dan minuman yang menuliskan menu dalam bahasa Indonesia saja sehingga agak menyulitkan orang asing untuk memesan makanan/minuman khas Indonesia yang dijual."
"Semoga untuk di acara yang akan datang, semua stand penjual makanan dan minuman bisa mempersiapkan lebih baik lagi untuk kelengkapan menu dalam bahasa Indonesia dan Inggris." kata Rizka.

Bintang utama Festival adalah penyanyi jazz Tompi asal Aceh. (Foto: Astrid Vasile)
Dari sisi penampillan para penghibur Rizka Savitri mengatakan acara berlangsung menarik.
"Penampilan favorit versi saya dari acara selama dua hari adalah tari Ratoh Duek dari Aceh yang memperlihatkan harmoni dan kekompakan gerakan para penarinya, penampilan dari Justice Crew dan juga Tompi. Pengunjung lainnya juga terlihat bertepuk tangan riuh saat pertunjukan berlangsung." kata Rizka.
Astrid Vasile, seorang warga Indonesia yang tinggal di Perth (Australia Barat) secara khusus datang ke Sydney untuk menyaksikan Festival tersebut.
Astrid yang merupakan seorang pengusaha dan giat terlibat dalam Jaringan Diaspora Indonesia di Australia mengatakan pada umumnya harus dihargai, namun dia juga memberikan beberapa kritiknya.
"Saya sengaja datang dari Perth untuk melihat antusiasme orang-orang Australia pada Indonesia. Namun saya agak terkejut bahwa yang datang mungkin 90 persen orang Indonesia, dan hanya 10 persen 'bule' yang mungkin memiliki hubungan karena menikah dengan orang Indonesia." kata Astrid.
Menurut Astrid, dalam acara festival seperti ini, seharusnya promosi budaya dan pariwisata itu sebaiknya untuk orang di luar negeri agar tertarik datang ke Indonesia.
"Dari beberapa komentar yang saya dengar dari pengunjung ada yang mengatakan ada pembicara yang tidak mencerminkan Indonesia terlalu lama di panggung, juga ada demo masak di panggung juga tidak ada hubungannya dengan Indonesia. " kata Astrid lagi.
Menurut dugaannya, Astrid mengatakan bahwa promosi yang dilakukan sebelum acara berlangsung kurang banyak sehingga yang datang sebagian besar adalah orang Indonesia.
"Usaha yang sudah dilakukan pasti sudah maksimal, namun pesan bahwa Indonesia adalah daerah wisata, banyak pelabuhan, banyak atraksi untuk wisatawan, banyak budaya, saya kira tidak sampai untuk menarik banyak kedatangan warga Australia." kata Astrid lagi.

Astrid Vasile bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya di Sydney. (Foto: Astrid Vasile)
(nwk/nwk)











































