Kisah Dua "Kartini" Indonesia dari Residential Wing Adelaide

Kisah Dua "Kartini" Indonesia dari Residential Wing Adelaide

Australia Plus ABC - detikNews
Kamis, 21 Apr 2016 11:45 WIB
Kisah Dua Kartini Indonesia dari Residential Wing Adelaide
Foto: Australia Plus ABC
Jakarta -

Dua wanita asal Indonesia, Astutiningsih dan Tuwariyah, sedang berada di Adelaide menjalani operasi craniofacial. Di tengah kecacatan yang mereka alami, keduanya adalah atlet nasional dan internasional yang sudah membawa nama Indonesia. Nuraeni Mosel, seorang relawan yang banyak membantu pasien craniofacial, melihat keduanya sebagai Kartini baru yang berjuang walau mengalami masalah dalam hidup mereka.

Astutiningsih, adalah pasien penderita Pierre Robert Syndrome, saat ini dia sedang dalam tahap pemulihan atas operasinya yang diberikan secara gratis oleh Tim Australian Cranofacial Unit (ACFU) di Royal Adelaide Hospital.

Astuti atau Ning panggilan akrabnya lahir pada tanggal 3 Januari 1981. Kisah perjalanannya untuk sampai di Adelaide sangatlah panjang. Saat usia tiga hari, oleh pihak rumah sakit disarankan untuk kembali lagi pada saat berusia 18 tahun, supaya bisa dioperasi.

Namun sayangnya saat dia kembali ke rumah sakit tersebut, si dokter ahlinya ternyata sudah meninggal. Selama menunggu usia 18 tahun, banyak sekali peristiwa traumatik yang dialami Astuti dikarenakan kekurangan yang disandangnya. Akhirnya pada saat usia 20 tahun Astuti yang memiliki orang tua guru olah raga, berusaha mencari tahu apa penyebab syndrome langka yang disandangnya.

Sampai pada saat usia 23 tahun, dia bertemu professor David David di Surabaya, hanya sayangnya biaya untuk transportasi Yogyakarta-Surabaya dua kali dalam sebulan sangatlah berat untuk dia dan keluarganya. Maka proses itupun terhenti juga akhirnya.

Profesor David David adalah ahli bedah cranofacial terkemuka di dunia, dan sudah banyak melakukan operasi terhadap pasien craniofacial dari Indonesia.

Kelainan craniofacial adalah kelainan yang mengenai kranio (tulang kepala) dan fasial (tulang-tulang wajah). Kelainan ini adalah kelainan genetik, tetapi tidak selalu diturunkan. Kelainan ini mempunyai spektrum mulai dari yang ringan hingga yang berat atau mengenai beberapa anggota tubuh yang lain (yang disebut juga dengan Sindrom Kraniofasial).

Astutiningsih (kiri) dan Tuwariyah berpiknik di salah satu sudut kota Adelaide (Foto: Nuraeni Mosel)
Astutiningsih (kiri) dan Tuwariyah berpiknik di salah satu sudut kota Adelaide (Foto: Nuraeni Mosel)

Setelah sekian lama dia browsing di internet akhirnya masuklah dia di Situs Komunitas Penyandang Kecacatan Langka. Dari situs tersebut akhirnya Astuti pun mengerti situasi yang dihadapinya serta akses ke yayasan-yayasan yang bisa diharapkan membantu pengobatannya. Saat itu dia sudah menjadi atlit Panahan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari sekian banyak yayasan yang dia hubungi, nama Yayasan Senyum Bali lah yang menghubunginya di pertengahan Oktober 2015. Seminggu kemudian, setelah Astuti bertemu dengan dokter Walter Flapper di YSB, dia disarankan melakukan pemeriksaan lengkap dan dikirim ke Bali.

Dua minggu kemudian, dia mendapat telepon dari YSB, bahwa Kedutaan Australia menyetujui pengajuan bantuan operasi. Astuti hanya harus mengurus paspornya sendiri, sedangkan visa dan lain-lain akan ditanggung oleh Yayasan Senyum Bali dan Tim ACFU.

Dikarenakan keterbatasan dananya, Astuti pun terpaksa menjual alat panahnya sebagai uang kontribusi sebagai pasien mandiri. Pasien Mandiri adalah sebutan untuk para pasien craniofacial yang mencari pengobatan ke YSB, jadi bukan YSB yang mencari mereka.

Akhirnya setelah satu bulan sejak tanggal 5 Januari 2016, Astuti ditemani sahabat memanahnya Tuwariyah atau Iyah sebagai escort atau pendampingnya, berangkat ke Adelaide untuk mendapatkan pengobatan cuma-cuma dari Tim ACFU. Operasi pembukaan tulang rahang dan penutupan cleft palate di langit-langit mulutnya berjalan sukses pada tanggal 7 April 2016.

Prestasi memanah Astutiningsih dalam Pekan Paralympic Nasional adalah juara tiga kelas berdiri (Astuti bermasalah juga dengan sebelah kakinya yang tidak tumbuh secara utuh). Juara 3 kelas Umum Panahan di Pekan Paralympic Panahan Riau.

Astutiningsih (berjilbab) dan Tuwariyah (kaos biru) ikut berlatih gamelan di Pendopo Flinders University selama keberadaan mereka di Adelaide. (  Foto: Nuraeni Mosel
Astutiningsih (berjilbab) dan Tuwariyah (kaos biru) ikut berlatih gamelan di Pendopo Flinders University selama keberadaan mereka di Adelaide. ( Foto: Nuraeni Mosel)

Sahabatnya Tuwariyah adalah Atlet Paralympic juga. Dia atlet nasional dan internasional di beberapa bidang. Tuwariyah adalah penderita polio sejak umur 4 tahun. Sejak tahun 2008, dia berlatih dalam cabang angkat berat. Keberangkatannya bertanding ke Balikpapan terpaksa tertunda karena kehamilan anak pertamanya. Kemudian di tahun 2011, dia masuk karantina di Solo untuk menjadi atlet bola voli duduk. Latihan yang sangat berat pun dilaluinya untuk mewakili Indonesia dalam Asean Paralympic Games di Solo. Tim bola voli duduk akhirnya mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari dana yang dia dapatkan, dia belikan alat panah bekas dengan niat untuk mengajak suaminya yang juga penyandang polio berlatih sebagai atlit panahan. Dikarenakan setiap hari menunggui suami latihan, akhirnya diapun bergabung dan di lapangan panahan itulah dia bertemu Astuti.

Di bulan Oktober 2012, Tuwariyah berhasil mempersembahkan tiga medali emas untuk Indonesia di Pekan Paralympic Internasional di Korea Selatan. Tuwariyah merebut juara 1 vita recurve, juara 1 bow kelas duduk, juara 1 bow kelas umum. Suaminya mendapatkan 1 medali emas di double bow, 1 perunggu vita recurve, 1 perunggu bow kategori Umum.

Pada tahun 2013, Iyah kembali mewakili Indonesia bersama tim bola voli duduknya ke Myanmar dan merebut juara pertama di Asean Paralympic Games. Dia saat ini masih menyimpan harapan untuk bisa berlaga di Bandung dalam rangka Pekan Olah Raga Nasional setelah pulang dari mendampingi Astuti.

Iyah sehari-harinya selalu sukarela memasak buat teman-temannya di Residential wing dan juga untuk ibu-ibu yang menunggui anaknya di saat operasi di Woman Children Hospital yang terletak tidak jauh dari Royal Adelaide.

Bagi saya kisah Astutiningsih dan Tuwariyah ini sangat inspiratif. Kadang-kadang kita disibukkan dengan kesempitan kita sendiri dan kita lupa melihat keluar, bahwa di sekitar kita, di Adelaide yang nyaman ini, ada Kartini-Kartini muda yang tidak punya kata mengeluh akan keterbatasan mereka.

Selamat memperingati Hari Kartini.

* Nuraeni Mosel adalah warga Indonesia yang tinggal di Adelaide (Australia Selatan) dan sedang menggerakkan kelompok relawan IndoPerduli Adelaide dengan kegiatan di antaranya membantu para pasien cranofacial yang datang untuk menjalani operasi di Adelaide.

(nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads