Peter Dundas Walbran, bekas terpidana paedofil asal Australia yang pernah dipenjara tiga tahun di Lombok, tertangkap di Thailand pekan ini atas tuduhan yang sama. Tahun 1990an dia terbukti menyodomi tiga anak laki-laki di Indonesia usia 8 dan 12 tahun.
Sumber ABC memastikan bahwa Peter Walbran, kini berada dalam tahanan polisi Thailand setelah ditangkap di daerah Ubon Ratchthani, sekitar 600 km di utara kota Bangkok.
Peter Dundas Walbran pernah bekerja di sekolah internasional di Jakarta tahun 1990an.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi Thailand yang mendapat bantuan informasi dari Kepolisian Australia (AFP) menggerebek sebuah apartemen di Ubon Rathanthani yang diduga menjadi tempat tinggal Peter.
Dia langsung ditahan atas tuduhan pornografi anak, namun belum ditetapkan sebagai tersangka.
Di tahun 1990an, Peter yang memiliki kewarganegaraan ganda Australia dan Selandia Baru, bekerja di sekolah internasional di Jakarta, dan dituduh menyodomi anak-anak di Jakarta, Bali dan Lombok.
Dia divonis tahun 2012 dan menjalani hukuman penjaran 3 tahun di Lombok.

Jamie Strauss, manager AFP untuk Asia Tenggara. (ABC News)
"Dia terlibat dalam sejumlah pelanggaran seksual, termasuk hubungan seks dengan anak-anak dan salah satu korbannya anak usia 8 tahun," kata manajer AFP untuk Asia Tenggara, Jamie Strauss.
"Dia goda korbannya yang saat itu berada di pantai di Lombok sedang menjual cinderamata," kata Strauss. "Dia kemudian membawa korbannya ke hotel dan melakukan hubungan seksual."
Peter dibebaskan dari penjara bulan Mei 2014 dan langsung dideportasi ke Australia.
"Saya kira masyarakat tidak ingin melihat orang seperti ini dibebaskan dari penjara, namun hukuman di tiap negara berbeda-beda untuk kasus seperti ini," kata Strauss lagi.
Setelah diusir dari Indonesia, tanpa terdeteksi ternyata Peter masuk ke Thailand dan bisa bekerja di sana sebagai guru di sekolah internasional di Ubon Ratchathani.
Polisi setempat harus menunggu sebuah UU terkait pornografi anak yang baru berlaku di Thailand pekan ini, sebelum bisa mengambil tindakan terhadap Peter.

Andy Ardian, from the child protection group Ecpat Indonesia, sees the fight against the scourge as a losing battle. (ABC News)
Sebuah LSM perlindungan anak, Ecpat Indonesia, menyebutkan bahwa pedofil asal Australia memang banyak mencari korban di negara Asia Tenggara, namun Indonesia merupakan tujuan utama mereka.
Menurut Andy Ardian, dari Ecpat Indonesia, pihaknya mendapatkan informasi adanya kelompok paedofil yang berkedok sebagai turis Australia yang datang ke Indonesia. "Jumlahnya sekitar 80an setiap bulan," katanya kepada ABC.
"Namun memang cukup sulit untuk membuktikan informasi ini," tambahnya.
Seorang petugas AFP yang berbasis di Jakarta Andrew Perkins menjelaskan, para pelaku asal Australia yang melakukan aksinya di Indonesia, diperkirakan membagi informasi kepada sesamanya paedofil di Australia.

Petugas AFP di Jakarta, Andrew Perkins.
"Kami duga kuat hal ini terjadi di Indonesia," katanya. "Pelaku melakukan aksinya dan membaginya secara online misalnya melalui Skype."
AFP dan pihak berwajib Indonesia tahun ini berhasil menyetop kedatangan paedofil asal Australia.
Menurut Gusti Bagus, kepala imigrasi di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, mengatakan pihak AFP selalu membagi informasi mengenai paedofil yang akan masuk ke Indonesia.
"Kami akan langsung memulangkan penumpang seperti itu dengan pesawat yang sama," katanya.
Namun keberhasilan imigrasi Indonesia ini diakui sulit diterapkan di sejumlah negara Asia Tenggara lainnya yang juga menjadi sasaran para paedofil. (nwk/nwk)











































