Setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, persiapan pulang ke Indonesia bukan sekadar berpindah tempat. Novi Rahaya Restuningrum yang baru saja menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Monash di Melbourne berbagi persiapan yang dilakukannya.
"Mbak Novi, kapan pulang?" "Jeng, kapan mulih?" "Kapan kembali ke tanah air, Nov?" "Hey Novi, when are you going back to Indonesia?"
Itu adalah beberapa ungkapan teman-teman saat mengetahui studi saya di Monash University, Australia, sudah selesai. Pertanyaan yang ketika dijawab, berlanjut kepada ungkapan lain, "Kalau begitu, kita harus bikin kumpul-kumpul terakhir dong sebelum kamu back for good."
Hal di atas hanya salah satu aspek dalam salah satu fragmen kehidupan saya sebagai mahasiswa Indonesia di Australia, yang harus pulang segera setelah menamatkan sekolah. Ada beberapa, bahkan mungkin banyak, aspek lain sehubungan dengan kepulangan saya ke tanah air, yang merupakan persiapan pulang dan penyesuaian diri kembali di tanah air.
Mengenai Pulang
Banyak alasan mengapa seorang mahasiswa yang studi di negara lain harus pulang atau merasa tidak harus pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya. Bagi saya alasan untuk saya kembali ke tanah air adalah saya harus kembali ke instansi tempat saya bekerja dan kembali mengajar di sana. Hal ini sesuai dengan kontrak dengan penyedia beasiswa saya.
Dengan kondisi seperti itu, sejak awal kami berangkat ke Australia, saya mengatakan kepada anak-anak, bahwa kita di Australia selama 3-4 tahun dan setelah itu harus kembali ke Indonesia. Hal ini untuk memberikan gambaran kepada mereka mengenai rencana jangka panjang keluarga dan studi mereka juga.
Pulang berarti pindah. Pindah rumah dari satu negara ke negara lain. Bagi mahasiswa yang membawa anak-anak selama masa studi mereka, pulang berarti juga pindah tempat sekolah.
Beberapa anak kembali ke Indonesia pada saat awal dimulainya tahun ajaran baru di sekolah baru, seperti masuk SD atau SMP dan SMA, namun bagi beberapa anak lain, kepulangan mereka tidak pas dengan awal tahun ajaran sehingga mereka terpaksa menyesuaikan diri karena harus masuk sekolah di Indonesia pada tengah tahun pelajaran. Oleh karena itu, kepulangan ke Indonesia adalah suatu hal yang besar, merupakan hal serius yang perlu dipersiapkan jauh-jauh hari.

Kelegaan setelah selesai sekolah dimanfaatkan untuk mengunjungi daerah wisata di Victoria. Novi (kanan) bersama mahasiswa Indonesia lain di Squeaky Beach, Wilson Promontory National Park. (Foto: Lia Rosida)
Persiapan
Setelah kepastian mengenai kelulusan, pada umumnya wacana "pulang" ini akan segera dirancang pelaksanaannya. Terlalu banyak yang harus dilakukan jika hal sebesar ini dilakukan pada waktu yang mepet.
Mempersiapkan anak-anak yang masih kecil biasanya merupakan hal yang cukup sulit bagi para orang tua. Pada umumnya, seperti anak-anak di manapun yang akan pindah sekolah dan pindah rumah, anak-anak terutama yang masih kecil (usia SD), merasa enggan untuk pulang karena mereka enggan meninggalkan teman-temannya di sini, dan terdapat kecemasan bahwa mereka tidak bisa mendapatkan teman di Indonesia.
Orang tua yang memang akan pulang perlu mempersiapkan anak-anak dengan perlahan-lahan sejak berbulan-bulan sebelum kepulangannya. Hal ini untuk mempersiapkan mental anak-anak, sehingga mereka merasa siap. Mereka anak mulai mewacanakan mengenai rencana kepulangan mereka ke Indonesia kepada teman-teman mereka. Setidaknya itu yang dilakukan anak-anak saya bahkan ketika thesis saya belum selesai proses examination-nya.
Tentu saja teman-teman mereka akan merasa kecewa. Berbagai ungkapan seperti "Noooo, why do you have to go back to Indonesia?" hanyalah salah satu kalimat yang menyayangkan kepergian anak-anak saya. Tentu saja hal ini membuat anak-anak menjadi semakin berat menerima bahwa mereka harus pulang, namun saya yakin, hal yang sama akan terjadi walaupun wacana ini disuarakan dekat hari kepulangan, sehingga persiapan mereka menerima ini semakin pendek. Dengan menyuarakannya jauh-jauh hari, saya berharap anak-anak memiliki waktu yang cukup untuk mengelola perasaan mereka.
Banyak saya mendengar mengenai anak-anak yang khawatir akan terjadinya bullying terhadap mereka, karena banyaknya berita mengenai kasus-kasus bully di tanah air. Pernah juga saya 'dikeluhi' seorang anak SD yang mengkhawatirkan keselamatan mereka sehubungan dengan banyaknya bencana alam yang terjadi di Indonesia, ditambah dengan polusi dari asap rokok dan kendaraan bermotor, ketika dia pulang nanti. Hal-hal yang mungkin tidak dipikirkan oleh banyak anak usia SD.
Hal-hal buruk seperti di atas tidak dapat dihindari. Bagi saya, mengkomunikasikan kepada anak-anak mengenai apa yang terjadi di Indonesia sangat penting. Bahwa betul terjadi bencana, namun mari dihitung berapa banyak bencana yang terjadi dalam kurun waktu tertentu.
Memang ada bullying, dan anak-anak yang telah diajarkan bagaimana bersikap terhadap hal tersebut dan bagaimana menghadapinya, kita ingatkan kembali mengenai hal itu. Dan, perlu juga kita tekankan bahwa di manapun terjadi bullying.
Bagi saya, kebetulan anak kedua saya sempat mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari dua temannya dalam dua waktu yang berbeda. Hal tersebut cukup bagi saya untuk memberikan contoh bahwa bullying, dalam level yang rendah maupun yang tinggi, dapat terjadi di mana saja. Bukan berarti bahwa bullying dapat dibenarkan, namun yang ingin saya tekankan adalah cara anak-anak kita bersikap dan menghadapi kasus-kasus seperti ini dalam kehidupan mereka.
Maka bagi anak-anak saya, ketika di Australia, kata-kata "pulang" bukanlah sesuatu yang mengerikan yang membuat mereka merasa tertekan. Meskipun putra kedua saya sempat beberapa kali 'merayu' ibunya untuk memperpanjang visa agar bisa tinggal di Australia lebih lama, saya mengatakan bahwa kami harus kembali ke Indonesia karena banyak hal yang menunggu di Indonesia, termasuk ayahnya yang ketika itu memutuskan untuk tidak ikut pindah ke Australia.

Novi (depan, paling kanan) menambah pertemanan selama di Melbourne dengan ikut kegiatan mempromosikan budaya Indonesia. (Foto: Nur Fadilah)
Properti dan barang-barang milik
Itu adalah beberapa ungkapan teman-teman saat mengetahui studi saya di Monash University, Australia, sudah selesai. Pertanyaan yang ketika dijawab, berlanjut kepada ungkapan lain, "Kalau begitu, kita harus bikin kumpul-kumpul terakhir dong sebelum kamu back for good."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai Pulang
Banyak alasan mengapa seorang mahasiswa yang studi di negara lain harus pulang atau merasa tidak harus pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya. Bagi saya alasan untuk saya kembali ke tanah air adalah saya harus kembali ke instansi tempat saya bekerja dan kembali mengajar di sana. Hal ini sesuai dengan kontrak dengan penyedia beasiswa saya.
Dengan kondisi seperti itu, sejak awal kami berangkat ke Australia, saya mengatakan kepada anak-anak, bahwa kita di Australia selama 3-4 tahun dan setelah itu harus kembali ke Indonesia. Hal ini untuk memberikan gambaran kepada mereka mengenai rencana jangka panjang keluarga dan studi mereka juga.
Pulang berarti pindah. Pindah rumah dari satu negara ke negara lain. Bagi mahasiswa yang membawa anak-anak selama masa studi mereka, pulang berarti juga pindah tempat sekolah.
Beberapa anak kembali ke Indonesia pada saat awal dimulainya tahun ajaran baru di sekolah baru, seperti masuk SD atau SMP dan SMA, namun bagi beberapa anak lain, kepulangan mereka tidak pas dengan awal tahun ajaran sehingga mereka terpaksa menyesuaikan diri karena harus masuk sekolah di Indonesia pada tengah tahun pelajaran. Oleh karena itu, kepulangan ke Indonesia adalah suatu hal yang besar, merupakan hal serius yang perlu dipersiapkan jauh-jauh hari.

Kelegaan setelah selesai sekolah dimanfaatkan untuk mengunjungi daerah wisata di Victoria. Novi (kanan) bersama mahasiswa Indonesia lain di Squeaky Beach, Wilson Promontory National Park. (Foto: Lia Rosida)
Persiapan
Setelah kepastian mengenai kelulusan, pada umumnya wacana "pulang" ini akan segera dirancang pelaksanaannya. Terlalu banyak yang harus dilakukan jika hal sebesar ini dilakukan pada waktu yang mepet.
Mempersiapkan anak-anak yang masih kecil biasanya merupakan hal yang cukup sulit bagi para orang tua. Pada umumnya, seperti anak-anak di manapun yang akan pindah sekolah dan pindah rumah, anak-anak terutama yang masih kecil (usia SD), merasa enggan untuk pulang karena mereka enggan meninggalkan teman-temannya di sini, dan terdapat kecemasan bahwa mereka tidak bisa mendapatkan teman di Indonesia.
Orang tua yang memang akan pulang perlu mempersiapkan anak-anak dengan perlahan-lahan sejak berbulan-bulan sebelum kepulangannya. Hal ini untuk mempersiapkan mental anak-anak, sehingga mereka merasa siap. Mereka anak mulai mewacanakan mengenai rencana kepulangan mereka ke Indonesia kepada teman-teman mereka. Setidaknya itu yang dilakukan anak-anak saya bahkan ketika thesis saya belum selesai proses examination-nya.
Tentu saja teman-teman mereka akan merasa kecewa. Berbagai ungkapan seperti "Noooo, why do you have to go back to Indonesia?" hanyalah salah satu kalimat yang menyayangkan kepergian anak-anak saya. Tentu saja hal ini membuat anak-anak menjadi semakin berat menerima bahwa mereka harus pulang, namun saya yakin, hal yang sama akan terjadi walaupun wacana ini disuarakan dekat hari kepulangan, sehingga persiapan mereka menerima ini semakin pendek. Dengan menyuarakannya jauh-jauh hari, saya berharap anak-anak memiliki waktu yang cukup untuk mengelola perasaan mereka.
Banyak saya mendengar mengenai anak-anak yang khawatir akan terjadinya bullying terhadap mereka, karena banyaknya berita mengenai kasus-kasus bully di tanah air. Pernah juga saya 'dikeluhi' seorang anak SD yang mengkhawatirkan keselamatan mereka sehubungan dengan banyaknya bencana alam yang terjadi di Indonesia, ditambah dengan polusi dari asap rokok dan kendaraan bermotor, ketika dia pulang nanti. Hal-hal yang mungkin tidak dipikirkan oleh banyak anak usia SD.
Hal-hal buruk seperti di atas tidak dapat dihindari. Bagi saya, mengkomunikasikan kepada anak-anak mengenai apa yang terjadi di Indonesia sangat penting. Bahwa betul terjadi bencana, namun mari dihitung berapa banyak bencana yang terjadi dalam kurun waktu tertentu.
Memang ada bullying, dan anak-anak yang telah diajarkan bagaimana bersikap terhadap hal tersebut dan bagaimana menghadapinya, kita ingatkan kembali mengenai hal itu. Dan, perlu juga kita tekankan bahwa di manapun terjadi bullying.
Bagi saya, kebetulan anak kedua saya sempat mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari dua temannya dalam dua waktu yang berbeda. Hal tersebut cukup bagi saya untuk memberikan contoh bahwa bullying, dalam level yang rendah maupun yang tinggi, dapat terjadi di mana saja. Bukan berarti bahwa bullying dapat dibenarkan, namun yang ingin saya tekankan adalah cara anak-anak kita bersikap dan menghadapi kasus-kasus seperti ini dalam kehidupan mereka.
Maka bagi anak-anak saya, ketika di Australia, kata-kata "pulang" bukanlah sesuatu yang mengerikan yang membuat mereka merasa tertekan. Meskipun putra kedua saya sempat beberapa kali 'merayu' ibunya untuk memperpanjang visa agar bisa tinggal di Australia lebih lama, saya mengatakan bahwa kami harus kembali ke Indonesia karena banyak hal yang menunggu di Indonesia, termasuk ayahnya yang ketika itu memutuskan untuk tidak ikut pindah ke Australia.

Novi (depan, paling kanan) menambah pertemanan selama di Melbourne dengan ikut kegiatan mempromosikan budaya Indonesia. (Foto: Nur Fadilah)
Properti dan barang-barang milik
Hal kedua yang harus diurus adalah properti yang kita tinggali, dan barang-barang yang kita miliki, termasuk semua barang di dalam rumah dan kendaraan kita.
Teman-teman mahasiswa biasanya menyewa rumah selama di Australia, bukan membeli. Maka ketika harus kembali ke tanah air, rumah yang dihuni harus dikembalikan kepada agen properti yang mengurus penyewaannya.
Banyak teman-teman yang mengiklankan rumahnya untuk di take over teman lain. Hal ini biasanya lebih mudah dilakukan (mendapat pengganti penyewa) jika rumahnya dekat dengan kampus, berbiaya sewa yang tidak terlalu mahal, dan dalam kondisi yang baik. Alasan take over adalah benefit bagi kedua pihak, pihak penyewa saat ini dan calon penyewa berikutnya.
Apa keuntungannya dalam take over? Bagi penyewa saat ini, dia tidak perlu menyingkirkan semua barang-barang untuk mengosongkan rumah, dan bagi penyewa berikutnya, dia tidak perlu repot mencari barang-barang keperluan rumah tangga, mulai dari furniture sampai pada alat-alat dapur.
Pengalaman saya sendiri, saya tidak men-take over rumah orang dan tidak men-take over-kan rumah saya. Maka dulu saya sungguh sibuk mendari barang-barang untuk mengisi rumah (tempat tidur, meja kursi, kulkas, mesin cuci, dsb), termasuk juga perlengkapan memasak dan piring gelas yang saya gunakan sehari-hari. Mulai dari nol.
Dan ketika saya akan pergi, saya sibuk sekali membuang-buang barang-barang tersebut. Membuang dalam arti sesungguhnya, karena tidak akan dipakai lagi dan tidak ada yang hendak mengambilnya, ataupun 'dibuang' dalam arti dipindahtangankan ke teman-teman lain yang bisa menggunakannya.
Sehubungan dengan selesainya sewa rumah yang kita lakukan dengan agen properti, maka kita harus memutus semua sambungan di rumah. Hal ini termasuk listrik gas, air, internet, asuransi, telepon, dan mungkin ada beberapa langganan lain yang terhubng dengan properti tempat kita tinggal. Telepon untuk pemutusan dapat dilakukan jauh-jauh hari, dan meminta penyedia jasa untuk memutus langgananan kita pada tanggal tertentu ketika kita sudah meninggalkan peoperti tersebut. Tidak sulit melakukan pemutusan langganan dengan perusahaan penyedia listrik, air, dan gas. Asuransi-asuransi termasuk asuransi barang dan kendaraan juga perlu segera diputus.
Selain rumah, barang-barang seperti kendaraan harus segera dicarikan pembeli agar ketika saatnya kita meninggalkan Australia, semua kendaraan yang kita miliki telah terjual, agar kita tidak memiliki tanggungan ketika meninggalkan Australia.

Novi diwisuda menjadi PhD di Monash Uni. bulan November lalu. (Foto: Istimewa/Novi Rahayu)
Perpisahan
Saya tidak suka perpisahan, namun toh teman-teman bermaksud baik mengadakan acara untuk saya. Maka diadakanlah berbagai farewel party bagi saya, termasuk dua acara yang diadakan oleh teman-teman seruangan saya di fakultas Education, Monash University, dan yang diadakan oleh salah satu teman dari negara lain di Asia yang memasakkan khusus bagi teman-teman lain yang akan pulang ke Indonesia dalam waktu yang tidak lama lagi.
Demikianlah. Bagi kami, hal seperti ini seperti menjadi tradisi. Ngumpul terakhir sebelum seseorang kembali ke negara asalnya. Acara perpisahan mengingatkan kita bahwa kita memiliki teman yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan saat kita meninggalkan negeri tercinta pertama kalinya beberapa tahun silam.
Juga mengingatkan kita bahwa kita memiliki kedekatan dengan teman-teman yang kita miliki, yang semoga tetap terpelihara meskipun kelak sudah tidak tinggal sekota lagi.
Packing
Salah satu pekerjaan besar ketika akan pulang, selain mengosongkan rumah adalah memilah-milah dan membungkus barang-barang yang ingin dibawa ke Indonesia. Mulai dari buku, baju, mainan anak-anak, dan pernak-pernik lain, bahkan alat masak.
Barang-barang rumah yang tidak akan saya bawa pulang, saya 'sebar' ke seluruh penjuru Clayton, area di mana saya tinggal, dan barang-barang yang akan saya bawa ke Indonesia saya pack ke kardus untuk dikirim.
Maka sejak beberapa minggu sebelum pulang, saya menyeleksi dan memasukkan ke kardus barang-barang yang akan saya kirim ke Indonesia. Ternyata, setelah tinggal selama 4 tahun di Australia, barang-barang saya menggunung. Saya mengirimkan sekitar 350kg barang ke Indonesia melalui layanan kargo.
Mengenai packing dan mengirimkan kargo ke Indonesia, saya memiliki sedikit tips. Sebelum memutuskan untuk mengirmkan kardus-kardus berisi barang-barang kita, sebaiknya kita kosongkan semua lemari dan tempat penyimpanan di rumah.
Siapkan kopor-kopor yang akan kita bawa pulang bersamaan dengan kita dengan pesawat, dan siapkan kardus-kardus yang akan kita penuhi dengan barang-barang yang akan dikirim lewat jasa pengiriman kargo. Hal ini akan memperlihatkan kepada kita, apa saja nanti yang harus dimasukkan ke dalam kardus ataupun ke dalam kopor.
Dalam mensortir barang-barang kita, kita tentukan setiap barang, apa yang masuk kopor dan apa yang masuk kardus. Sehingga, rumah sudah 'kosong' dari barang-barang yang akan kita gunakan kembali di tanah air, dan semua baju yang akan kita bawa bersama kita sudah masuk ke kopor. Sejak 2-3 minggu sebelum keberangkatan, semua baju saya sudah masuk ke dalam kopor, dan saya mengambil baju ganti dan meletakkan cucian bersih ke dalam kopor. Lemari sudah bersih dari semua baju dan tas.
Dengan demikian, tidak ada barang tercecer yang masih harus dikirimkan lewat jasa pengiriman kargo. Intinya, jika rumah belum kelihatan 'sepi' dari barang, berarti masih banyak yang harus dimasukkan ke dalam kardus. Mulailah mensortir lagi.
* Novi Rahayu Restuningrum baru saja menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Monash di Melbourne, dan sekarang kembali bekerja di Universitas Yarsi Jakarta.
(nwk/nwk)
Teman-teman mahasiswa biasanya menyewa rumah selama di Australia, bukan membeli. Maka ketika harus kembali ke tanah air, rumah yang dihuni harus dikembalikan kepada agen properti yang mengurus penyewaannya.
Banyak teman-teman yang mengiklankan rumahnya untuk di take over teman lain. Hal ini biasanya lebih mudah dilakukan (mendapat pengganti penyewa) jika rumahnya dekat dengan kampus, berbiaya sewa yang tidak terlalu mahal, dan dalam kondisi yang baik. Alasan take over adalah benefit bagi kedua pihak, pihak penyewa saat ini dan calon penyewa berikutnya.
Apa keuntungannya dalam take over? Bagi penyewa saat ini, dia tidak perlu menyingkirkan semua barang-barang untuk mengosongkan rumah, dan bagi penyewa berikutnya, dia tidak perlu repot mencari barang-barang keperluan rumah tangga, mulai dari furniture sampai pada alat-alat dapur.
Pengalaman saya sendiri, saya tidak men-take over rumah orang dan tidak men-take over-kan rumah saya. Maka dulu saya sungguh sibuk mendari barang-barang untuk mengisi rumah (tempat tidur, meja kursi, kulkas, mesin cuci, dsb), termasuk juga perlengkapan memasak dan piring gelas yang saya gunakan sehari-hari. Mulai dari nol.
Dan ketika saya akan pergi, saya sibuk sekali membuang-buang barang-barang tersebut. Membuang dalam arti sesungguhnya, karena tidak akan dipakai lagi dan tidak ada yang hendak mengambilnya, ataupun 'dibuang' dalam arti dipindahtangankan ke teman-teman lain yang bisa menggunakannya.
Sehubungan dengan selesainya sewa rumah yang kita lakukan dengan agen properti, maka kita harus memutus semua sambungan di rumah. Hal ini termasuk listrik gas, air, internet, asuransi, telepon, dan mungkin ada beberapa langganan lain yang terhubng dengan properti tempat kita tinggal. Telepon untuk pemutusan dapat dilakukan jauh-jauh hari, dan meminta penyedia jasa untuk memutus langgananan kita pada tanggal tertentu ketika kita sudah meninggalkan peoperti tersebut. Tidak sulit melakukan pemutusan langganan dengan perusahaan penyedia listrik, air, dan gas. Asuransi-asuransi termasuk asuransi barang dan kendaraan juga perlu segera diputus.
Selain rumah, barang-barang seperti kendaraan harus segera dicarikan pembeli agar ketika saatnya kita meninggalkan Australia, semua kendaraan yang kita miliki telah terjual, agar kita tidak memiliki tanggungan ketika meninggalkan Australia.

Novi diwisuda menjadi PhD di Monash Uni. bulan November lalu. (Foto: Istimewa/Novi Rahayu)
Perpisahan
Saya tidak suka perpisahan, namun toh teman-teman bermaksud baik mengadakan acara untuk saya. Maka diadakanlah berbagai farewel party bagi saya, termasuk dua acara yang diadakan oleh teman-teman seruangan saya di fakultas Education, Monash University, dan yang diadakan oleh salah satu teman dari negara lain di Asia yang memasakkan khusus bagi teman-teman lain yang akan pulang ke Indonesia dalam waktu yang tidak lama lagi.
Demikianlah. Bagi kami, hal seperti ini seperti menjadi tradisi. Ngumpul terakhir sebelum seseorang kembali ke negara asalnya. Acara perpisahan mengingatkan kita bahwa kita memiliki teman yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan saat kita meninggalkan negeri tercinta pertama kalinya beberapa tahun silam.
Juga mengingatkan kita bahwa kita memiliki kedekatan dengan teman-teman yang kita miliki, yang semoga tetap terpelihara meskipun kelak sudah tidak tinggal sekota lagi.
Packing
Salah satu pekerjaan besar ketika akan pulang, selain mengosongkan rumah adalah memilah-milah dan membungkus barang-barang yang ingin dibawa ke Indonesia. Mulai dari buku, baju, mainan anak-anak, dan pernak-pernik lain, bahkan alat masak.
Barang-barang rumah yang tidak akan saya bawa pulang, saya 'sebar' ke seluruh penjuru Clayton, area di mana saya tinggal, dan barang-barang yang akan saya bawa ke Indonesia saya pack ke kardus untuk dikirim.
Maka sejak beberapa minggu sebelum pulang, saya menyeleksi dan memasukkan ke kardus barang-barang yang akan saya kirim ke Indonesia. Ternyata, setelah tinggal selama 4 tahun di Australia, barang-barang saya menggunung. Saya mengirimkan sekitar 350kg barang ke Indonesia melalui layanan kargo.
Mengenai packing dan mengirimkan kargo ke Indonesia, saya memiliki sedikit tips. Sebelum memutuskan untuk mengirmkan kardus-kardus berisi barang-barang kita, sebaiknya kita kosongkan semua lemari dan tempat penyimpanan di rumah.
Siapkan kopor-kopor yang akan kita bawa pulang bersamaan dengan kita dengan pesawat, dan siapkan kardus-kardus yang akan kita penuhi dengan barang-barang yang akan dikirim lewat jasa pengiriman kargo. Hal ini akan memperlihatkan kepada kita, apa saja nanti yang harus dimasukkan ke dalam kardus ataupun ke dalam kopor.
Dalam mensortir barang-barang kita, kita tentukan setiap barang, apa yang masuk kopor dan apa yang masuk kardus. Sehingga, rumah sudah 'kosong' dari barang-barang yang akan kita gunakan kembali di tanah air, dan semua baju yang akan kita bawa bersama kita sudah masuk ke kopor. Sejak 2-3 minggu sebelum keberangkatan, semua baju saya sudah masuk ke dalam kopor, dan saya mengambil baju ganti dan meletakkan cucian bersih ke dalam kopor. Lemari sudah bersih dari semua baju dan tas.
Dengan demikian, tidak ada barang tercecer yang masih harus dikirimkan lewat jasa pengiriman kargo. Intinya, jika rumah belum kelihatan 'sepi' dari barang, berarti masih banyak yang harus dimasukkan ke dalam kardus. Mulailah mensortir lagi.
* Novi Rahayu Restuningrum baru saja menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Monash di Melbourne, dan sekarang kembali bekerja di Universitas Yarsi Jakarta.











































