Sejak beberapa waktu terakhir peneliti melepasliarkan Tasmanian devil yang telah divaksinasi untuk meningkatkan jumlah populasi binatang ini yang semakin menurun.
Namun, jumlah yang mati ditabrak bukannya semakin menurun, malah mengalami peningkatan.
Kini melalui program Save the Tasmanian Devil, para peneliti mencoba menerapkan pelatihan bagi binatang ini untuk menghindari kecelakaan lalu-lintas.
Dr Sam Fox yang mengelola program ini menjelaskan Tasmanian devil akan dilatih untuk menghindari kendaraan yang datang saat menyebarang di jalan raya.
"Kami mencari cara agar hewan ini bisa merespon stimulus tertentu, misalnya suara kendaraan atau sorotan lampu mobil, yang kemudian ditanggapi sebagai ancaman," kata Dr Fox.
"Ini akan diujicobakan bulan Maret ini untuk melihat apakah hewan ini akan ketakutan jika menerima stimulus tertentu yang menjadi ancaman," katanya.
Bulan lalu, 10 anak Tasmanian devil dilepasliarkan ke habitatnya di kawasan Forestier Peninsula, untuk bergabung dengan hewan lainnya yang telah lebih dahulu dilepasliarkan.
Namun dua ekor anak devil itu mati tertabrak di jalan raya. Tahun lalu, 12 ekor devil mati di kawasan yang sama.
Sebenarnya para peneliti telah memasang semacam pagar virtual di kawasan ini, dan peneliti yakin bahwa hal itu berhasil mencegah kematian namun biayanya sangat mahal untuk dilanjutkan.
Karena itu, kini para pengguna jalan raya diminta untuk lebih berhati-hati dan mengurangi kecepatan kendaraannya saat melintas di habitat Tasmanian devil.
Tercatat sebanyak 361 ekor hewan ini mati dalam kecelakaan lalu-lintas tahun lalu.
(nwk/nwk)











































